Wayang Ental Hadirkan Refleksi tentang Kesempatan dalam “Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu”
Wayang Ental di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII/Foto: darma
WAYANG kulit selama ini dikenal sebagai seni pertunjukan yang mengandalkan bayangan dan dimainkan oleh seorang dalang. Berbeda dengan itu, Wayang Ental hadir dengan pendekatan baru. Wayang berbentuk boneka tiga dimensi yang terbuat dari anyaman daun ental (lontar) ini dimainkan oleh dua orang dalang secara langsung di atas panggung.
Satu orang dalang menggerakkan bagian kepala dan tangan, sedangkan dalang lainnya mengendalikan bagian kaki. Kolaborasi keduanya menghasilkan gerakan yang lebih hidup, luwes, dan ekspresif. Konsep pementasan ini memadukan unsur tradisi Bali dengan teknik teater boneka Bunraku dari Jepang.
Pertunjukan tersebut memukau penonton saat dipentaskan dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juni 2026. Komunitas Kuta Kumara Agung menampilkan karya bertajuk Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu, sebuah pertunjukan yang mengangkat tema tentang kesempatan, penyesalan, dan kerinduan.
Cerita mengisahkan perjalanan dua tokoh, Manu dan Tala, yang mengajak penonton merenungkan pentingnya menghargai setiap kesempatan sebelum semuanya terlambat. Suasana pertunjukan semakin kuat dengan iringan puisi, lagu, dan tata suara yang mendukung setiap adegan.
Koordinator pementasan sekaligus pencipta Wayang Ental, Dr. I Gusti Dharma Putra atau Gung Ade Dalang, mengatakan karya ini lahir dari refleksi sederhana mengenai kebiasaan manusia yang sering menunda mengungkapkan perasaan karena merasa masih memiliki banyak waktu.
“Penyesalan sering kali bukan lahir karena kehilangan, tetapi karena keyakinan bahwa masih ada waktu. Kita merasa selalu ada hari lain untuk berkumpul, tertawa, dan saling hadir. Padahal yang paling cepat hilang bukanlah waktu, melainkan kesempatan,” ujarnya.
Menurut Gung Ade Dalang, pementasan ini merupakan penampilan keempat Wayang Ental sejak pertama kali dipentaskan pada Festival Bali Jani tahun 2019. Meski sempat terhenti saat pandemi, Komunitas Kuta Kumara Agung terus melakukan berbagai eksplorasi agar setiap pertunjukan menghadirkan pembaruan.
Tahun ini, pembaruan terlihat pada bentuk boneka yang dibuat lebih kecil sehingga gerakannya menjadi lebih realistis. Selain itu, alur cerita juga lebih menekankan pada penggambaran emosi tokoh daripada hubungan sebab-akibat.
“Kami ingin penonton lebih merasakan emosi para tokoh, terutama tentang kerinduan. Target kami adalah menghadirkan pengalaman yang menyentuh perasaan,” katanya.
Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, Manu Tala: Nanti Dulu hampir tidak menggunakan dialog. Cerita disampaikan melalui gerak boneka yang menyerupai pantomim, kemudian diperkuat dengan puisi, lagu, dan beberapa kalimat singkat. Pendekatan nonverbal ini memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkan cerita sesuai pengalaman mereka masing-masing.
Untuk menjaga kualitas pertunjukan, seluruh penggerak Wayang Ental berasal dari kalangan yang memiliki dasar seni pedalangan, baik pelajar SMK Pedalangan, mahasiswa, maupun dalang yang telah berpengalaman.
Pementasan berdurasi sekitar satu jam ini melibatkan sekitar 76 orang, mulai dari pemain, penata musik, penata cahaya, tim artistik, hingga tim produksi. Khusus tahun ini, Komunitas Kuta Kumara Agung juga membuat sepuluh boneka baru sehingga kini Wayang Ental memiliki empat jenis boneka dengan bentuk yang berbeda.
Meski cerita Manu Tala: Nanti Dulu merupakan karya fiksi, pesan yang ingin disampaikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk tidak terus menunda mengungkapkan rasa sayang, meminta maaf, atau melakukan hal-hal baik kepada orang-orang terdekat.
Kurator Festival Seni Bali Jani VIII, I Made Adnyana, menilai Wayang Ental merupakan salah satu bentuk inovasi seni yang sesuai dengan semangat Festival Bali Jani sebagai ruang bagi perkembangan seni modern, kreativitas, dan eksperimen artistik.
Menurutnya, kekuatan Wayang Ental tidak hanya terletak pada bentuk bonekanya yang berbeda, tetapi juga pada cara bertutur yang mampu menyampaikan tema festival tahun ini, “Kembara Sukma Atma Kerthi”, melalui pendekatan yang sederhana namun menyentuh.
Melalui perpaduan seni pedalangan, gerak nonverbal, puisi, musik, dan visual panggung, Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga mengajak penonton merenungkan pentingnya menghargai setiap kesempatan sebelum semuanya benar-benar menjadi “nanti dulu”. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali