January 22, 2022
Ulasan

I Wayan Jebeg, Tularkan Ilmu Seni Hingga ke Luar Negeri

I Wayan Jebeg adalah maestro tabuh asal Banjar Batur, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Ia lahir pada tahun 1932 dari keluarga miskin, namun memiliki semangat berkesenian yang tinggi. Kepiawaiannya memainkan gamelan tradisional Bali serta menciptakan tabuh (gending), namanya tak hanya dikenal kalangan seniman di Pulau Dewata, tetapi juga mendapat apresiasi di luar negeri. Karena itu, seniman yang dikaruniai 7 anak, 10 cucu dan 15 cicit ini biasa melanglang buana ke sejumlah negara, seperti Jerman, Amerika Serikat, Italia, Jepang, dan India. Pria kalem ini bahkan didapuk menjadi pelatih gambelan Sekar Jaya di Negeri Paman Sam.

I Wayan Jebeg

Pekak Jebeg, demikian sapaan akrabnya masa kecilnya penuh perjuangan. Ketika umur 7 tahun, ia menuntut ilmu di Sekolah Rakyat (SR), sekarang SD 1 Sukawati berharap bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ia biasa berjalan kaki ke tempat sekolah dengan jarak, sekitar 7 Km. Pada suatu ketika, ia sempat ditanya gurunya yang membuatnya kaget hingga berkecil hati. Salah satunya, apakah kami siswa dari keluarga mampu, atau anak dari orang tua yang memiliki sawah. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, membuatnya semakin jengah, untuk bisa menjadi orang berguna di masyarakat.

Jebeg yang memiliki semangat yang membaja dan disertai dengan ketekunan dan kerja keras, ia kemudian mulai berkesenian mulai tahun 1942, ketika kelas III SR atau berumur 10 tahun. Ia memulai berkesenian dengan menjadi penari gandrung. Menariknya, ia terjun berkesenian hanya dibekali semangat yang tinggi dan kerja keras, tanpa mencari penguruk (pelatih). Pada tahun 1945, ia mulai belajar memainkan gamelan dari orang tuanya. Ia memulai dengan memainkan gending ngelambat, seperti gending Kumalayu khas Sukawati. Gending itu dipelajari di Puri Gianyar. Selanjutnya dipercaya menjadi juru ugal, pernabuh sebagai komando barungan gong kebyar. Saat itu diajarkan oleh Pan Pogog, Pak Yan Rindi di Puri Gianyar.

Setelah tamat SR, Pekak Jebeg kemudian mendukung sekaa gong yangt memainkan gamelan dari banjar ke banjar, dari desa ke desa. Setelah sekitar 15 tahun lamanya dan didukung dengan pengalaman, ia terus bisa menambah ilmu dan menambah skill atau keahlian dibidang berkesenian. Jebeg yang hanya tamatan SR, mulai dikenal dikalangan masyarakat. Keahliannya memainkan berbagai alat gamelan tradisional itu, membuat pria sederhana ini memiliki segudang pengalaman. Kepiawaiannya memainkan berbagai jenis gamelan itu, Jebeg kemudian dipercaya sebagai pegawai yang bekerja di URIL atau AJENDAM INDONESIA pada tahun 1962. Selama 27 tahun itu, ia kemudian mendapat kesempatan keliling Indonesia sebagai penghibur masyarakat, utamanya angkatan darat yang memerlukan hiburan kesenian Bali.

Dua puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1982, Jebeg ditunjuk sebagai penabuh gong kebyar duta Kabupaten Gianyar. Spesialisasinya memainkan instrumen terompong, dan kendang. Sejak itu pula ia memainkan nada-nada tradisional dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar di Taman Budaya, Art Center Provinsi Bali. Ia kemudian menjadi penabuh langganan PKB yang selalu hadir setiap tahun. Sebagai seniman muda, ia merasa senang dan bangga bisa tampil di pusat kesenian Bali dengan arsitektur Bali yang kental. Apalagi, setelah didapuk sebagai pembina mulai tahun 1985, Jebeg hampir tak pernah absen ke Art Center.

