Pameran ‘I Marya dan Kebyar’ Mengedukasi Pengunjung ‘Festival Merayakan Marya’ di Puri Kaleran

 Pameran ‘I Marya dan Kebyar’ Mengedukasi Pengunjung ‘Festival Merayakan Marya’ di Puri Kaleran

Pameran arsip dan karya instalasi ‘Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya’/Foto: ist

Pameran arsip dan karya instalasi dalam ‘Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya’ menjadi ajang informasi dan edukasi. Pameran bertajuk “I Marya dan Kebyar” itu menampilkan foto-foto serta video terkait dengan proses kreatif I Marya (Maria/Mario) pencipta Igel Jongkok/Tari Kebyar yang sangat mendumental itu.

Pameran yang berlangsung di Puri Kaleran itu digelar Mulawali Institute berkolaborasi dengan Arsip Bali 1928 itu benar-benar menjadi hal baru bagi beberapa kalangan. Selama ini, mereka hanya mengenal nama Marya (Mario) dan karya tarinya saja. Namun, setelah melihat pameran arsip itu pengetahuan mereka menjadi bertamah.

“Selama ini saya hanya mengehui namanya saja. Ternyata Mario itu memang penari yang sangat cerdas, juga pelatih yang sangat handal. Jujur, kami baru tahu tentang sosok pencipta Tari Kebyar Duduk itu,” ucap Luh Mariani, seorang penari dan pecinta seni.

Sejak sore, areal pameran sudah mulai dikunjungi masyarakat. Mereka secara bergiliran melihat satu persatu yang dipajang sangat menarik itu. Sajian video juga banyak ditonton pengunjung. Foto-foto itu disajikan dengan bingkai serta dilengkapi nama seniman, aktivitas serta tempat mereka berproses.

Baca Juga:  Pameran 40 Foto Karya Tuli Muda Sanggar Sushrusa di Dharma Negara Alaya

Pendiri Arsip Bali 1928 Marlowe Bandem mengatakan, kerja budaya yang mereka lakukan lewat Arsip Bali 1928 berusaha melakukan deseminasi atau menyebarluaskan materi arsip yang telah berhasil dikumpulkan untuk kepentingan kreatif. Termasuk melalui ‘Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya’ini.

Pameran arsip dan karya instalasi ‘Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya’/Foto: ist

“Kami ingin membuka ruang untuk penelitian lintas disiplin. Namun, yang terpenting adalah bagaimana materi-materi arsip ini bisa menjadi karya seni baru. Kami menampilkan juga kuratorial bertajuk ‘meneropong masa depan yang lampau’,” ucap Marlowe Bandem.

Hal tersebut penting untuk memberi penghargaan terhadap I Marya yang pada tahun 36 dan 39 itu banyak berinteraksi dengan peneliti berpengaruh. “Lalu, untuk pertama kalinya kami menapilkan cuplikan-cuplikan Sang Maestro yang mendedikasikan dirinya pada bidang spiritualitas, ritual, dan kreativitas,” lanjutnya.

Menurut Marlowe Bandem, kerja arsip Bali ini bertumpu pada tiga hal, yaitu memulangkan sejarah dari luar negeri, meretorasi dan penyebarluaskan materi arsip ini. Tiga hal ini penting untuk membuka pintu gerbang, sehingga dalam Merayakan Marya ini menampilkan film selain foto-foto proses kreatif I Marya.

Baca Juga:  Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya. Membaca Ulang dan Membangun Arsip Maestro I Mario

Arsip-arsip ini akan membuka ruang bagi penelitian selanjutnya. Para peneliti bisa saja memperkaya hasi penelitiannnya melalui arsip yang telah dikumpulkan ini. Selain itu, arsip ini juga akan menjadi inspirasi para koreografer dalam menciptakan tari kreasi baru berikutinya.

Sementara itu, karya instalasi yang digarap oleh Susanta Dwipayana berusaha menginterpreatsi atas pola dan simbol-simbol gerak dari I Marya. “Kami mencoba membuat dua intalasi yang interaktif,” kata Susanta, Koordinator Divisi Gurat Art Project.

“Pertama, kami buat instalasi dengan teknik stensil untuk interpretasi notasi laban dari karya I Marya. Kedua, intalasi kami berjudul infinity, dari hasil pemaknaan kami pada pola gerak kipas yang seolah membentuk angka 8,” paparnya.

Koordinator Divisi Gurat Art Project yang bergerak dalam bidang kuratorial itu juga mengajak penonton untuk ikut berinteraksi langsung dengan instalasi pada Tur Kuratorial yang akan berlangsung Sabtu, 27 April 2024. [B/darma]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post