BURU-JIWA-BUMI: Ketika Seni Menjadi Perjalanan Menemukan Makna

 BURU-JIWA-BUMI: Ketika Seni Menjadi Perjalanan Menemukan Makna

Empat seniman Bali dan Korea Selatan menggelar pameran “Buru-Jiwa-Bumi” di Nata-Citta Art Space (N-CAS), ISI Bali/Foto: dar

EMPAT seniman Indonesia (Bali) dan Korea Selatan menggelar pameran seni kolaboratif bertajuk “BURU-JIWA-BUMI” di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Pameran yang merupakan bagian dari rangkaian agenda Bali-Bhuwana Rupa #2 itu dibuka secara resmi oleh tokoh seni Bali, Anak Agung Gde Rai selaku pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), Jumat 16 Oktober 2026.

Melalui keramik, gerabah, fotografi, dan lukisan, Hyonsun Kim, Young Choi, I Ketut Muka Pendet, serta Wayan Kun Adnyana menghadirkan cara pandang yang berbeda terhadap alam dan kehidupan. Karya-karya mereka tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga mengajak pengunjung menelusuri sesuatu yang lebih dalam, yakni hubungan manusia dengan lingkungan, warisan budaya, dan dirinya sendiri.

Pameran yang dikuratori oleh Prof. Koh Young Hun dan Warih Wisatsana ini sekaligus menjadi ruang perjumpaan budaya Indonesia dan Korea Selatan. Di sini, perbedaan latar belakang tidak menjadi jarak, melainkan titik awal untuk saling mengenal dan menjalin persahabatan melalui bahasa seni.

Mencari yang tersembunyi di balik bentuk

Kurator pameran, Warih Wisatsana yang dalam tulisannya mengatakan, gagasan BURU-JIWA-BUMI berawal dari percakapan bersama Wayan Kun Adnyana dan Koh Young Hun. Dari pembicaraan tentang kemungkinan mempertemukan empat seniman dengan pengalaman dan medium berbeda, muncul ingatan tentang puisi dan penyair Umbu Landu Paranggi.

Puisi, dalam pandangan Warih, bukan sekadar permainan kata atau susunan bentuk. Ia merupakan cara mengalami kehidupan, memburu kemungkinan, menyelami jiwa, dan mengolah kenyataan menjadi pengalaman yang lebih bermakna.

Pemikiran tersebut kemudian menjadi dasar pameran ini. Kata buru dapat dibaca sebagai pencarian, jiwa sebagai kedalaman pengalaman batin, dan bumi sebagai ruang kehidupan tempat manusia berhubungan dengan alam serta sesamanya.

Warih juga menyinggung wabi-sabi, pandangan estetika yang menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, kefanaan, dan perubahan. Keindahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang rapi atau sempurna. Retakan, ketidakteraturan, dan jejak waktu justru dapat memperkaya karakter sebuah karya.

Dalam seni, alam pun tidak harus ditiru persis sebagaimana terlihat. Ia dapat diolah, ditafsirkan, bahkan diubah melalui pengalaman dan imajinasi seniman. Dari proses itulah sesuatu yang akrab bisa menghadirkan makna baru.

Hyonsun Kim: Keindahan yang tumbuh dari tanah

Dalam tulisan itu dikatakan, tanah liat memiliki sifat yang sederhana sekaligus menantang. Ia lunak ketika disentuh, mudah berubah bentuk, tetapi akan menjadi kokoh setelah melalui proses pengeringan dan pembakaran. Bagi Hyonsun Kim, perjalanan material ini menjadi bagian penting dari penciptaan karya keramiknya.

Latar belakang Kim dalam desain komunikasi visual terlihat dari perhatiannya terhadap komposisi, warna, tekstur, dan bentuk. Namun, ketika berhadapan dengan tanah liat, rancangan tidak sepenuhnya menentukan hasil akhir. Karakter bahan dan proses pengerjaan ikut membentuk karya.

Warih mencontohkan, dalam Fragmented Bowl (2019), kepingan-kepingan keramik disatukan menjadi bentuk melengkung. Sambungan dan permukaan yang tidak rata tetap dibiarkan terlihat. Bagian-bagian yang semula terpisah justru memperoleh makna ketika menjadi satu kesatuan.

Pendekatan berbeda muncul dalam Journey of the Kiwis (2021), yang menampilkan figur menyerupai burung kiwi dalam susunan berulang. Sementara itu, Pointillist Reptile (2020) menghadirkan bunglon dengan bentuk jenaka dan permukaan bertabur titik-titik warna.

Pada The Blue Harvest (2022), bentuk labu diolah menjadi keramik berlapis glasir biru keabu-abuan. Permukaannya yang berbintik, garis-garis lembut, dan tangkai berpilin mempertemukan kesan tenang dengan sentuhan humor.

Warih menegaskan, karya-karya Kim memperlihatkan bahwa material tidak sekadar mengikuti gagasan seniman. Tanah liat turut menentukan arah penciptaan, menghadirkan bentuk yang lahir dari pertemuan antara rancangan, sentuhan, dan karakter bahan.

Young Choi: Melihat benda melalui cahaya

Jika Hyonsun Kim membentuk benda melalui tanah liat, Young Choi menghadirkan pengalaman baru terhadap benda melalui fotografi. Kamera baginya bukan sekadar alat untuk merekam, melainkan medium untuk mengubah cara kita melihat sesuatu.

Warih menyebutkan, cahaya, bayangan, sudut pengambilan gambar, dan ruang di sekitar objek menjadi bagian penting dalam membangun suasana. Sebuah benda yang sederhana dapat terasa berbeda ketika ditempatkan dalam komposisi yang tepat.