Suami Ni Wayan Lambon ini kemudian dipercaya sebagai pembina seni di tingkat Kabupaten Gianyar. Ia selalu dipercaya menciptakan tabuh lelambatan (gending gamelan tradisional yang tergolong lasik). Sampai saat ini, tabuh lelambatan hasil ciptaannya masih menjadi acuan bagi seniman di kalangan seniman muda. Jebeg sudah menciptakan tabuh lelembatan sebanyak 14 tabuh dalam ajang itu. Tabuh-tabuh klasik hasil ciptanya, seperti lelambatan pisan, gending lelambatan, galang kangin, gadung melati, tabuh pat dengkol, kurubaya, kumalayu dan tabuh bebarongan.

Taksu Pekak Jebeg sebagai seniman kerawitan kian terkenal di seantero jabat Bali. Ia sempat menjadi guru otodidak bagi murid-muridnya. Seniman yang sempat menjadi binaannya, seperti petinggi di sekolah seni Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha (Rektor ISI), Prof. Dr I Wayan Rai, I Nyoman Winda, Dewa Berata (Pengosekan) dan masih banyak tokoh-tokoh seniman lainya. Pekak Jebeg berpesan, didalam perjalanan seni kerawitan dimasa kini, agar tetap mempertahankan corak dan keaslian gending lelambatan. Hal terpenting dalam menabuh, adalah mengutamakan rasa, bukan karena gendingnya yang bagus ,tetapi kelihaian dan potensi penabuh yang lebih utama dalam membawakan gending itu sendiri.

I Wayan Jebeg

Seniman dan pecinta seni khususnya seni karawaitan sangat menyukai karya-karya Pekak Jebeg yang selalu tampil sebagai yang terbaik karena ciri khas “ngewilet”. Gending lelambatan yang bagus adalah tetandingannya menjadi hal penting. Disamping itu, jajar pageh juga menjadi patokan, sehingga tidak terdengan palas-palas (tidak nyambung). Namun, dari semua itu, kesuksesan dalam memainkan tabuh adalah luwung ben ngabetang (baik dalam memainkannya). Dari pengalaman itu, Jebeg lalu didapuk sebagai guru luar biasa di Kokar selama 10 tahum (1989-1998) serta dosen luar biasa yang memberikan workshop kepada mahasiswa STSI, kini ISI Denpasar.

Keahliannya memainkan gamelan tradisional Bali, Jebeg sering kali dipilih sebagai duta kesenian untuk tampil di luar negeri. Kalau dihitung, ia sudah mengunjungi negara tetangga sebanyak 6 kali, diantaranya selama 3 bulan berkeliling pentas di Amerika, sebulan keliling Jerman, selama dua bulan keliling Kota di Italia dan selama dua bulan pentas di India serta Negeri Sakurta Jepang. Pengalaman berkeseniannya memang luar biasa. Garapanya yang terakhir pada tahun 2017 yang saat itu membina Sekaa Gong Wanita PKK Desa Mas. Kini, Pekak Jebeg hanya diam di rumah mengenang masa keemasannya dalam melahirkan karya seni.

Sederetan penghargaan yang diterima I Wayan Jebeg diantaranya Piagam Hut Kemerdekaqn RI 1985 oleh Meneteri Sudharmono, Piagam Wijaya Kusuma 1986, Piagam Sharma Kusuma 1987, Piagam Seni PKB 1991.

Jebeg menderita sakit dan sempat tergolek di rumah sakit. Pendengaranya terganggu, penglihatannya juga kurang bagus, sehingga ia hanya dibantu tongkat besi untuk bisa keluar kamar. Jebeg dan seni seakan tak bisa dipisahkan. Karena, pada saat sakit pun ia masih bisa ngerambang (melakukan dengan suara dalam) gending ataupun pukulan kendang melalui tangan kreatifnya. Walau dalam kondisi yang kurang sehat, pria usur ini selalu saja bersahaja. Ketika ada seniman yang datang ke rumahnya, ia akan bercerita lantang baik tentang tabuh atau tentang suasana berkesenian di jaman ini. [B/*]

Related Posts