January 22, 2021
Kreasi

Teater Lingkar Sulap Pengunjung Denfest Tertawa

Teater Lingkar SMP Negeri 2 Denpasar menyajikan opera berjudul “Mahkota” pada perhelatan Denpasar Festival (Denfest) ke-12. Saat pentas di panggung kuliner Denfest, Senin 30 Desembner 2019, teater yang didukung belasan siswa-siswi kreatif itu tampil secara total. Mereka tak hanya mengedepankan hiburan, tetapi lebih pada penyajian seni yang pantas dan berkualitas. Ceritanya utuh, namun dikemas menarik hingga pengunjung Denfest tertarik.

Teater Lingkar menghadirkan teater yang tidak terlalu serius, namun sarat dengan pesan moral. Dhanuh Prasthawira, pelatih dan pengarang ceritera tampak lihai dalam mengatur pembabakan, adegan hingga musik sebagai pendukung pementasan. Dibantu dengan Aditya Nugraha, ia mampu menghadirkan para pemain yang kompak dan saling mendukung, sehingga membuat pertunjukan teater itu padat dan tanpa cacat. Apalagi mempercayakan sutradara pada Narayanta Wigraha dan Sulistya, dua pemain teater senior yang kaya pengalaman.

Kisah itu dimulai dari empat orang ninja yang ditugaskan oleh Ibu Menteri untuk mencari sandal milik putra mahkota yang hilang. Mereka berpencar mencari sandal yang merupakan warisan dari leluhur sang pangeran. Setelah mencarinya keberbagai pelosok negeri, para Ninja itu akhirnya menemukannya. Ninja itu bukannya diberikan hadiah, tetapi dijebak oleh Ibu Menteri, sehingga dihukum berat. Keempat Ninja kemudian menggabungkan kekuatannya untuk melawan Ibu Menteri yang akhirnya meninggal ditangan para Ninja. Pangeran Mahkota kemudian berdamai dengan para Ninja, sehingga Negeri Jepang hidup damai.

Para pemain memiliki karakter dan ekspresi yang kuat, sehingga penampilan mendapat sambutan hangat para pengunjung Denfest. Setiap pembabakannnya dibumbui lelucon, baik melalui gerak olah tubuh ataupun dengan kata-kata. Mereka tak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga menyelipkan bahasa keseharian mereka yang terkesan konyol dan lucu. Pada bagian tertentu, terkadang memanfaatkan Bahasa Inggris, sehingga pertunjukan mereka sebagai bagian dari edukasi. “Kami ingin memperkenalkan bahasa daerah juga,” kata Dhanuh Prasthawira usai pentas.

Untuk memberikan kesan menarik dalam setiap adegan, mereka terkadang memasukkan kebiasaan pada saat latihan. Misalnya, berkata-kata seperti pedagang obat, mengadu jurus seperti dalam kartun, dan menampilkan gerak tari dalam setiap pergantian babak. Untuk memberikan kesan lucu, ia juga memasukkan TV jadi-jadian yang diperankan oleh penyiar sekaligus bintang iklan yang sangat kocak.

Pada saat itu, tampil di panggung kuliner secara bergiliran mulai dari Teater Panca, Tari India, Revoice Group, Teater Sumuki, Teater Wira Bakti, Teater Abhita dean Teater Titik Dalam Koma. (man)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *