Lintas Batas Kreativitas: 50 Seniman dari 8 Negara Unjuk Karya Kriya di Museum ARMA Bali

 Lintas Batas Kreativitas: 50 Seniman dari 8 Negara Unjuk Karya Kriya di Museum ARMA Bali

Prof. Dr. Kun Adnyana didampingi Anak Agung Rai dan Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana mengunjungi pameran Prakriti – Pustaka – Padma 2026/Foto: dar

PAMERAN seni rupa bertajuk “Prakriti – Pustaka – Padma 2026” yang berlangsung di Museum ARMA menyajikan ragam karya seni memukau yang menciptakan suasana heterogen dan dinamis. Ruang pameran menjadi gemerlap berkat perpaduan apik antara karya seni dua dan tiga dimensi.

Karya-karya yang dipajang tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga membawa pengunjung merasakan nuansa kontras antara kemegahan patung dan keramik, kelembutan motif batik, serta ekspresi warna-warni yang tertuang di atas kanvas.

Pameran seni rupa yang melibatkan seniman kriya dari beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia serta seniman profesional mancanegara ini dibuka resmi oleh Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Prof. Dr. Kun Adnyana, yang ditandai dengan pemukulan gong pada Minggu, 5 Juli 2026.

Prosesi pembukaan ini turut didampingi oleh Pendiri Museum ARMA, Anak Agung Rai, serta jajaran kurator ternama seperti Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta. Pameran ini dijadwalkan berlangsung hingga 18 Juli 2026.

Suasana pengunjung pameran Prakriti – Pustaka – Padma 2026 di Museum ARMA/Foto: ist

Acara pembukaan ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya perwakilan dari Dinas Kebudayaan Gianyar, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) serta Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Bali beserta jajarannya, para budayawan, seniman, maestro seni rupa Bali, pemilik museum dan galeri, para Guru Besar ISI Bali, serta para seniman peserta pameran baik dari dalam maupun luar negeri.

“Pameran Kriya Prakriti – Pustaka – Padma ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. Museum ARMA berkomitmen penuh untuk menghadirkan berbagai program kegiatan, tidak hanya di bidang seni rupa, tetapi juga seni pertunjukan, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional,” ujar Ketua Panitia, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., dalam laporannya.

Dalam program pameran tahun ini, Museum ARMA bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Kriya ISI Bali sebagai pelaksana utama pameran internasional tersebut. Pameran yang menghadirkan keragaman medium dan pendekatan artistik ini memperlihatkan bagaimana seni kriya dewasa ini berkembang pesat melalui kreativitas lintas batas.

Hal ini juga menjadi ruang eksplorasi estetik kontemporer seiring terjadinya interaksi lintas budaya yang saling memperkaya kemungkinan cipta.

Pameran berskala internasional ini diikuti oleh seniman dari 8 negara, yaitu Amerika Serikat (USA), Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia.

Selain seniman profesional, pameran ini juga didukung oleh akademisi dan dosen kriya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Unesa Surabaya, Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa dari Surabaya.

Secara keseluruhan, pameran “Prakriti – Pustaka – Padma” ini diikuti oleh 50 seniman dengan menampilkan total 79 karya dua dan tiga dimensi.

Ragam karya yang dipamerkan meliputi 28 karya patung keramik, 6 karya terakota, 9 karya guci keramik, 4 karya kriya logam, 3 karya keris, 6 karya wastra, 3 karya batik seni, 2 karya kriya kayu, 4 karya tapestri, 6 karya media campuran (mixed media), 1 buah wayang kulit, serta 4 buah karya instalasi.

Pameran seni rupa bertajuk “Prakriti–Pustaka–Padma 2026” di Museum ARMA, Ubud/Foto: dar

Dalam catatan kuratorial, Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta menegaskan, Prakriti–Pustaka–Padma merupakan ikhtiar mempertemukan beragam pengalaman penciptaan, eksplorasi material, dan sistem pengetahuan yang melandasi praktik seni kriya masa kini. Pameran ini menunjukkan bahwa seni kriya telah berkembang melampaui batas disiplin, membuka ruang dialog antara tradisi dan inovasi melalui interaksi lintas budaya.

