Peed Aya PKB 2026 Dirancang Lebih Dinamis

 Peed Aya PKB 2026 Dirancang Lebih Dinamis

Peed Aya Duta Kota Denpasar usung ‘Ngerebong’ pada PKB XLVII/Foto: doc.hms Denpasar

PEED Aya (Pawai) Peserta Kesenian Bali (PKB) ke-48 dirancang lebih dinamis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kontingen peserta tidak lagi terlalu lama berhenti untuk melakukan display atau pertunjukan statis di titik tertentu.

“Kami sudah berdiskusi dengan seluruh penggarap pada saat tim kurator telah turun langsung ke kabupaten/kota untuk memberikan arahan kepada para pembina dan penggarap sejak beberapa minggu lalu,” kata Kurator PKB, Prof. I Made Bandem pada rapat persiapan di Kantor Dinas Kabudayaan (Disbud) Bali, Jumat 5 Mei 2026.

Saat itu, Prof. Bandem yang mendampingi Kepala Disbud Bali, Ida Bagus Alit Suryana bersama Prof. I Wayan Dibia menegaskan, saat itu, tim kurator memberikan berbagai masukan agar setiap kontingen dapat menyesuaikan konsep pertunjukannya dengan karakter pawai berjalan.

Tim kurator meminta para penggarap mengambil bagian-bagian puncak dari cerita atau materi yang dibawakan, sehingga dapat tetap menampilkan berjalan sambil bergerak. Dengan demikian pawai akan lebih hidup dan tidak menimbulkan antrean panjang.

“Waktu ideal yang kami tetapkan sekitar 15 menit. Namun sering kali ada yang tampil sampai 18 menit, 20 menit bahkan 22 menit. Tahun ini kami berupaya agar durasi lebih terkendali sehingga seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang seimbang,” tegasnya.

Prof. Bandem mengakui selama ini masih ada sejumlah kontingen yang tampil melebihi waktu yang telah ditentukan. “Padahal dalam satu kontingen bisa melibatkan ratusan peserta, sehingga berpotensi mengganggu kelancaran keseluruhan rangkaian pawai,” ungkapnya.

Sementara Prof. Dibia merasa optimistis Peed Aya tahun ini akan tampil lebih baik karena proses latihan dan peragaan telah dilakukan dalam format berjalan, bukan lagi hanya di dalam wantilan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Prosesi yang ditampilkan akan lebih realistis karena sejak latihan sudah menggunakan pola bergerak di lapangan. “Kami berharap pawai ini benar-benar menjadi pertunjukan berjalan, bukan pertunjukan panggung yang dipindahkan ke jalan,” ujarnya.

Tim kurator juga meminta kepada para peserta agar tidak menggunakan dalang atau dialog panjang yang menyebabkan rombongan berhenti terlalu lama. Hal ini dirasa perlu untuk menjaga kelancaran arus pawai.

“Narasi tetap diperbolehkan, tetapi penggunaan dalang tidak dianjurkan karena bisa memicu dialog yang membuat peserta berhenti di satu titik. Ini akan menghambat alur pawai,” jelas Prof. Dibia.

Aspek kenyamanan penonton juga menjadi perhatian pabitia PKB 2026. Penonton ditempatkan di area tribun yang telah disiapkan sepanjang jalur pawai, sehingga peserta dapat menampilkan atraksi hingga ke ujung rute tanpa terganggu oleh kerumunan yang masuk ke badan jalan.

“Dengan penataan tribun yang lebih baik, masyarakat bisa menikmati atraksi sampai akhir lintasan. Ini akan mendukung tujuan kami menghadirkan Peed Aya sebagai pertunjukan budaya berjalan yang tertib, dinamis, dan menarik,” katanya.

Berbagai pembenahan tersebut diharapkan mampu menghadirkan wajah baru PKB XLVIII Tahun 2026, baik dari sisi pelayanan kepada seniman maupun kualitas penyelenggaraan Peed Aya sebagai salah satu atraksi utama yang selalu dinantikan masyarakat Bali dan wisatawan.

Di awal rapat, Kadisbud Bali, Ida Bagus Alit Suryana mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali melalui Disbud Bali terus melakukan berbagai pembenahan menjelang pelaksanaan PKB XLVIII yang akan dibuka pada 13 Juni mendatang.

Selain memperkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian, panitia juga melakukan penataan konsep pawai budaya (Peed Aya) agar lebih atraktif dan sesuai dengan karakter pawai berjalan.

“Salah satu kendala yang selama ini kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni adalah persoalan kelengkapan dokumen administrasi,” ucapnya.

Banyak kelompok seni yang sebenarnya telah siap mendapatkan dukungan pemerintah, namun proses pencairan dan fasilitasi sering terkendala karena dokumen yang belum lengkap.

“Pengalaman kami selama ini, ketika semua sudah siap, sering kali masih ada dokumen yang belum dipenuhi. Padahal sebagai pemerintah, kami harus bekerja berdasarkan aturan dan kelengkapan administrasi,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka menerapkan pola pendampingan yang lebih awal. Kelompok-kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada tahun berikutnya akan diminta menyiapkan dokumen sejak dini sehingga proses administrasi dapat berjalan lebih lancar.

“Kami sudah bisa memetakan kelompok-kelompok yang kemungkinan akan tampil pada tahun berikutnya. Karena itu, sejak awal kami akan meminta kelengkapan dokumen sehingga ketika proses fasilitasi dimulai semuanya sudah siap. Ini bagian dari inovasi pelayanan kami kepada para seniman dan pekerja budaya,” paparnya. [B]

Related post