January 23, 2022
Agenda

Penggak Men Mersi dan Parasara

Pekan Generasi Sadar Aksara (Parasara) bakal digelar pada tanggal 7-8 Pebruari 2020. Ajang sastra yang digelar kerjasama Yayasan Penggak Men Mersi dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar itu akan diisi dengan dua kegiatan edukasi, yakni pawimba (lomba) mesatwa banyol pada hari pertama dan workshop pendidikan karakter pada hari kedua. “Kami melibatkan siswa dan guru-guru SMP dalam kegiatan Parasara yang perdana ini,” kata Kelian Penggak Men Mersi Kedek Wahyudita ketika bertemu awak media, Rabu (5/2).

Kedua kegiatan tersebut dipusatkan di Yayasan Penggak Men Mersi, yang berlokasi di Jalan Supratman, Kesiman Denpasar. Pawimba mesatwa banyol mengangkat tema “Melajah Mabasa Bali Mapiranti Mesatwa Bali” diikuti sebanyak 12 grup mesatwa banyol perwakilan dari SMP di Kota Denpasar. Para peserta diwajibkan menyajikan garapan drama yang lucu. Sumber cerita sebagai inspirasi, menggali dari satwa Bali yang sudah ada ataupun dibuat baru. Durasinya 5 – 10 menit. “Materi dagelan atau banyolan, tidak boleh mengandung unsur porno dan Sara,” ungkapnya.

Pawimba ini wajib menggunakan bahasa Bali, sebagai upaya untuk membiasakan bahasa Bali sebagai bahasa pergaulan. Masing-masing grup, diiringi instrumen musik live sehingga memiliki bobot penilaian yang lebih tinggi. Para peserta, diuji cara mengkemas isi dan pesan yang ingin disampaikan dalam sesolahan itu. Masing-masing pemenang akan mendapatkan piagam penghargaan dan uang pembinaan untuk juara I, II dan juara III.

Pada hari kedua bakal diisi dengan workshop pendidikan karakter lewat permainan tradisional yang melibatkan guru-guru sebagai peserta, sedangan Made Taro sebagai narasumber. Sementara workshop basa Bali menghadirkan narasumber I Gede Agus Darma Putra, dosen yang sehari-harinya sibuk berurusan dengan lontar. Ia akan lebih banyak berdiskusi tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan lontar. Suasana diskusi pasti beda, sebab peserta diberikan berbicara dengan menggunakan bahasa Bali apa saja atau dengan dialek daerah mana saja. Bahasa Bali yang dipakai itu boleh halus, lumrah bahkan kasar.

Kadek Wahyu lalu memaparkan, kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah tentang pelaksanaan Bulan Bahasa Bali dan mendukung Program Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif yang berwawasan Budaya. “Intinya untuk memupuk kesadaran generasi untuk melestarikan budaya Bali khususnya bahasa Bali. Kami berharap pawimba ini dapat memberikan manfaat, khususnya kepada generasi muda lebih mengenal dan mencintai bahasa Bali, serta menjadi sumber pendidikan norma dan etika, serta memupuk kreativitas sejak dini di kalangan generasi muda Bali,” paparnya.

Menurutrnya, bahasa Bali adalah salah satu identitas kebudayaan Bali. Sebagai sebuah identitas kebudayaan, tentu Bahasa Bali patut dijaga kelestariannya di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan zaman. Lebih daripada itu, selain sebagai alat komunikasi, Bahasa Bali juga menyimpan banyak sekali pengetahuan tradisi yang memuat tentang peradaban manusia Bali. Oleh karenanya, jika penggunaan bahasa Bali ‘memudar’, maka akan ada sejumlah nilai budaya yang mulai hilang dari ingatan masyarakat Bali.
Untuk ikut berperan serta dalam mendukung program pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Bali di kalangan generasi, maka kami Yayasan Penggak Men Mersi berinisiatif mengadakan kegiatan dengan tajuk PARASARA yakni Pekan Generasi Sadar Aksara. Salah satu bentuk kegiatan ini adalah Pawimba (lomba) Mesatwa Banyol. “Mesatwa adalah kegiatan bercerita yang telah mentradisi dalam kehidupan budaya masyarakat Bali. Mesatwa adalah cara efektif yang dapat dilakukan untuk mengenalkan nilai-nilai budaya sejak dini kepada generasi,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar, I Wayan Gunawan menyambut baik gelaran PARASARA yang digagas oleh Penggak Men Mersi itu. Pihaknya, berharap melalui kegiatan ini, mampu menumbuhkan minat generasi muda pada sastra Bali. “Kami sangat mendukung penuh gelaran PARASARA ini, sehingga nantinya mampu memberi pendidikan karakter pada generasi ditengah era milenial saat ini,” paparnya. (B/AR/AD)

Related Posts