Tema pameran dirumuskan melalui tiga konsep utama

Prakriti memaknai alam sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber inspirasi artistik. Alam bukan sekadar latar, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari proses kreatif. Pustaka menegaskan, setiap karya lahir dari akumulasi pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut hidup dalam keterampilan tangan, pengalaman berkarya, eksperimen material, hingga tradisi yang terus berkembang.

Sementara Padma atau bunga teratai menjadi metafora proses penciptaan. Seperti teratai yang tumbuh dari lumpur namun mekar indah, karya seni lahir melalui proses panjang yang dipenuhi pencarian, kegagalan, perubahan, dan penemuan baru. Keindahan dipahami sebagai hasil perjalanan kreatif yang terus berlangsung.

Seni Kriya yang Melampaui Fungsi

Pameran ini memperlihatkan bagaimana batas-batas antara keramik, tekstil, batik, kayu, logam, maupun medium tradisional lainnya semakin cair. Medium tidak lagi dipahami sekadar sebagai teknik atau identitas, melainkan ruang dialog tempat berbagai pengetahuan, pengalaman estetik, dan inovasi bertemu.

Fokusnya bukan lagi mempertentangkan tradisi dan modernitas, tetapi menunjukkan bagaimana seni kriya berkembang sebagai praktik kebudayaan yang terus bertransformasi. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya memiliki kualitas estetis, tetapi juga membuka kemungkinan sebagai objek desain yang menghadirkan kebaruan tanpa kehilangan akar budayanya.

Membaca Karya, Membaca Kehidupan

Beragam karya dalam pameran ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan kondisi dunia yang sedang menghadapi berbagai perubahan. Ketegangan geopolitik, konflik kemanusiaan, migrasi, hingga krisis ekologis menjadi latar refleksi yang hadir melalui bahasa rupa.

Karya-karya keramik, terakota, logam, batik, wastra, kayu, mixed media, maupun instalasi menunjukkan bahwa setiap karya lahir dari perjumpaan antara pengalaman hidup, tradisi, material, lingkungan, dan kesadaran penciptanya. Seni kriya menjadi media untuk membangun dialog, menumbuhkan empati, sekaligus mengingatkan posisi manusia sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas.

Material sebagai Bahasa

Tanah menjadi medium yang paling dominan dalam pameran ini. Namun tanah tidak semata diperlakukan sebagai bahan, melainkan sebagai bahasa visual yang menyimpan makna. Melalui keramik dan terakota, para seniman mengeksplorasi hubungan antara fungsi dan imajinasi, antara benda utilitarian dan karya seni murni.

Proses kreatif pun dipahami sebagai hubungan timbal balik antara seniman dan material. Seniman tidak hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh karakter material yang diolahnya. Dari sinilah lahir kepekaan artistik yang melampaui sekadar keterampilan teknis.

Gagasan Bernas tentang Alam dan Kemanusiaan

Sebagian besar karya mengangkat alam bukan sebagai panorama romantis, melainkan sebagai ruang refleksi atas perubahan lingkungan dan kehidupan manusia. Isu eksploitasi sumber daya, kerusakan ekosistem, serta hubungan manusia dengan bumi hadir melalui bahasa visual yang metaforis, bukan dalam bentuk kritik yang verbal.

Tekstur, warna, deformasi bentuk, hingga ruang kosong menjadi medium penyampaian pesan ekologis yang halus namun kuat. Kepedulian terhadap lingkungan dalam pameran ini pada akhirnya bermuara pada kepedulian terhadap kemanusiaan.

Melalui Prakriti–Pustaka–Padma 2026 ini, Museum ARMA membuktikan seni kriya bukan sekadar keterampilan mengolah material, melainkan praktik kebudayaan yang terus berkembang, membuka ruang dialog lintas bangsa, serta menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia, alam, tradisi, dan masa depan. Pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas seni kriya semakin melampaui batas-batas geografis maupun disiplin, sekaligus menegaskan bahwa penciptaan merupakan sikap terhadap hidup dan kehidupan. [dar]

Related post