Perupa Senior Made Budhiana Merdekatan Mahasiswa ISI Denpasar

 Perupa Senior Made Budhiana Merdekatan Mahasiswa ISI Denpasar

Perupa senior Bali, Made Budhiana didapuk menjadi mitra dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sebanyak tiga mahasiswa dari Program Studi Seni Murni FSRD ISI Denpasar yang menimba ilmu seni disana, yaitu Fiqih Hikmawan, Amandus Lionisius Epo dan Renata Ayu Kristina. Meski memiliki segudang pengalaman, namun program ini juga menjadi tantangan baginya. “Membuka kemampuan mahasiswa itu yang paling berat,” katanya disela-sela ujian dan pameran TA tiga mahasiswa ISI Denpasar di Maha Art Gallery, Rabu 26 Januari 2022.

Program pemerintah dalam hal pendidikan dalam MBKM itu, ada dua kata yakni merdeka belajar dan kampus merdeka. Hal ini menjadi sebuah lompatan dalam hal pendidikan, sebab selama ini pendidikan formal itu selalu terjadi di kampus. Sekarang ini kampus, universitas bekerjasama dengan masyarakat yang menguasai bidangnya masing-masing entah itu di kesenian atau usaha. “Saya rasa sangat bagus. Ini suatu pola baru, sehingga pengetahuan itu tak hanya didapat dari kampus saja melalui teks book belajar terori saja, tetapi juga di luar kampus,” ucap pelukis yang terkenal dengan lukisan abstrak ini.

Teori di luar kampus sangat beragam, dan itu sangat penting bagi kenerasi sekarang ini. Sebab, kedepan proses belajara itu bisa dari mana-mana. Sebut saja, yang terjadi sekarang orang belajar dari internet. Untuk mendapatkan pengetahuan apapun bisa dari media itu, karena sangat luas. “Saya dipercaya untuk membimbing adik-adik mahasiswa, tentu semua yang saya jalani dalam berkesenian secara merdeka dan mandiri, itulah yang saya lakukan pada mereka. Saya hidup dari berkesnian bukan dari dosen atau guru di kampus dan di sekolah,” papar seniman yang meluncurkan buku “Melintas Cakrawala” ini.

Baca Juga:  Astra Roma Ballet Pergelarkan “BALLOON! (Komik)” di Festival Internasional Bali Padma Bhuwana II ISI Denpasar

Semua itu tentu tidak mudah dilakukan. Prosesnya juga lebih rumit dan berat, serta pencapaiannya juga sangat berat. Tetapi, ia merasa senang karena sekarang ini dapat kesempatan untuk memerdekakan anak didik, dari akademis. Generasi milenial kedepan akan mendapatkan pendidikan dari mana-mana. “Bagi generasi sebelumnya, saya harap bisa memberikan esensi, hal-hal yang mendasar dalam pendidikan itu, seperti semangat, spirit dan energi yang bisa datang dari manapun juga. Itulah yang saya berikan dan refrensikan pada mereka. Saya memperlihatkan buku pada mereka, karena saya punya banyak buku di studio. Mereka bisa belajar langsung dari melihat dan membaca buku-buku itu,” bebernya.

Walau demikian, Budhiana mengaku membuka kemampuan mahasiswa itu yang paling berat. Hal itu juga termasuk tantangan baginya saat membimbing mahasiswa ISI Denpasar itu. Mereka merupakan generasi yang berbeda dari generasi dirinya. Ia menyadari, setiap generasi itu akan ada tantangan dan hambatan-hambatan yang berbeda-beda. “Saya kemuddian membuka kemampuan mereka, sehingga mereka yang harus aktif sekarang. Jadi percepatan itu terjadi oleh mereka sendiri. Saya hanya menekan kesadaran. Intinya membangklitkan kreativitas mereka, dan ketika mereka memiliki bakat atau ide apapun itu, saya hanya mendorong untuk mengembangkannya dengan melakukan ekplosasi supaya mereka bisa mencapai apa yang diingikan,” imbuhnya.

Seniman dengan topi yang khas itu Perlu diingat, ide karya itu datangnya dari apa saja, bisa dari tradisi, modern dan entah dari kehidupan jaman sekarang. “Untungnya dari ketiga anak ini, semuanya siap dalam waktu pendek, yakni selama 3 bulan sudah bisa menyelasikan karya yang bagus. Walau demikian perlu juga dari ISI Denpasar melakukan penyempurnaan teknis saja, seperti dalam bidang skripsinya,” pungkas seniman dengan topi yang khas itu. [B/*]