Parade Palegongan Klasik Khas Menjadi Gengsi di PKB Ke-48

 Parade Palegongan Klasik Khas Menjadi Gengsi di PKB Ke-48

Parade palegongan klasik khas menjadi gengsi di PKB Ke-48/Foto: dar

Utsawa (Parade) Palegongan Klasik Khas dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 juga mememiliki gengsi. Lihat saja pada penampilan Sanggar Seni Ghora Yowana Budaya, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara sebagai Duta Kabupaten Jembrana bersama Sanggar Seni Tari Dharmawangsa, Banjar Sedang Kelod, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal sebagai Duta Kabupaten Badung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 28 Juni 2026 yang dipadati penonon.

Masing-masing duta seni saling menyajikan karya terbaik, sehingga menjadi magnet untuk memikat penonton. Setiap duta menyajikan tari palegongan kreasi, tabuh palegongan klasik, dan tari palegongan klasik. Semua karya itu mendapat sambutan hangat penonton. Bahkan, tidak sedikit yang fanatik, sehingga setiap penampilannya selalu menuai tepuk dan sorak penonton menyemangati.

Salah satu kurator PKB ke-48, Prof. Dr. I Wayan Dibia mengatakan, dalam Parade Palegongan Klasik Khas ini ada yang menyajikan legong kerasi yang masih kental dengan legong klasiknya, dan ada pula legong kreasi yang memang dicoba hal-hal baru. “Itu yang menyebabkan variasinya sangat banyak dan perlu diapresiasi, karena itu nantinya akan ditentukan oleh jaman. Jaman itu yang akan menentukan kalau masyarakat sudah mulai merasakan nikmat, maka itu akan diterima,” katanya.

Baca juga:

Tetapi, lanjut Prof, Dibia, yang jelas masing-masing daerah yang ikut dalam Parade Palegongan Klasik Khas ini sudah menampilkan upayanya untuk menyajikan satu kreasi. Tetapi, bagi yang menampil repertual-repertual klasik itu baik yang tari maupun tabuh sudah sangat kental legongnya. “Sekarang, penontonnya lebih banyak karena itu memang menjadi suatu hal yang positif, bahwa bagaimana rasa legong sudah menarik minat penonton banyak,” ucapnya.

Malam itu, Sanggar Seni Ghora Yowana Budaya di bawah tanggung jawab I Gede Satria Budhi Utama sebagai Duta Seni Kabupaten Jembrana, dan Sanggar Seni Tari Dharmawangsa sebagai Duta Seni Kabupaten Badung tampil saling bergantin yang membuat pementasan malam itu lebih berwarna dan hidup.

Jembrana mengawali pementasannya dengan Tabuh Kulicak merupakan sebuah tabuh petegak Pelegongan Klasik yang lahir pada era 1970-an. Karya ini diciptakan oleh maestro tabuh Bali, I Gusti Putu Made Geria, yang dikenal sebagai salah satu murid dari seniman tabuh legendaris I Wayan Lotring. Inspirasi penciptaan tabuh ini berawal dari keindahan suara dan kicauan burung kulicak yang lincah serta merdu. Tabuh Kulicak pertama kali dipentaskan oleh tim kesenian RRI Denpasar.

Selanjutnya Jembrana menyajikan Tari Legong Bapang Saba merupakan salah satu tari legong klasik khas Desa Adat Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Tari ini diciptakan pada era 1930-an oleh I Gusti Bagus Jelantik. Lalu, menampilkan Tabuh Kreasi Pelegongan “Pengalantaka” karya I Komang Diki Putra Sentana serta Tari Kreasi Palegongan Mamerko karya Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani, sebagai ungkapan penghormatan mendalam terhadap salah seorang seniman Berko yakni Ni Ketut Nepa, yang akrab disapa Dadong Barak.

Duta Seni Kabupaten Badung menawali dengan Tari Palegongan Kreasi “Nyrigśa” yang ditata oleh Ida Bagus Yodhie Harischandra dan Ida Bagus Hery Yoga sebagai penata tabuh. Lalu menyajikan Tabuh Palegongan Klasik “Solo”, salah satu karya monumental dari maestro gamelan Bali asal Kuta, I Wayan Lotring. Karya ini tercipta dari kekagumannya terhadap gaya tabuh Keraton Jawa setelah pementasan rombongannya di Solo pada 1926.

Kemudian menyajikan Tari Palegongan Klasik “Legod Bawa” dan dilanjutkan dengan menyajikan Tabuh Palegongan Kreasi “Rong Telu” karya I Wayan Mulyadi yang mendekontruksi rong telu bukan sebagai ritus kematian, melainkan sebagai dialektika metafisika radikal.

Related post