Komunitas Mahima Rayakan 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Lewat Pertunjukan Lintas Disiplin
Komunitas Mahima pentaskan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII/Foto: dar
KOMUNITAS Mahima mementaskan pertunjukan teater yang memadukan pembacaan puisi sebagai elemen utama. Melalui rangkaian puisi yang sarat nilai dan jejak sejarah, para pemain mengisahkan perjalanan satu abad puisi Indonesia di Bali. Setiap adegan merepresentasikan perkembangan puisi sejak masa kolonial, pascakemerdekaan, hingga era komunitas sastra yang ditandai pesatnya kemajuan teknologi informasi.
Dalam pementasan yang berlangsung pada Selasa 21 Juli 2026 pukul 20.00 WITA di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali itu, Komunitas Mahima yang berbasis di Bali Utara menghadirkan pertunjukan bertajuk “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali”. Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII sekaligus menjadi perayaan satu abad perjalanan puisi Indonesia di Bali melalui perpaduan pembacaan puisi, teater, tari, musik, visual, dan dialog ilmiah.
Teater puisi diproduseri Kadek Sonia Piscayanti dengan naskah yang ditulis bersama Made Adnyana Ole. Penyutradaraan dipercayakan kepada Wahyu Mahaputra dan I Putu Ardiyasa. Keduanya merancang pertunjukan lintas disiplin yang mengajak penonton menelusuri perkembangan puisi Indonesia di Bali, mulai dari era kolonial hingga masa berkembangnya komunitas sastra dan kecerdasan buatan (AI).
Pertunjukan dibuka dengan pembacaan puisi “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd. P. Kertanadi yang dimuat dalam Majalah Bali Adnjana edisi 1 Januari 1925. Puisi tersebut diyakini sebagai puisi berbahasa Indonesia pertama yang terbit di Bali dan menjadi penanda dimulainya perjalanan puisi Indonesia di Pulau Dewata. Selain menghadirkan karya-karya dari berbagai zaman, pementasan ini juga memperlihatkan perubahan bentuk, tema, dan cara para penyair Bali merespons dinamika sosial pada setiap masanya.
Perjalanan tersebut dibagi ke dalam tiga babak. Babak pertama menampilkan puisi-puisi era kolonial yang terbit di media seperti Bali Adnjana dan Djatajoe. Babak kedua menghadirkan karya-karya pascakemerdekaan yang merekam semangat pembangunan, pergulatan sosial, hingga lahirnya generasi penyair Bali modern. Adapun babak ketiga menyajikan karya penyair kontemporer yang tumbuh di tengah berkembangnya komunitas sastra, media digital, dan teknologi informasi.
Sebanyak 17 karya dari penyair lintas generasi dipentaskan dalam produksi ini. Di antaranya karya Gd. P. Kertanadi, M. Oke, Windhya Wirawan, Yudha Paniek, Ninik Berata, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi, Warih Wisatsana, Oka Rusmini, Nanoq da Kansas, Tan Lioe Ie, Cok Sawitri, Mas Ruscita Dewi, Kadek Sonia Piscayanti, Wayan Jengki Sunarta, Manik Sukadana, hingga Made Adnyana Ole.
Melalui karya-karya tersebut, penonton diajak menyaksikan bagaimana puisi Indonesia di Bali terus berkembang mengikuti dinamika sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Salah satu bagian penting dalam pertunjukan ini adalah Public Lecture Performance, yakni dialog ilmiah yang menjadi bagian dari alur pementasan. Sesi ini menghadirkan tiga akademisi sastra, yakni Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra dari Universitas Udayana, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum., dari Universitas Udayana, serta Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Ketiganya mengulas perkembangan puisi Indonesia di Bali sejak masa kolonial, pascakemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, hingga era media sosial dan kecerdasan buatan.
Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa perkembangan puisi Indonesia di Bali tidak hanya ditandai oleh lahirnya penyair-penyair penting, tetapi juga oleh tumbuhnya media massa, komunitas sastra, serta berbagai ruang apresiasi yang terus melahirkan generasi baru. Para narasumber juga menyoroti bagaimana teknologi digital dan AI mengubah medium penyebaran puisi, namun tidak dapat menggantikan peran komunitas sebagai ruang bertemunya manusia, pengalaman, dan kreativitas.
Produksi ini tidak sekadar mengajak penonton menengok sejarah sastra Bali, tetapi juga menegaskan bahwa puisi merupakan bagian dari perjalanan kebudayaan yang terus hidup dan berkembang. Dari mesin tik pada masa kolonial, halaman-halaman majalah, ruang budaya di surat kabar, hingga layar laptop dan media digital, puisi Indonesia di Bali senantiasa menemukan bentuk baru untuk berbicara kepada zamannya.
Melalui “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali”, Komunitas Mahima berharap peringatan satu abad puisi Indonesia di Bali menjadi momentum untuk memperkuat apresiasi terhadap sastra sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa perjalanan puisi tidak pernah berhenti.
“Pertunjukan ini menjadi penegasan bahwa dari generasi ke generasi, puisi terus menjadi medium yang merekam sejarah, menyuarakan kegelisahan, dan merawat imajinasi kebudayaan Bali,” ujar Kadek Sonia Piscayanti. [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali