TRABASENJA Rilis ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’: Padukan Energi Musik Rock Modern dan Warna Gamelan Bali

 TRABASENJA Rilis ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’: Padukan Energi Musik Rock Modern dan Warna Gamelan Bali

Ttrabasenja rilis Lagu ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’/Foto: darma

SETELAH lagu “Ogoh-ogoh” yang diciptakan pada tahun 1988 oleh dua musisi Bali, Ian Bero dan Okid Kres, Bali kini memiliki lagu terbaru berjudul “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”. Lagu yang memadukan unsur musik rock dengan gamelan Bali itu dirilis oleh band rock Trabasenja.

Ogar Ogar Ogoh Ogoh merupakan single terbaru dari band rock independen Bali, TRABASENJA yang resmi diluncurkan pada 12 Maret 2026 di studio milik gitaris sekaligus penulis lagu mereka, A.A. Eka Paramartha atau yang dikenal sebagai Eka Poglax.

“Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami. Tetapi, setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama,” ujar Eka Poglax bersama anggota TRABASENJA di sela-sela peluncuran lagu dan video clip itu.

Lagu ini menyampaikan pesan terhadap nilai-nilai yang ada. Ogoh-ogoh merupakan perpaduan seni rupa tinggi dan ritual spiritual yang melambangkan penghancuran sifat negatif manusia (Bhuta Kala) dan energi kotor di alam semesta sebelum Nyepi, Tahun Baru Saka.

Ogoh-ogoh diarak saat malam Pengerupukan sebelum Nyepi, patung besar ini melambangkan penyucian diri, netralisasi energi buruk, dan pentingnya menjaga keseimbangan alam, serta nilai gotong royong. Setelah diarak, ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol penyucian diri dan keseimbangan alam.

Lagu yang sengaja dihadirkan menjelang Hari Raya Nyepi menyajikan perpaduan menarik antara energi musik rock modern dengan warna gamelan Bali serta semangat tradisi ogoh-ogoh yang hidup di masyarakat.

TRABASENJA digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, serta Gung Eka Poglax pada gitar. Mereka adalah komunitas motor trail Trail Club Adventure (TCA) yang terbentuk pada 2025, yang kini merilis lagu.

Baca Juga:  Taksu Jagaraga, Pameran Asosiasi Seniman Singapadu di ARMA Ubud
Lagu ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’ dilantunkan dengan gitar akustik di acara konferensi pers, Kamis 12 Maret 2026/Foto: darma

Band ini memiliki latar belakang yang cukup unik karena tidak lahir dari panggung musik, melainkan dari komunitas motor trail. “Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami. Setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama,” ujarnya.

Di sela kegiatan berkendara dan menjelajah alam, para anggota komunitas tersebut ternyata memiliki minat yang sama terhadap musik dan kemudian memutuskan untuk membentuk band. “Di usia yang semakin berumur, kami ingin mengibur dan bikin sesuatu yang positif,” ucapnya.

Single terbaru mereka, Ogar Ogar Ogoh Ogoh, menjadi salah satu eksplorasi musikal yang mencoba menangkap energi tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun menjadi ruang kreativitas anak-anak muda di banjar-banjar Bali menjelang malam pengerupukan.

Melalui lagu ini, TRABASENJA ingin merespons semangat tersebut lewat pendekatan musik rock yang tetap membawa identitas lokal. Melalui karya musik ini diharapkan dapat diterima masyarakat, sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya Bali.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bagi kami bukan sekadar tontonan. Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menerjemahkan energi itu lewat musik rock, tapi tetap membawa nuansa Bali di dalamnya,” kata Eka.

Secara musikal, lagu ini dibangun dengan struktur yang dinamis. Aransemen dibuka dengan permainan gitar dan vokal yang menciptakan suasana gelap dan kontemplatif sebelum perlahan berkembang menjadi komposisi yang lebih eksplosif. Drum dan bass membangun groove yang semakin kuat, sementara gitar elektrik memberi tekanan energi yang lebih besar.