Hal itu terlihat dalam Pure Fullness (2026), yang menampilkan Moon Jar, keramik porselen putih tradisional Korea yang dikenal sejak masa Dinasti Joseon. Dengan latar hitam, bentuk putihnya tampak seolah memancarkan cahaya dari dalam.

Dalam Golden Stardust (2026), jejak keemasan pada keramik hitam bertemu dengan permukaan hanji, kertas tradisional Korea yang memiliki tekstur serat halus. Perpaduan warna dan tekstur menciptakan kesan seolah benda-benda tersebut sedang berbicara dalam keheningan.

Empat seniman Bali dan Korea Selatan menggelar pameran “Buru-Jiwa-Bumi” di Nata-Citta Art Space (N-CAS), ISI Bali/Foto: dar

Sementara itu, Echoes of Grace (2022) mempertemukan lipatan kain putih dengan lekuk wadah porselen. Hubungan keduanya terbentuk melalui kemiripan tekstur, permainan cahaya, dan kelembutan bentuk.

Warih mengatakan, Choi juga mengeksplorasi bagaimana objek dapat terlihat samar melalui lapisan di antara kamera dan benda, seperti dalam Pixelated Full Moon (2026) dan Veil of Rain and Grid (2026). Dalam Embracing Nature (2024), keramik hadir berdampingan dengan kehijauan hutan, mempertemukan benda buatan manusia dengan lanskap alam.

Dalam fotografi Choi, ruang kosong memiliki peran yang sama pentingnya dengan objek. Kekosongan bukan sekadar bagian yang tidak terisi, melainkan ruang yang memungkinkan bentuk, cahaya, dan bayangan hadir dengan lebih kuat. Hasilnya bukan hanya dokumentasi keramik, tetapi penafsiran ulang atas benda melalui bahasa fotografi.

I Ketut Muka Pendet: Ingatan yang tersimpan dalam tanah

Warih dalam tulisannya itu juga menyebutkan, bagi I Ketut Muka Pendet, tanah juga menyimpan hubungan dengan tradisi dan kehidupan spiritual. Hal ini terlihat dalam karya gerabah Kumba Carat, yang berangkat dari bentuk kumba, wadah air suci dalam ritual Hindu Bali.

Kumba bukan sekadar wadah. Di dalamnya terdapat makna tentang air sebagai sumber kehidupan, sarana penyucian, dan penghubung manusia dengan alam semesta.

Melalui tanah liat, Muka Pendet menghadirkan kembali bentuk tersebut dengan lengkung organik, tekstur alami, dan jejak hias yang mengingatkan pada tradisi Bali. Namun, karyanya tidak berhenti sebagai pengulangan bentuk masa lalu. Tradisi menjadi sumber pemikiran yang terus dapat dibaca dalam konteks kehidupan masa kini.

Proses pembakaran tanah liat juga menyimpan makna tersendiri. Material yang semula lunak berubah menjadi benda yang lebih kokoh. Perubahan ini dapat dibaca sebagai gambaran pengalaman hidup: proses yang dilalui seseorang dapat mengubah dirinya tanpa harus menghapus asal-usulnya.

Melalui gerabah dan keramik, Muka Pendet mempertemukan keterampilan material dengan ingatan budaya. Karya-karyanya mengingatkan bahwa benda tradisional tidak hanya memiliki nilai guna atau nilai sejarah. Di dalamnya terdapat pengetahuan, kepercayaan, dan cara masyarakat memahami kehidupan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang wadah air juga membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas, yakni bagaimana manusia memperlakukan sumber kehidupan yang menopang keberadaannya?

Wayan Kun Adnyana: Menjelajahi waktu di atas kanvas

Di tulisan itu, Warih mengatakan perjalanan artistik Wayan Kun Adnyana menunjukkan bagaimana abstraksi dapat tumbuh melalui proses panjang. Sejak seri Hana Tan Hana (2008), ia telah mengeksplorasi gagasan Ada dan Tiada melalui jalinan garis yang rapat dan berlapis.

Pada seri berikutnya, seperti Citra Yuga dan Wastu Waktu, abstraksi hadir bersama figur, relief, dan beragam metafora visual. Seiring waktu, bentuk-bentuk tersebut semakin meluruh, memberi ruang bagi warna dan gestur garis untuk mengambil alih bidang kanvas.

Perkembangan itu mencapai babak penting pada 2025, ketika Kun semakin menempatkan abstraksi sebagai pusat penciptaan. Melalui seri Guwung Suwung, ia tidak sekadar menghilangkan bentuk yang dikenali, tetapi mencoba menyelami pengalaman yang berada di balik penampakan benda.

Sapuan kuas, torehan, lapisan, dan kikisan warna membangun lanskap yang mengingatkan pada bebatuan, tanah, serta jejak alam purba. Kanvas seolah menjadi situs arkeologis, tempat setiap lapisan menyimpan jejak waktu dan pengalaman.

Proses menumpuk serta mengikis warna menciptakan gambaran tentang bagaimana waktu bekerja: sesuatu terbentuk melalui lapisan pengalaman, berubah, lalu meninggalkan jejak yang tetap dapat dibaca.

Eksplorasi itu berlanjut dalam seri Blue–Purple atau Pulung-Pelung, dengan warna biru sebagai unsur dominan. Dalam Voyage of Blue Purple (2026), berukuran 150 × 150 sentimeter, hamparan biru bertemu dengan aksen ungu, putih, dan gelap. Lapisan-lapisan tersebut membentuk ruang visual yang dinamis, seolah mengajak mata menjelajahi kedalaman tanpa batas yang pasti.

Dalam karya Kun, abstraksi bukan berarti menjauh dari kenyataan. Sebaliknya, ia membuka kemungkinan untuk merasakan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui bentuk yang konkret. [dar]

Related post