November 28, 2021
Gagasan

“Rta” Gambaran Toleransi di Bali, Goes to Galeri Indonesia Kaya Jakarta

“Makrokosmos merupakan ruang besar tinggalnya beberapa kehidupan yang komplek dan tidak mudah untuk menjaga keseimbangannya. Sebagai bagian dari kebesaran itu, mikrokosmos mahluk paling sempurna harus mampu menyeimbangkan akal, budi dan tubuhnya untuik menciptakan harmonisasi kebesaran mikrokosmos. Karya ini ingin aku, kamu, kami, engkau menjadi kita”.

Rangkaian kata itulah yang mengawali pertunjukan seni berjudul “Rta” goes to Galeri Indonesia Kaya Jakarta bertempat di Geoks Singpadu, Gianyar, Sabtu 7 Maret 2020 malam. Sebanyak 9 orang penari yang terdiri dari 4 penari laki-laki dan 5 penari perempuan mendukung garapan seni itu dengan penuh ekspresi. Para penari bergerak lentur, dibarengi dengan ungkapan rasa yang kuat, sehingga setiap suasana menjadi lebih hidup. Komposisi gerak dan pola lantai digarap dengan apik, masih berpatokan pada pertunjukan seni kelompok, seperti selang-seling, bergantian, kompak dan lainya.



Menyaksikan garapan ini, koreografer dan composer muda hingga pendukungnya memang berbakat dalam menyajikan garapan seni kreatif. Mereka tak hanya menampilkan sajian seni yang indah, tetapi mampu menyampaikan nilai-nilai moral, nyakni pentingnya menjaga keharmonisan dalam perbedaan. Termasuk pula menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan, manusia dengan sesamanya serta manusia dengan Tuhan. “Idenya mengangkat konsep Tri Hita Karana. Saat ini, hubungan antara manusia dengan lingkungan, dengan sesama dan Tuhan tidak baik, sehingga terjadi bencana dimana-mana,” kata Fenny Diaristha, selaku koreografer.

Namun, dalam garapan yang diproduksi Komunitas Semut Production ini, ingin menampilkan yang sebaliknya, yaitu mengangkat keharmonisan umat yang ada di Pulau Dewata. Warga Bali yang sangat sadar akan hidup ditengah-tengah keberagaman itu, selalu menjaga hubungan baik, sehingga dapat menciptakan kehidupan yang harmonis. “Intinya., disana ada hukum alam, sehingga kami memberi judul “Rta”. Kami ingin menyampaikan harus ada toleransi manusia sebagai mahluk paling sempurna untuk mewujudkan kehidupan yang seimbang dan harmonis. Nah, kami ingin menyadarkan semua orang, hal itu memang sangat penting,” sebutnya serius.



Karena itu, dalam garapan tersebut menampilkan penari yang memainkan rotan yang menggambarkan kelenturan dalam segala hal. Rotan itu diikat dikepala, sebagai pusat pikiran yang meski disadarkan terlebih dahulu. Juga ada simbol keagamaan yang ditampilkan dalam nyanyian-nyanyian, seperti kidung, dan nyanyian dari agama lain. Karena itu, pemulihan kostum berwarna abu-abu, sebagai warna tidak memilih. Garapan ini diiringi dengan music midi yang digarap Emon Subandi dan Agung Giri. Garapan berdurasi 50 menit itu menampilkan

Pimpinan Produksi Ria Andayani yang didampingi Art Director Krisna Satya mengatakan “Rta” sebagai garapan karya seni yang akan dipentaskan di Museum Indonesia Kaya Jakarta p-ada 4 April 2020 mendatang. Bakti budaya Djarum Foundation buat satu kegiatan yang namanya Ruang Kreatif Seni Pertunjukan yang setiap tahunnya membuka peluang untuk semua komunitas ataupun kreator seni untuk kirimkan proposal karya. “Kebetulan Semut Production lolos tahan 30 besar. Saya berangkat ke Jakarta untuk workshop, bagaimana memanagement karya sekaligus, presentasi karya yang akan dibawa. Lalu seleksi lagi untuk 14 besar. Nah, dari Bali lolos tiga komunitas saja,” terang Ria Andayani.



Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA usai pementasan mengapresiasi atas keberanian anak-anak muda untuk memberikan sesuatu yang baru. Menurutnya, keberanian itu penting, seperti halnya dalam berjalan anak-anak muda ini sudah melakukannya. “Keinginan untuk mencoba kemampuan diri itu sangat penting. Dengan cara seperti itu, akan bisa sampai di tujuan. Entah kapan yang penting potensi itu ada,” ucapnya senang.

Namun, dari garapan itu, Prof. Dibia memberikan beberapa catata yang perlu dipikirkan oleh penggarap, juga pendukungnya. Pertama mengenai ekspresi gerak. Para penari belum mampu mengelola ekspresi, dibagian mana mestinya suasana gembira, dan kegembiraan itu sepeti apa. Apakah, hanya tersenyum dalam. Sebab, ketika ada gerakan yang serius, para penari menyajikan penjiwaan yang dalem, tetapi ketika ada gerakan kecil, penghayatan itu mulai kendor. Intensitad itu sangat perlu diperhatikan.

Prof. Dibia juga menyoroti pemilihan materi gerak. Sebab, pada bnagisn terakhir terlalu kentara itu sebuah gerakan tari cak. Unsure gerak tari cak itu boleh saja dimasukan, tetapi mesti diolah lagi, sehingga tidak terlalu mudah bisa ditangkap penonton. Bisa saja melakukan gerakan cak, tetapi dengan dimensi lain. “Hal itu seperti kehabisan bahan saja, sehingga mencopot gerak yang sudah ada. Mestinya, gerak cak itu tidak semuanya ke atas, sehingga gerak cak tidak terlalu jelas,” imbuhnya.



Di bagian lain, penggunaan vokal masih ada beberapa penari yang belum melakukan secara optimal, sehingga ada beberapa vocal yang sumbang. Kalau perlu, tembangkan satu baris secara utuh, sehingga pencapaian vokal tak biasa-biasa saja. Ketika, seorang penari mengucapkan, kata-kata itu tidak tertumpuk dengan music, sehingga pesan yang ingin disampaikan terganggu, yang kibatnya tidak jeras. Kapam musik keras, jangan dimasuki vocal, dengam begitu akan ada ruang untuk membisikan narasi dan didengar oleh penonton.

Lalu, tentang penggunaan rotan, Prof Dibia mengusulkan memasukan unsur Tari Sanghyang Penyalin. Rotan yang ada dalam kepala penari itu, mungkin lebih baik lebih besar, sehingga ketika ditarik pada bagian yang lepas, akan bisa menjadi topeng. Penari yang kepalanya itu diikat rotan itu lebih dari satu atau 3 sampai 4 orang penari, akan ada sesuatu uang baru. “Hal lain hanya kebersihan gerak saja, posisi pertemuan gerak hanya kurang diolah saja. Perlu lagi melakukan penghalusan gerak. Identitas Bali mesti kelihatan, tetapi tidak terlalu Bali kuwi,” pintanya. (B/*)

Related Posts