Perpaduan antara riff gitar rock dan aksen gamelan Bali menjadi salah satu kekuatan utama lagu ini. Unsur gamelan yang diaransemen oleh Tut Nyong hadir sebagai lapisan ritmis yang memperkaya komposisi, menciptakan atmosfer yang terasa ritualistik sekaligus energik.

Baca Juga:  Empat Komunitas Meriahkan Malam Pentas Seni Festival ke Uma 3

Pada bagian chorus, lagu ini mencapai puncaknya melalui chant “Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!” yang terasa seperti seruan kolektif yang mudah diteriakkan bersama.

Struktur tersebut membuat lagu ini memiliki potensi kuat untuk menjadi semacam anthem yang dapat dinyanyikan bersama, terutama dalam suasana arak-arakan ogoh-ogoh di malam pengerupukan.

Proses kreatif relatif cepat

Eka Poglax mengaku proses kreatif lagu ini sendiri berlangsung relatif cepat. Dari penulisan lirik hingga proses rekaman musik, seluruh produksi hanya memakan waktu sekitar satu bulan. Para personel band sendiri tidak menyangka bahwa proyek tersebut akan berkembang hingga pembuatan video klip dan konferensi pers.

“Kami sebenarnya tidak menyangka akan sampai sejauh ini. Awalnya hanya membuat lagu, lalu berkembang menjadi video klip dan akhirnya ada press conference seperti ini,” ujarnya.

Bagi drummer TRABASENJA, Cokde Kagawa, keterlibatan dalam produksi video klip juga menjadi pengalaman baru yang cukup berkesan bagi mereka. “Ini pengalaman pertama kami terlibat dalam produksi video klip seperti ini. Prosesnya sangat menyenangkan dan memberi pengalaman baru bagi kami sebagai band,” kata Cokde.

Video klip lagu ini menghadirkan visual yang simbolik dengan menampilkan sosok raksasa sebagai representasi energi Bhuta Kala yang merasuki manusia. Sosok tersebut diperankan oleh seniman penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga.

Arak-arakan dalam video juga melibatkan truna-truni Desa Batuyang serta anggota komunitas Trail Club Adventure sehingga menghadirkan nuansa kolaborasi komunitas yang kuat.

Dalam kesempatan yang sama, Eka Poglax juga menyampaikan refleksi tentang bagaimana energi masyarakat Bali sering kali muncul dalam berbagai bentuk tradisi, termasuk metajen. Namun menurutnya, energi tersebut juga bisa disalurkan melalui jalur kreativitas.

“Budaya Bali itu penuh energi. Ada ogoh-ogoh, ada metajen, dan banyak tradisi lain yang menunjukkan keberanian dan semangat hidup. Kami berpikir, daripada energi itu dipakai untuk hal-hal seperti metajen, lebih baik disalurkan ke musik dan berkarya bersama,” ujar Eka.

Baca Juga:  Menari Janger, Muda-mudi Jimbaran Bercerita Tradisi Siat Yeh

Bagi mereka, musik menjadi ruang untuk merayakan kebersamaan sekaligus menjaga semangat kreativitas.“Pada akhirnya kami hanya ingin terus berkarya. Walaupun usia kami sudah tidak muda lagi, kami merasa lebih baik menyalurkan energi itu lewat musik daripada tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Melalui lagu Ogar Ogar Ogoh Ogoh, TRABASENJA berharap karya mereka dapat menjadi bagian dari atmosfer menjelang malam pengerupukan dan ikut meramaikan playlist yang diputar di banjar-banjar ketika ogoh-ogoh diarak di jalan-jalan desa.

Dengan perpaduan energi rock, nuansa gamelan Bali, serta semangat komunitas yang kuat, lagu ini menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal dapat menemukan bentuk ekspresi baru melalui musik kontemporer.

Konferensi pers peluncuran lagu ini juga dihadiri oleh Bendesa Adat Batuyang Sukawati, Gianyar, Bapak Guru Made Sukarta. Apresiasinya terhadap karya tersebut dan menilai karya kreatif seperti ini dapat membantu menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah generasi muda.

“Kami sangat mendukung karya seperti ini karena bisa ikut menghidupkan kreativitas anak-anak muda di banjar, khususnya dalam tradisi ogoh-ogoh,” ujar Made Sukarta. [B/darma]

Related post