Stand Kuliner SLF 2026, Ruang Nongkrong yang Menghidupkan Cita Rasa dan Percakapan Bali Utara
Stand kuliner di Singaraja Literary Festival 2026/Foto: dar
ADA suasana yang berbeda saat mengunjungi Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Bukan hanya rangkaian diskusi sastra, peluncuran buku, dan pertunjukan seni yang menyedot perhatian pengunjung, tetapi juga kawasan kuliner yang dikemas hangat, akrab, dan tetap mempertahankan nuansa tradisional khas Bali Utara.
Area kuliner yang berada di belakang panggung utama itu menjadi salah satu titik pertemuan paling hidup selama festival berlangsung. Bangunannya sederhana, didominasi material bambu dengan dekorasi ramah lingkungan yang mencerminkan semangat keberlanjutan sekaligus memperkuat identitas lokal.
Konsep yang diusung pun berbeda dari kebanyakan festival. Stand-stand kuliner ditata menyerupai bar terbuka dengan meja dan kursi yang memungkinkan pengunjung duduk santai, berbincang, hingga berdiskusi ringan sambil menikmati sajian khas Buleleng. Tak sedikit peserta festival yang memilih menghabiskan waktu di area ini setelah mengikuti sesi diskusi atau bedah buku.
Beragam kuliner autentik Bali Utara disajikan, mulai dari siobak, bubuh Bali, tipat santok, hingga nasi campur ikan laut khas Les. Ragam menu tersebut memberi kesempatan bagi pengunjung, terutama yang datang dari luar daerah, untuk mengenal kekayaan cita rasa Buleleng secara lebih dekat.
“Tempat kuliner ini memang kami desain agar menjadi ruang ngobrol. Pengunjung SLF adalah orang-orang yang senang berdiskusi, sehingga kami ingin menyediakan ruang yang nyaman untuk melanjutkan percakapan setelah mengikuti berbagai program festival. Menu yang disajikan juga merupakan makanan khas Buleleng agar setiap orang benar-benar merasakan pengalaman berada di Bali Utara,” ujar Manager Teknis SLF 2026, Kardiana, Minggu 5 Juli 2026.
Pada penyelenggaraan tahun ini, kawasan kuliner diisi oleh Warung Mbok Indri, Warung Nongki, Kopi Dekakiang, serta satu stand kopi asal Desa Banyuatis yang hadir sebagai mitra sponsor. Menariknya, seluruh tenant tidak dibebankan biaya sewa lokasi.
“Mereka hanya berbagi keuntungan sebesar 10 persen dari hasil penjualan. Kami ingin para pelaku UMKM merasa terbantu sekaligus mendapatkan ruang promosi selama festival berlangsung,” jelas Kardiana yang akrab disapa Cotek.
Konsep tersebut terbukti mendapat sambutan positif. Selama tiga hari pelaksanaan SLF 2026, kawasan kuliner nyaris tidak pernah sepi. Pengunjung datang silih berganti, baik untuk menikmati makanan, menyeruput kopi, maupun sekadar berbincang dengan sesama peserta festival.
Salah satu stand yang paling ramai dikunjungi adalah Kopi Dekakiang. Kedai ini menawarkan berbagai minuman khas, seperti Kopi Dekakiang (kopi hitam dengan cita rasa khas), teh Dekakiang, kopi susu, susu gula Pedawa, hingga roti bakar sebagai teman menikmati secangkir kopi.
Aroma kopi yang khas berpadu dengan suasana santai membuat banyak pengunjung betah berlama-lama. Bahkan, tidak sedikit diskusi yang berlanjut secara spontan di meja-meja Kopi Dekakiang setelah sesi resmi festival berakhir.
Owner Kopi Dekakiang, Ida Bagus Mahadi, mengatakan kehadiran mereka di SLF bukan sekadar berjualan, melainkan menjadi bagian dari dukungan terhadap perkembangan ekosistem sastra dan budaya di Bali Utara.
“Kami hampir selalu hadir di SLF. Bahkan sejak festival pertama digelar sekitar empat tahun lalu, Dekakiang sudah menjadi bagian dari perjalanan festival ini. Ini adalah bentuk dukungan kami kepada Mahima sebagai komunitas yang bergerak di bidang sastra. Jujur, kami selalu senang terlibat di SLF karena bisa bertemu banyak orang baru dari berbagai daerah, berdiskusi, sekaligus memperkenalkan kopi lokal Bali Utara,” ujarnya.
Menurut Mahadi, keberadaan stand Kopi Dekakiang di SLF telah berkembang menjadi ruang komunitas yang hidup. Banyak peserta festival menjadikan kedai tersebut sebagai tempat melanjutkan diskusi mengenai sastra, budaya, hingga berbagai isu sosial yang sebelumnya dibahas dalam forum resmi.
“Harapan kami sederhana, Kopi Dekakiang bisa menjadi community center kecil selama SLF berlangsung. Orang datang bukan hanya untuk minum kopi, tetapi juga bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan menikmati suasana kebersamaan,” harapnya.
Lebih dari sekadar tempat makan dan minum, kawasan kuliner di Singaraja Literary Festival 2026 menunjukkan bahwa sebuah festival sastra dapat menghadirkan pengalaman yang utuh.
Sastra, budaya, kuliner, dan ruang percakapan berpadu menjadi satu, memperkuat identitas Bali Utara sebagai wilayah yang kaya tradisi sekaligus terbuka terhadap perjumpaan berbagai gagasan. Di sinilah setiap sajian tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga menjadi medium yang mempertemukan orang, cerita, dan inspirasi. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali