January 23, 2022
Kreasi

Rumah Budaya Penggak Men Mersi
Salurkan Bantuan Sembako Kepada Seniman Tua dan Pegiat Seni Kreatif

Sebanyak 80 paket sembako diserahkan kepada seniman tua, para pegiat seni kreatif, sastrawan, yang terdampak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Paket sembako itu disalurkan oleh Rumah Budaya Penggak Men Mersi didukung Kanal Bali (media partner kumparan.com). Bantuan diserahkan Kelihan (Ketua) Rumah Budaya Penggak Men Mersi Kadek Wahyudita di Yayasan Penggak Men Mersi, Kesiman, Denpasar, Jumat 22 Mei 2020. “Kita harapkan, bantuan sembaklo ini bisa sedikit membantu para seniman dalam kondisi seperti ini,” kata Kadek Wahyudita didampingi salah satu pengurus Putu Suryadi.

Setelah itu, sejumlah paket sembako kemudian dibagikan langsung ke rumah seniman di beberapa daerah yang tidak bisa hadir, karena sedang sakit. Ada pula tidak bisa ke luar rumah karena mengikuti himbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja. Team Rumah Budaya Penggak Men Mersi mengawali pemberian sembako dari daerah Kabupaten Tabanan, lalu ke daerah Buleleng dan Kabupaten Gianyar. “Kami menuju Tabanan dan Buleleng yang langsung datang ke rumah para seniman tersebut. Nah, untuk di Buleleng kami kerjasama dengan Komunitas Mahima untuk penyalurannya,” ungkapnya.



Keesokan harinmya, team Rumah Budaya Penggak Men Mersi menuju rumah para seniman yang ada di daerah Kabupaten Gianyar. Dengan bantuan seniman di daerah seni itu, team langsung menuju rumah para seniman tersebut, diantaranya Gusti Ngurah Sukra, Desak Ketut Layar, I Wayan Sukra Cokorda Bagus, I Nyoman Rawos dan lainnya.

Rumah Budaya Penggak Men Mersi membagikan sembako kepada seniman yang sudah lansia sebanyak 40 persen. Sisanya diberikan para kreator baik muda dan dewasa, serta para penulis budaya. Adapun sembako seharga Rp 250 ribu per paket terdiri dari beras 10 kg, minyak goreng, gula, telor, dan teh. “Porsi yang kami lebih banyak berikan adalah seniman yang sudah lansia, karena kami pikir di tengah menghadapi covid-19 ini, ada seniman yang memang tidak punya pekerjaan lain, selain seni. Kami juga berharap ini bisa menginspirasi para komunitas-komunitas lain untuk menyalurkan bantuan kepada para penggiat seni tersebut,” harap Kadek Wahyudita.

Pekak Ganjur (62) seniman arja dan genggong asal Pegok, Denpasar mengucapkan terima kasih atas bantuan sembako yang diberikan. Penari dan penabuh ini mengaku selama Covid-19 ini tidak ada pendapatan sama sekali. Selain menjadi seniman, pemilik nama lengkap Wayan Sudiarta ini sesekali mengambil kerjaan lepas dibidang pariwisata. Saat ini pariwisata Bali pun sedang morat marit. “Setelah Covid-19 ini datang, saya tidak lagi bisa menari. Saya juga tidak bisa melatih anak-anak memainkan gamelan genggong karena tidak boleh berkumpul. Mudah-mudahan covid-19 ini segera berakhir,” ucapnya.

Pria yang kerap memerankan penasar di seni pertunjukkan arja ini berharap pemerintah memberi perhatian kepada seniman di saat-saat sulit selama masa pandemi ini, agar para seniman tetap bisa bertahan hidup dan menghidupi keluarganya. “Semasih ada corona, kalau bisa agar diperhatikanlah oleh pemerintah. Setidaknya agar masih bisa melanjutkan hidup,” harap pria yang sudah menggeluti seni selama 30 tahun itu.

Hal senada juga dikatakan Gusti Putu Sudiarta, dalang wayang kulit asal Desa Kukuh dan I Nyoman Sumandhi, seniman dalang asal Desa Tunjuk. Kedua seniman ini mengucapkan terima kasih. “Gara-gara Covid-19 ini semuanya menjadi berubah. Sebelumnya, anak-anak selalu saja ada yang berlatih gender. Demikian pula ada yang latihan untuk persiapan tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2020. Tetapi, setelah pandemic itu, mereka tidak latihan sebagai upaya tuturt memutus rantai penyebaran Covid-19,” kata Nyoman Sumandhi dalang berbahasa Inggris itu. [B/*]

Related Posts