January 23, 2021
Kreasi

“Pandora Paradise” Karya Instalasi Ketut Putrayasa Menjadi Lebih Hidup

Sempat menyaksikan karya instalasi “Pandora Paradise” di Lapangan Puputan Badung?

Karya seni Ketut Putrayasa yang dipasang sejak, 15 Desember 2020 lalu, kini menjadi sajian seni yang lebih hidup. Pasalnya, sejumlah seniman mulai dari koreografer, hingga penyair merespon dengan kreativitas seni dari masing-masing seniman. Seni instalasi karya seniman asal Canggu, Kuta Utara, Kabupaten Badung itu dibedah lewat puisi yang membumi dan tarian kontemporer yang spesial merespon “Pandora Paradise”, pada Sabtu, 26 Desember 2020.

Pandora Paradise

Jasmin Okuba, seorang penari dan koreografer unjuk kebolehan dalam merespon seni Instalasi yang menarik perhatian masyarakat itu. Ia tak hanya menjadikan karya itu sebagai latar pentasan tarinya, tetapi juga menjadikan karya itu sebagai bagian dari pementasan. Dengan olah tubuh yang lues, Jasmin menari diantara warna-warni psychedelic pada bambu-bambu itu. Dengan memakai topeng transparan dan balutan busana putih yang sederhana, penari wanita ini bergerak diantara celah-celah tumpukan bambu itu. Terkadang mendongek, lalu bergerak menghelus bambu hingga menenggelamkan rasa ngeri pada ujung bambu.

Sementara Penyair I Wayan Jengki melalui kata-kata puitis, mengekplor karya seni instalasi itu. Melalui sajak-sajak itu, sastrawan asal Denpasar ini membadankan puisi menjadi karya trimatra dan sejarah masa depan yang saling melengkapi. Selain itu ada seniman, penulis, fotografer yang memberi tanggapan dan respon karya yang dipajang depan Monumen Patung Puputan Badung itu. Karya seni ini bakal direspon oleh seniman lainnya. Itu akan dilakukan setiap hari mulai sore hari, akan diisi dengan penampilan karya seni. “Terimakasih para sahabat yang telah merespon karya “Instalasi Pandora Paradise ” ini ada penyair, fotografer, penari,” kata Putrayasa, Minggu 27 Desember 2020.

Pandora Paradise

Karya seni ini merupakan penanda awal dari serangkaian proyek seni rupa Kuta Sunrise Project Art 2021 yang digelar pada 15 Agustus 2021 mendatang di Discovery Shopping Mall. Instalasi yang menggunakan akrilik dan bambu sintetis ini rencananya dipajang hingga 5 Januari 2021 mendatang. “Dari respon mereka, karya ini lebih mengedukasi menggugah sebuah pengetahuan baru yang hadir dan berbeda dengan karya konvensional lainya. Dari visual dan isu sangat sinkron dengan keadaan ini. Justru karya ini direspon muncul warna baru,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai kekaryaan, Ketut Putrayasa menjelaskan bentuk dari instalasi ini yakni terdiri atas 5 kotak dari akrilik, serta bambu sintetis berwarna merah, putih, kuning, hijau, orange, maupun warna emas. Sang seniman mengaku, pembuatan instalasi ini dikerjakan bersama 20 orang pekerja.Pembuatan instalasi ini memakan waktu 20 hari yang digarap oleh 20 orang. “Selain di titik nol km Kota Denpasar, pihaknya juga akan memasang hal instalasi di 8 kabupatan lainnya,” imbuhnya.

Pandora Paradise

Pemasangannya akan dilakukan setiap tanggal 15 bulan berjalan secara bergantian dengan arah berlawanan jarum jam. Pada 15 Januari 2021 akan dipasang di Gianyar, lalu di Klungkung, Karangasem, Bangli, Buleleng, Jembrana, Tabanan, dan puncaknya di Kuta, sehingga berlawanan arah jarum jam. Pusat kegiatan ini akan berlangsung di Kuta, yang akan menghadirkan instalasi matahari dengan sentuhan teknologi, sehingga seolah-olah matahari terbit di Kuta, Badung. Pembuatan instalasi Pandora Paradise ini juga berkaitan dengan Covid-19. “Kotak pandora itu kan kotak yang menyimpan keburukan manusia, termasuk penyakit. Kotak itu tertembus bambu, artinya terbuka, dan ada satu kotak yang belum tertembus bambu adalah kotak harapan, sehingga kotak harapan tersebut merupakan harapan yang menyelamatkan manusia setelah pandemi Covid-19,” paparnya.

Karya seni instalasi ini terinspirasi dari mitologi Yunani, tentang sebuah kotak istimewa yang kemudian hari menjadi sebab datangnya malapetaka. Karya seni instalasi Pandora Paradise merupakan tafsir bebas atas mitologi Kotak Pandora itu. “Kata ‘paradise’ tentu sebuah metafora, ia sebuah perumpamaan, sebagai imaji ruang dengan dalil matematik, dimana segala hal bisa dihitung, diketahui, dan dijelajahi,” jelasnya. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *