Bedah Buku Rahu: Menjelajahi Tafsir Baru dalam Naskah Drama Gus Martin
Beranda Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk “Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu karya Gus Martin/Foto: ist
BAGAIMANA jika tokoh yang selama ini dianggap jahat ternyata memiliki sisi yang selama ini luput kita lihat? Pertanyaan semacam itulah yang menjadi pintu masuk dalam buku Rahu: Kumpulan Lima Naskah Drama karya Gus Martin.
Melalui karya ini, pemilik nama lengkap Ida Bagus Martinaya mengajak pembaca untuk tidak sekadar menerima cerita-cerita besar yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga berani mempertanyakan dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Untuk mengupas gagasan tersebut, Beranda Pustaka menghadirkan diskusi bedah buku bertajuk “Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu.” Acara ini akan menjadi ruang bagi pembaca, pegiat sastra, hingga pencinta teater untuk menyelami proses kreatif sekaligus pemikiran yang melatarbelakangi lahirnya karya-karya Gus Martin.
Buku Rahu yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi pada tahun 2021 merupakan dokumentasi penting perjalanan kreatif Gus Martin sebagai sastrawan dan praktisi teater. Kualitas karya ini juga mendapat pengakuan nasional dengan diraihnya Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI tahun 2022 untuk naskah Rahu.
Di dalam buku ini terdapat lima naskah drama, yaitu Drona, Rabas, Dalrya, Sampek-Ingtay, dan Rahu. Kelimanya tidak hanya menyuguhkan cerita yang kuat secara dramatik, tetapi juga menawarkan pembacaan baru terhadap berbagai persoalan sosial, budaya, dan kemanusiaan. Salah satu yang paling menarik adalah naskah Rahu, yang melakukan dekonstruksi terhadap kisah Ramayana.
Gus Martin membalik cara pandang yang selama ini mapan tentang siapa yang menjadi protagonis dan siapa yang dianggap antagonis. Dari sana muncul kemungkinan-kemungkinan tafsir baru yang lebih kritis dan relevan dengan kehidupan masa kini.
Tidak berhenti pada mitologi, karya-karya Gus Martin juga memperlihatkan bagaimana tradisi, realitas kehidupan masyarakat pedesaan, kritik sosial, hingga unsur-unsur mistis dapat berpadu dalam bahasa teater yang hidup, komunikatif, dan tetap dekat dengan penonton. Pengalaman panjangnya sebagai seniman, yang juga mengantarkannya meraih penghargaan Bali Jani Nugraha 2020, menjadikan setiap naskah terasa matang baik dari sisi artistik maupun gagasan.
Menariknya lagi, kehadiran buku ini menjadi angin segar di tengah masih terbatasnya penerbitan naskah drama di Indonesia. Karena itu, diskusi ini bukan hanya menjadi ajang membahas isi buku, tetapi juga kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah naskah drama lahir dan bekerja sebagai medium berpikir.
Dalam diskusi nanti, peserta akan diajak mengeksplorasi beberapa hal penting, mulai dari bagaimana ide-ide sederhana dan realitas sosial dapat diolah menjadi naskah drama yang kuat, mengapa mitos perlu dibaca ulang dengan perspektif yang lebih segar, hingga bagaimana teater dapat menjadi ruang kritik sosial, perlawanan terhadap narasi yang mapan, sekaligus media untuk menumbuhkan nalar kritis di tengah masyarakat.
Sebagai penulis, Gus Martin bukanlah nama baru dalam dunia seni pertunjukan. Ia dikenal sebagai seniman teater, penulis, sekaligus kartunis senior yang telah lama berkarya, baik melalui naskah drama panggung maupun televisi. Kiprahnya bersama Sanggar Teater Agustus menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya dalam dunia teater Indonesia.
Diskusi bedah buku ini juga akan menghadirkan Isnan Waluyo, M.A. sebagai pembahas. Lahir di Gunungkidul pada tahun 1993, Isnan merupakan alumnus Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Selama ini ia aktif menulis esai sastra dan bergiat di berbagai komunitas literasi, seperti Tamansiswa, Indonesia Bokoe, dan Kelompok Diskusi Kritis Sastra FIB UGM. Tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai buku antologi maupun media cetak dan daring. Kini, selain menjadi peneliti, ia juga mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Melalui bedah buku ini, Beranda Pustaka mengundang siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat dunia drama, sastra, dan cara-cara baru membaca mitologi. Sebab, seperti yang ditunjukkan Gus Martin melalui Rahu, sebuah cerita lama ternyata masih bisa menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang relevan dengan kehidupan kita hari ini. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali