“Sejak Padi Mengakar”: Inkubasi Karya Tahap I dari Bang Dance di Mulawali Institute & Creative Space

 “Sejak Padi Mengakar”: Inkubasi Karya Tahap I dari Bang Dance di Mulawali Institute & Creative Space

Sejak Padi Mengakar – 2024?Foto: dok. Bang Dance

BANG Dance menyelenggarakan Inkubasi Karya Tahap I untuk pengembangan karya Sejak Padi Mengakar pada 19–22 Februari 2026 bertempat di Mulawali Institute & Creative Space, Denpasar. Kegiatan ini dirangkaikan dengan Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial yang berlangsung selama periode Februari–April 2026.

Melalui Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial, Bang Dance membaca ulang tubuh, subak, tanah, dan perubahan lanskap agraris Bali sebagai dasar penciptaan karya tari kontemporer.

“Sejak Padi Mengakar tidak kami mulai dari bentuk pertunjukan, tetapi dari pertanyaan tentang tubuh: apa yang masih tersimpan dalam tubuh ketika sawah berubah, ketika tanah bergeser fungsi, dan ketika hubungan antargenerasi dengan subak mulai terputus,” ujar Gusbang Sada, koreografer Sejak Padi Mengakar sekaligus pendiri Bang Dance ini.

Gusbang menegaskan, program ini menjadi tahap awal dalam proses penciptaan karya Sejak Padi Mengakar, sebuah proyek artistik Bang Dance yang berangkat dari kegelisahan atas perubahan lanskap agraris di Bali, terutama alih fungsi lahan pertanian yang terus menggeser relasi masyarakat dengan sawah, tanah, air, dan sistem subak.

Suasana Inkubasi/Foto: dok. Mulawali Institute

Melalui inkubasi ini, Bang Dance tidak menempatkan persoalan agraria sebagai isu yang dibaca dari kejauhan, melainkan sebagai pengalaman yang dekat, personal, dan menubuh—berangkat dari rumah, keluarga, desa, serta ingatan yang hidup di sekitar tubuh para pelakunya.

Dalam konteks tersebut, Sejak Padi Mengakar berupaya membaca kembali subak bukan semata sebagai sistem irigasi atau identitas budaya, melainkan sebagai sistem relasi hidup yang menghubungkan tanah, air, kerja, ritme, spiritualitas, dan kehidupan komunal.

Subak dipahami sebagai pengetahuan yang tidak hanya bekerja dalam tata kelola pertanian, tetapi juga dalam cara masyarakat membangun hubungan dengan alam, sesama, waktu, dan praktik hidup sehari-hari.

Inkubasi Tahap I difokuskan sebagai tahap pembukaan konteks dan pembacaan tubuh. Selama empat hari, proses diarahkan untuk mempertemukan peserta dengan fondasi dramaturgis karya: bagaimana tubuh membaca dunia agraris, bagaimana pengalaman hidup tersimpan sebagai memori tubuh, serta bagaimana perubahan ruang dan keterputusan generasi bekerja langsung di dalam tubuh kontemporer.

Baca Juga:  Pameran Seni dalam Peluncuran Fasilitas Black Soldier Fly di Kulidan Kitchen and Space

Dengan demikian, inkubasi ini tidak semata menjadi forum diskusi konseptual, tetapi juga menjadi laboratorium pengalaman. Tubuh diperlakukan bukan sebagai alat ilustrasi untuk menyampaikan isu, melainkan sebagai lokasi pengetahuan, arsip sosial, dan medium yang mengolah peristiwa.

Dalam kerja artistik Bang Dance, pendekatan ini menjadi penting karena Sejak Padi Mengakar tidak dibangun dari keinginan untuk sekadar “menampilkan” sawah atau “menggambarkan” petani secara literal. Sebaliknya, karya ini berusaha menelusuri bagaimana krisis agraria, komodifikasi tanah, tekanan terhadap subak, dan keterputusan relasi antargenerasi meninggalkan jejak pada tubuh.

Dari proses tersebut, tubuh tidak lagi diposisikan hanya sebagai penyampai pesan, tetapi sebagai ruang yang memproduksi pengalaman: tubuh yang mengingat tetapi tidak utuh, tubuh yang dekat dengan tanah tetapi mengalami kehilangan orientasi, serta tubuh yang mencoba merawat hubungan dengan lanskap yang perlahan berubah.

Sebagai tahap awal, inkubasi ini menjadi penting karena membangun landasan bagi proses penciptaan berikutnya. Pertemuan-pertemuan dalam fase ini diarahkan untuk menggeser cara pandang dari pengetahuan menuju pengalaman, dari representasi menuju kondisi, dan dari simbol menuju relasi.

Melalui diskusi, observasi, pemetaan biografis, dan eksplorasi tubuh, para peserta diajak memahami bahwa praktik koreografi tidak harus selalu berangkat dari bentuk yang sudah jadi. Koreografi dapat tumbuh dari tubuh yang terlebih dahulu mengalami, menyerap, dan menginternalisasi dunia di sekitarnya.

“Proses ini tidak dimulai dari pencarian bentuk pertunjukan, melainkan dari pembacaan atas tubuh dan pengalaman hidup yang berhubungan dengan tanah,” lanjut Gusbang.

Proses inkubasi ini menjadi ruang untuk memperlambat cara melihat persoalan agraris Bali. Alih-alih langsung menerjemahkan isu menjadi bentuk panggung, Bang Dance memilih membuka ruang riset artistik yang memungkinkan pengalaman, ingatan, dan relasi tubuh dengan tanah muncul secara lebih jujur.

“Kami ingin membaca tubuh bukan sebagai objek koreografi, tetapi sebagai tempat di mana tradisi, memori, perubahan sosial, dan tekanan ekologis saling bernegosiasi,” tambah Gusbang.

Bang Dance menempatkan Inkubasi Tahap I ini sebagai langkah awal dalam menyusun Sejak Padi Mengakar sebagai karya yang bertumpu pada dramaturgi berbasis pengalaman. Di dalamnya, tubuh dipahami sebagai ruang tempat tradisi, memori, perubahan sosial, dan tekanan ekologis bertemu serta saling memengaruhi.

Melalui pendekatan tersebut, karya ini tidak hanya membuka pembacaan baru terhadap subak dan lanskap agraris Bali, tetapi juga menawarkan kemungkinan bagaimana praktik koreografi dapat bekerja sebagai penelitian artistik, produksi pengetahuan, dan ruang refleksi kritis atas kondisi Bali kontemporer.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya Bang Dance untuk mengembangkan praktik penciptaan yang tidak memisahkan tubuh dari konteks sosialnya. Tubuh dilihat sebagai bagian dari lanskap, sejarah keluarga, memori desa, dan perubahan ekologis yang berlangsung di sekitarnya.

Dalam proses Sejak Padi Mengakar, koreografi tidak hanya dipahami sebagai penyusunan gerak, tetapi juga sebagai cara membaca hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Karena itu, inkubasi ini membuka kemungkinan bagi para peserta untuk menelusuri tubuh sebagai tempat bertemunya pengalaman personal, ingatan kolektif, dan perubahan sosial yang sedang berlangsung.

Inkubasi Tahap I dilaksanakan di Mulawali Institute & Creative Space, Jl. Siulan No. 204, Penatih, Denpasar. Ruang ini menjadi tempat pertemuan, eksplorasi, dan pengembangan gagasan bagi proses penciptaan Sejak Padi Mengakar.

Sebagai ruang kreatif, Mulawali Institute & Creative Space menjadi lokasi kerja yang memungkinkan proses berlangsung secara intim, reflektif, dan terbuka terhadap percakapan lintas disiplin.

Baca Juga:  Tiga Sastrawan Berbagi Proses Kreatif; Platform Menulis Makin Beragam, Tapi Tetap Kontrol Diri

Dalam inkubasi ini, ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan, tetapi juga sebagai medan untuk menguji gagasan, membangun bahasa tubuh, dan mempertemukan pengalaman personal peserta dengan isu sosial yang lebih luas.

Kehadiran inkubasi ini di Mulawali Institute & Creative Space juga memperlihatkan pentingnya ruang-ruang kecil dan mandiri dalam ekosistem seni pertunjukan Bali. Ruang semacam ini memungkinkan proses penciptaan berlangsung tidak hanya dalam orientasi produksi akhir, tetapi juga melalui riset, percakapan, pembacaan konteks, dan pengolahan pengalaman tubuh secara berlapis.

Melalui rangkaian inkubasi ini, Bang Dance berharap Sejak Padi Mengakar dapat berkembang sebagai karya yang tidak hanya hadir sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang dialog tentang tanah, tubuh, subak, dan perubahan cara hidup masyarakat Bali.

Inkubasi Tahap I menandai dimulainya perjalanan tersebut: sebuah proses untuk kembali membaca dunia agraris Bali melalui tubuh, sekaligus menanyakan ulang bagaimana manusia hari ini masih mungkin berakar di tengah lanskap yang terus berubah.

Hasil pengembangan karya Sejak Padi Mengakar akan dipresentasikan dalam bentuk pertunjukan pada Rabu, 27 Mei 2026, pukul 19.00 WITA di Geoks Singapadu, Gianyar. Format Acara: Presentasi pertunjukan dan diskusi pasca-pertunjukan, acara ini gratis untuk public.

Pertunjukan yang didukung oleh Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Kategori Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif ini akan menjadi ruang pertemuan antara proses artistik, pengalaman tubuh, dan percakapan publik mengenai perubahan lanskap agraris Bali. Setelah pertunjukan, penonton akan diajak mengikuti diskusi pasca-pertunjukan sebagai ruang refleksi bersama atas gagasan, proses, dan isu yang diangkat dalam karya. []

Related post