Singaraja Literary Festival 2026 Resmi Dibuka, Usung Tema Stri Sasana untuk Perkuat Ekosistem Sastra dan Budaya
Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra membuka Singaraja Literary Festival 2026 ditandai dengan pemukulan gong di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng, Jumat 3 Juli 2026/Foto: ist
KOMUNITAS Mahima Indonesia kembali menggelar Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, festival sastra dan kebudayaan internasional di Bali Utara yang tahun ini mengusung tema “Stri Sasana (Energi Keseimbangan Semesta)”.
Tema tersebut diwujudkan melalui 42 program utama yang meliputi peluncuran buku, diskusi panel, kuliah umum, pameran seni, pemutaran film, hingga lokakarya yang terbuka bagi berbagai kalangan.
Berbeda dengan festival pada umumnya, SLF menghadirkan suasana yang lebih intim dan penuh kebersamaan. Festival dibuka oleh Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra ditandai dengan pemukulan gong di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng, Jumat 3 Juli 2026.
Ikut mendampingi Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Nissa Rengganis, Direktur Bidang SDM Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Syukur Asih Suprojo, Founder sekaligus Direktur Singaraja Literary Festival Kadek Sonia Piscayanti serta undangan lainnya.
Festival ini mempertemukan sastrawan, budayawan, seniman, akademisi, serta pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Penataan stan pameran dan kuliner juga menghadirkan nuansa tradisional yang nyaman sebagai ruang interaksi para peserta.
Anissa Rengganis mengapresiasi penyelenggaraan SLF yang dinilai mampu menarik perhatian sastrawan dari dalam dan luar negeri.
Menurutnya, tema Stri Sasana menjadi upaya penting untuk mengeksplorasi warisan budaya, khususnya manuskrip lontar, sekaligus mengangkat peran perempuan dalam membangun identitas budaya.
Festival ini dibuka bertepatan dengan peringatan Hari Sastra Indonesia. Ia menilai festival ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat ekosistem sastra dan literasi melalui perayaan karya di ruang publik.
“Selamat atas terselenggaranya Singaraja Literary Festival ke-4. Semoga terus berkembang dan semakin banyak melibatkan berbagai pihak,” ujar Nissa Rengganis sebelum membacakan satu bait puisi karya Oka Rusmini.
Syukur Asih Suprojo menyebut, SLF merupakan bagian dari trajektori Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2020.
Menurutnya, MTN menjadi wadah pendataan, pembinaan, dan integrasi talenta seni budaya, termasuk sastra. Ia berharap festival ini mampu memperkuat posisi sastra Indonesia, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di panggung internasional.
“Hingga 2025, MTN Seni Budaya telah bekerja sama dengan 58 kabupaten/kota, menggandeng 208 mitra, serta mengirimkan delegasi budaya ke 19 negara sebagai bagian dari penguatan diplomasi budaya Indonesia,” paparnya.
Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, mitra, dan sponsor atas terselenggaranya festival ini. Tema Stri Sasana yang terinspirasi dari kekayaan naskah lontar Gedong Kirtya menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya.
Ia juga memperkenalkan Singaraja sebagai kota bersejarah yang memiliki potensi besar sebagai ruang kreatif bagi sastra dan seni pertunjukan. Bupati berharap hasil diskusi dan kolaborasi selama festival dapat melahirkan gagasan nyata untuk pelestarian budaya.
“Jadikan hasil diskusi, karya, dan kolaborasi sebagai pijakan nyata dalam melestarikan budaya. Karena kalau bukan kita, siapa lagi,” ajaknya.
Sonia dalam laporannya mengatakan, SLF 2026 dapat terlaksana berkat dukungan Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional.
Menurutnya, Singaraja memiliki karakter yang khas karena didukung keberadaan Gedong Kirtya sebagai pusat penyimpanan manuskrip lontar yang menjadi sumber inspirasi tema festival setiap tahun.
Ia menegaskan, manuskrip lontar tidak hanya perlu diteliti, tetapi juga diapresiasi dan dialihwahanakan ke berbagai bentuk karya seni seperti puisi, teater, musikalisasi puisi, hingga film.
“Melalui pendekatan itu, kami berharap SLF mampu menghadirkan kebaruan dalam ekosistem sastra Indonesia,” harapnya.
Sonia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, sponsor, media partner, komunitas, serta seluruh panitia.
Ia turut memberikan selamat kepada 13 Emerging Writers terpilih dari Bali, NTB, dan NTT yang berhasil lolos kurasi, serta mengucapkan terima kasih kepada jejaring Asia Pacific Writers and Translators atas dukungannya terhadap festival.
Rangkaian acara pembukaan dilanjutkan dengan pementasan teater Komunitas Mahima dan pembacaan puisi oleh peserta internasional. Festival akan berlangsung selama tiga hari dan ditutup pada 5 Juli 2026. [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali