January 23, 2022
Kreasi

Adu Aksi Generasi Lawak Bali

Anak-anak ini tergolong kreatif. Bermodal ide yang dibalut dengan kreativitas, mereka mampu membangun kesan awal, menyajikan isi dengan pesan-pesan hingga kesan akhir. Kalau ngomong sempurna, ya… anak-anak ini memang jauh dari sempura. Tetapi, jika mau jujur penampilan mereka itu sebagai bukti bahwa Bali bakal memiliki sederetan pelawak kreatif ke depannya. Menariknya lagi, anak-anak setingkat SMP itu mulai giat memperdalam bahasa Bali sebagai dialog dalam setiap penyajiannya.

Nah, itu gambaran pawimba (lomba) lawak banyol yang digelar Penggak Men Mersi kerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar, Sabtu 8 Pebruari 2020. Ajang seni komedi itu dimeriahkan sebanyak 13 kelompok siswa yang kreatif mengolah satua (cerita) Bali menjadi lawakan segar dan lucu. Sederetan cerita tradisi diangkat dan disesuaikan dengan situasi kekinian. Walau ada yang terkesan memaksa banyol, tetapi itu akan menjadi modal untuk melawak pada penampilan berikutnya.

Masing-masing peserta didukung oleh 4 sampai 5 pendukung. Mereka mengangkat satwa (cerita) yang sangat beragam. Masing-masing grup mengekresikan cerita itu dalam adegan yang lucu, namun tidak keluar dari tema cerita yang diangkat. Satwa itu, diantaranya I Belog Melajah Dueg, I Lutung Melajah Megamel, Cupak Grantang, Pan Balang Tamak, Siap Sapih, I Lutung lan I Kakua, Lomba Desa, I Sugih Teken I Tiwas, dan I Belog.

Para pelawak cilik ini tampil lihai. Mereka sangat kreatif, sehingga muncul lawakan-lawakan baru yang lucu. Mereka membangun kesan banyol (lucu) tak hanya melalui kata-kata, dialog, tetapi juga lewat gerak dan rias yang diperkuat dengan penataan busana. Untuk memperkuat adegan lucu itu, mereka terkadang menampilkan proferty yang tentunya tidak mengganggu pementasan yang sudah dibangun sejak awal. Impropisasinya juga tampak, sehingga dalam penyajiannya tidak kaku. Beberapa dari penampilan mereka itu ada grup yang piawai membangun suasana.

Disamping menggunakan kostum sesuai karakter tokoh dalam cerita itu, untuk mendukung suasana para peserta ada yang menggunakan gambelan sebagai backsound. Walau belum sempurna sekali, namun pemampilan mereka boleh jadi sebagai ajang umtuk melestarikan bahasa Bali. Ya, karena dalam setiap dialog dari para pemain itu menjadi media untuk lebih mengenal dan membiasakan bahasa Bali, baik dalam pergaulan seehari-hari atau dalam kegiatan formal.

Menariknya lagi, anak-anak itu mulai giat memperdalam bahasa Bali sebagai dialog dalam setiap penyajiannya. Ini tentu bukan gagah-gagahan, melainkan sebagai cara membiasakan diri dalam berbahasa Bali. “Acara ini dilaksanakan untuk ikut memeriahkan bulan Bahasa Bali. Lomba Satua Banyol ini merupakan rangkaian dari Pekan Remaja Sadar Aksara (Parasara). “Kami memandang bahwa Bahasa Bali menjadi unsur kebudayaan yang sangat penting untuk dilestarikan, namun belakangan di sekolah bahasa Bali bahkan kini mulai dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit bahkan lebih sulit dari Bahasa Inggris,” kata Kelian Penggak Men Mersi Kadek Wahyudita.

Dalam pawimba itu, dewan juri akhirnya memilih SMP Wisata Sanur sebagai Juara I, SMP Negeri Denpasar sebagai juara II dan diraih SMP Negeri 3 Denpasar sebagai Juara III. Para pemenang diberikan piagam penghargaan dan uang pembinaan. (B/AD/AR)

Related Posts