Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali VIII

 Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali VIII

Salah satu peserta pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali VIII/Foto: darma

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 dimeriahkan pendatang baru. Artinya, ada sebuah penggenerasian dari lomba-lomba sebelumnya.

Memang, ada beberapa pesereta yang sudah pernah ikut lomba, tetapi dari 8 peserta yang tampil pada lomba hari pertama itu didominasi wajah-wajah baru. Apakah kehadiran pemain-pemain baru itu bisa dikatakan lomba musikalisasi tahun ini mengalami peningkatan?

Dewan Juri, I Ketut Mandala Putra mengatakan, peserta lomba musikalisasi kali ini memang bermunculan pemain-pemain dan semangat baru. Tetapi, dari sekian peserta yang tampil hari ini, kreativitas mereka agak kurang jika dibandingkan dengan peserta lomba sebelunnya.

Jika dulu, banyak peserta yang menampilkan kreativitas dalam pengolah aransemen, termasuk penggunaan ala-alat music, namun kali ini biasa-biasa saja.

Baca Juga:  Gubernur Koster: Bahasa, Aksara, dan Sastra Merupakan Akar Kebudayaan Bali

Dulu, banyak peserta yang memasukan alat musik baru, yakni dari daerah lain di Indonesia. Sebut misalnya sitar, alat music dari Sunda yang hadir pada lomba sebelumnya.

Bahkan, ada memanfaatkan kacang ijo dimasukan ke dalam tas plastik, sehingga suara yang ditimbulkan sangat beda. Mereka menemukan nuansa musik baru yang dapat memberi warna dari karya musik puisi itu. “Kreativitas peserta sebelumnya lebih kelihatan,” ucap Mandala.

Peserta lomba musikalisasi tahun ini tetap ada kreativitasnya, tetapi kurang berani. Hal itu bisa dilihat dari penggunaan alat musik yang lumrah atau biasa-biasa. Termasuk aransemennya, yang lebih mengaraha kepada lagu pop. Hal itu memang sering terjadi.

“Padahal, dari pengalaman sebelumnya hal itu sudah sering menjadi bahan koreksi dewan juri sebelum-sebelumnya,” paparnya.

Baca Juga:  Teknologi Informasi Berpengaruh Besar Terhadap Seni Kini

Ada pula yang pemahaman puisinya yang kontradiktif. Puisinya yang sesungguhnya mengandung pemahaman yang mendalam, dan kontemplasi, namun musik dan aransemennya justru agak gaduh, dan tidak melahirkan suatu keheningan.

“Lawat salah satu karya sastra berbahasa Bali yang ditulis sastrawan Ida Bagus Pawanasuta itu kan maknanya ke dalam, tetapi aransemennya malah ke luar, sehingga tidak menimbulam suara yang hening,” imbuhnya.

Walau demikian, Mandala mengapresiasi pada salah satu peserta menambahkan aranseman yang agak berbeda. Mereka memainkan alat gamelan tidak dipukul, tetapi memainkan bilah bilah kayu itu, sehingga menimbulkan suara baru.

“Ada pula yang memainkan gitar dengan nada yang tidak digesek, melainkan dimaikan dengan memantulkan senar, sehingga menimbulkan efek suara yang berbeda.

Baca Juga:  Tiga Sastrawan Berbagi Proses Kreatif; Platform Menulis Makin Beragam, Tapi Tetap Kontrol Diri

Mandala juga mengaku senang, ketika satu peserta yang menampilkan suara suling, sehingga jiwanya dapat sekali. Suling dengan Puisi Lawat itu tampak harmoni, dan puisinya nyambung. Ada pula peserta yang menampilkan aransemen yang bagus, penghayatan puisisnya jelas, harmonisasi puisisnya ada, dan terpenting kualitas vokalnya.

“Ada peserta yang pemakaian vocalnya tidak nyambung. Mereka ingin memanfaatkan suara vocal 1, 2 dan 3, tetapi malah tidak kelihatan. Suaranya, sama semua,” ujarnya.

Juri lainnya, I Komang Darmayuda mengatakan, kreteria Lomba Musikalisasi tahun ini hamper sama dengan kreteria sebelumnya, yakni originalitas dari pada aransemen, memadukan dengan alat musik, menggarap puisi menjadi sebuah lagu, penataan harmonisasinya, kualitas vokal dan penampilan secara keseluruhan.

“Peserta tahun ini ada suatu perubahan, yakni hadirnya kaum milenial,” ujarnya.

Baca Juga:  Sakde Oka Pemerkan 'Voyage of Becoming', Sebuah Rangkuman Perjalanan Artistik dan Merefleksikan Diri

Kehadiran anak-anak setingkat SMP ini sungguh mengejutkan. Terlibatnya mereka, merupakan suatu upaya untuk melestarikan bahasa Bali ketingkat yang lebih anak-anak. Kesempatan ini bisa mengulik bahasa Bali, mempelajari, dan memahami Bahasa Bali secara sungguh sungguh.

“Sebab, puisi yang mereka bawakan adalah karya sastrawan yang penggunaan bahasa Bali yang sangat bagus,” tegas dosen ISI Bali itu.

Karena itu, ajang lomba musikalisasi ini menjadi kesempatan bagi anak-anak khususnya yang baru hadir, untuk memahami bahasa Bali melalui bait-bait lagu. Terlebih, puisi wajib yang menyajikan Bahasa Bali yang sempurna, sehingga para peserta dapat menjadi pembelajaran.

“Buktinya, ada yang sudah menemukan makna atau pesan dari pada puisi Lawat tersebut. Sementara puisi kedua mereka bebas memilih. Boleh diciptakan sendiri atau yang sudah ada, namun sesuai tema Bulan Bahasa Bali,” imbunya.

Baca Juga:  Tubuh Tradisi dalam Pertunjukan Teater Modern di FSBJ IV

Menariknya, pendatang baru itu sudah mampu menyajikan olah musik dengan rasanya mereka sendiri. Jika pada pada lomba sebelumnya lebih banyak menggunakan modus minor, tetapi kali ini ada yang menggunakan pentatonik, sesuai dengan puisi Bali.

Beberapa peserta ada yang memasukan nada selendro dan pelog yang menarik dan dapat memberikan warna. “Penggunaan gamelan itu bagus sekali, karena mengangkat puisi bahasa Bali sangat identik dengan instrument yang mereka pakai,” paparnya.

Selain itu, kualitas vokal dan harmonisasinya sudah ada yang dapat. “Memang berat, musikalisasi puisi itu harus sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar lewat. Kelihatan sekali, kalau mereka tidak memahami puisi, hanya mengena musiknya saja. Itu mungkin kendalanya,” sebutnya.

Komang Darmayuda seraya berharap kedepan lebih banyak generai muda ikut dalam ajang ini, sehingga puisi bahasa Bali itu tak hanya dipahami dari segi bahasa, tetapi juga makna intisari dari bahasa Bali itu. [B/darma]

Related post