January 23, 2022
Pernik

“Kerthamasa” Tema Pameran Seni Rupa Sapta Pracasta di Arma Museum Ubud

Kerthamasa, masa jeda dalam budaya subak di Pulau Dewata diangkat ke dalam sebuah pameran seni rupa di Museum Arma Ubud, Gianyar. bersama oleh kelompok perupa Kelompok Sapta Pracasta bakal menggelar pameran bertajuk “Kerthamasa” di Museim Arma, Ubud, Gianyar. Pameran ini didukung oleh 7 perupa dari berbagai latar belakang, namun memiliki kultur yang sejalan. Karya-karyanya merepresentasikan UGM yang merupakan miniatur Nusantara. Pameran akan dibuka oleh Wakil Gubernur Bali, Prof. Dr. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati pada Jumat, 14 Agustus dan akan berlangsung hingga 14 September 2020.

Sedikitnya ada 37 karya yang akan menghiasi ruang pameran bernuasna Bali itu. Pameran merupakan kerjasama Kagama Bali dengan Arma Museum. Karya itu menyajikan berbagai gaya, ada karya realis, impresionis, abstrak dekoratif, kontemporer, dan kubisme. Dalam presentasi mereka yang sublim, jejak seni tradisi memang terasa agak samar. Dan yang membuat pameran ini akan menjadi beda, karena digelar pertama kali dimasa pandemic Covid-19, sehingga ada protocol kesehatan yang harus menjadi perhatian semua yang hadir. “Pameran yang juga serangkaian dengan Haru Ulang Tahun (HUT) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali,” ungkap Arya Suharja, saat jumpa di Denpasar, Selasa 11 Agustus 2020.

Arya menjelaskan, secara etimologis bermakna “Masa (-jeda) demi Kesejahteraan berkelanjutan”. Konsep Kerthamasa dalam keutuhan paradigma Subak (yang berasal dari kata “subhakarma”, parilaksana becik), lahir dari suatu sistem pengetahuan yang terbangun dari praxis atau pengalaman panjang tradisi pertanian par excellence. Suatu siasat kebudayaan untuk meraih produktifitas optimal dan berkelanjutan dalam mengusahakan pertanian basah di Bali Dwipa, sebuah pulau kecil vulkanis dengan dataran rendah yang sempit. “Kerthamasa adalah langkah konstruktif dan pro aktif dalam idea pertanian lestari,” jelasnya.



Tema ini diambil dari khazanah tatanan tradisi kebudayaan pertanian Bali, menunjuk suatu masa ketika seluruh petani anggota subak di seluruh Pasedahan dan semua Pasedahan Agung di se-antero Bali wajib melakukan jeda menanam padi untuk satu musim tanam, dan menanam palawija. Tujuan jeda ini untuk memutus siklus hidup hama padi, merawat daerah tangkapan hujan dan “mengistirahatkan” sumber air demi kesinambungan pasokannya serta memulihkan kesuburan tanah dengan menanam kacang-kacangan. “Masa jeda ini tidak akan berhasil kalau ada satu saja petani anggota Subak di suatu Pasedahan melanggarnya,” papar Arya.

Tradisi ini menegaskan kearifan para Panglingsir kebudayaan Bali terhadap keniscayaan melembagakan satu sistem yang utuh, disiplin sosial, dan pemahaman tentang perlunya pengurbanan (yasakerthi, yajna) dalam mencapai suatu tujuan. Semangat dibalik konsep Kerthamasa ini sangat relevan dihidupkan di masa kini untuk acuan memahami situasi kekinian yang sedang dialami Bali, Indonesia dan seluruh umat manusia di bumi. “Bahwa alam memiliki hukum dan batas-batasnya, dan manusia mesti melakukan tindakan konstruktif dan pro aktif, mitigasi dan adaptasi disetiap persimpangan yang dilalui perkembangan peradabannya. Pandemi ini memaksa umat manusia melakukan jeda, menoleh ke belakang dan menilai langkahnya,” imbuhnya.

Kerthamasa, periode jeda yang niscaya, saat setiap umat manusia mesti berhenti sejenak menoleh ke belakang, menilai langkah hari ini, dan menata masa depan peradaban. Setiap subjek kebudayaan patut berorientasi dan menentukan kembali arah keadaban dan peradabannya demi mencapai kesejahteraan manusia dan semesta. Presentasi Kelompok Sapta Prasasta dalam pameran ini adalah respon mereka atas situasi batas dan tawaran yang lahir dari “Tiwikrama” di studio masing-masing di tengah Pandemi Covid 19 ini.

Salah satu peserta pameran, Moelyoto mengatakan, pameran ini diniatkan untuk situasi baru ditengah Covid ini. Walau dihadapkan permasalahan global, pihaknya tetap semangat. Selama ini, semangat perupa seakan loyo dan fakum berekpresi selama 5 bulan ini. “Kami bersyukur Pemprov Bali membuka ruang dan memberikan dukungan. Kami berharap ini menjadi contoh untuk yang lain karena kita, tetapkan melalui protokol kesehatan yang berlaku,” bebernya.

Putu Suasta meminta bagi seniman untuk tetap berkarya, walau dimasa pandemic Covid-19. Jika perupa itu tidak menghasilkan karya, maka janganlah menjadi perupa. Sebab, seorang perupa itu harus selalu menghasilkan karya. Dalam kesehariannya adalah mengggores, membuat sket yang pada akhirnya menghasilkan karya. Menurutrnya, pameran ini akan menjadi menarik bila tujuannya yakni ada transaksi, sehingga perupa senang, pembeli juga senang, bahkan alampun menjadi senang. [B/*]

Related Posts