July 30, 2021
Kupasan

Wisatawan Belajar Mendalang, Wayang Sebagai Pedoman Hidup dan Kaya Falsafah

Belakangan ini seni pedalangan sedikit sekali peminatnya. Malah tidak sedikit, wayang peninggalan seorang dalang terkenal dijamannya tidak memiliki generasi, sehingga wayang itu rusak ditempatnya. Lebih menyedihkan lagi, SMKN 3 Sukawati (Kokar dulu) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sekolah seni milik masyarakat di Pulau Dewata yang khusus mencetak dalang lewat jurusan Seni Pedalangannya semakin tahun semakin sedikit mahasiswanya. Walau sudah diberikan kemudahan bagi mereka yang memilih jurusan klasik ini, namun peminatnya tetap saja ada pada urutan paling belakang setelah seni tari dan karawitan.

Berbeda halnya dengan masyarakat luar negeri, kesenian Bali termasuk seni pedalangan begitu diminati. Mereka mempelajari secara serius, bahkan sampai datang ke kantong-kantong seni wayang yang ada di berbagai daerah-daerah pedesaan di Bali, seperti di daerah Bona (Gianyar), Buleleng dan Tunjuk (Tabanan). Mereka tak hanya belajar, tetapi juga memberikan ide untuk pengembangan seni pedalangan di Pulau Seribu Pura ini. Semua itu murni karena kecintaan mereka terhadap seni budaya Bali. Lalu, apakah sikap ini bisa dikatakan sebagai penghargaan terhadap seni budaya Bali, khususnya seni pedalangan?

I Nyoman Sumandhi, MA seorang seniman dalang wayang kulit yang juga mantan Kepala SMKI Bali (nama sekolah seni setelah Kokar) ini mengatakan, orang asing sangat menghargai seni budaya Bali termasuk seni pedalangannya. Daya pikat Bali bagi wisatawan asing itu adalah budayanya, khusus seni pertunjukannya. ”Orang asing itu rela mengeluarkan uang banyak agar bisa menyaksikan dan mempelajari keunikan kesenian Bali itu. Mereka isa bolak balik dari negaranmya hanya untuk belajar seni pewayangan ala tradisional Bali,” katanya.

Dalang yang mahir memainkan lakon dalam Bahasa Inggris ini menambahkan, seni bayangan tradisional Bali ini tidak hanya dipelajari karena memiliki daya tarik, tetapi juga dipakai sebagai pedoman hidup karena kaya akan falsafah. Ada juga yang menjadikan sebagai materi mengajar karena memiliki materi yang sangat menarik untuk dikembangkan. Dan tidak sedikit yang menjadikan sumber penghasilan, baik seni pertunjukan wayangnya ataupun hanya menampilkan alat musiknya (permainan gender) saja.

Pria kelahiran Tabanan, 31 Desember 1944 ini menceritakan, sejak tahun 1973, ia sudah didaulat menjadi pengajar seni wayang Bali di Eropa tepatnya di daerah California Los Angels dan Berkley Amerika Serikat. MR. Larry Reed dari San Francisco (ahli film maker) misalnya, mewrupakan salah satu anak didiknya yang kini cukup terkenal sebagai dalang Bali di negaranya. “Boleh dikatakan Larry Reed itu paling sering pentas dari pada saya. Bahkan saat ini ia memiliki tiga gedog wayang kulit,” ujarnya


I Nyoman Sumandhi bersama cucu-cucunya (foto diambil dan facebooknya)


Sumandi asal Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan itu mengakui, Larry Reed juga mampu mengkolaborasikan pertunjukan wayang Bali dengan teknik perfilman yang dimiliki. Ia menggarap pertunjukan wayang Bali yang dipadukan dengan lighting (berbagai sinar lampu listrik), sehingga hasil karya seni terbarunya disebut dengan “Wayang Listrik”. “tambah menyandang gelar Master of Arts jurusan Theater Universitas Wesleyan Amerika ini

Menurut kakek yang menelorkan generasi dalang cilik ini mengatakan, seni pedalangan sangat mirip dengan seni teater, dimana seorang dalang harus menguasai lima unsur seni seperti seni tari, musik, tembang (vokal), lukis dan sastra. Khusus pada dialog, dalang juga harus bisa berbicara menggunakan bahasa kawi (bahasa Jawa Kuno yang kini tidak populer lagi di masyarakat). Selain praktek langsung, mereka juga belajar lewat pertunjukan wayang dan tayangan rekaman video, sehingga teknik pewayangan dengan cepat dapat dikuasai.

Selain mengajar secara langsung, Sumandhi memberikan workshop seperti di Belanda, Perancis, Cechoslovakia. “Kalau mengajar orang asing saya selalu fanatik. Sebelum memegang wayang, mereka harus mampu memainkan gender wayang. Di samping itu mereka harus bisa berbahasa kawi yang dipakai khusus untuk ucapan preratu (para tokoh raja), Sedangkan punakawannya boleh memakai bahasa mereka. Dengan begitu roh wayang itu tetap ada,” paparnya.

Mungkin sosok Sumandhi adalah pengajar wayang pertama di luar negeri. Namun, sebelumnya seni teater tradisional Bali sudah diperkenalkan sejak dulu oleh Walter Spies lewat lukisan-lukisan wayang. Bahkan orang-orang budaya di Eropa ini secara terus menerus memperkenalkan budaya Bali lewat tulisan, rekaman dan pertunjukan wayang. Sampai saat ini, wayang tetap diminati orang asing, baik untuk ditomnton ataupun sebagai media pembelajaran. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!