January 23, 2022
Ulasan

“Men Tiwas Men Sugih”
Sesolahan Seni Sastra Virtual Sekdut dan UHN Dalam Bulan Bahasa Bali 2021

“Yen dadi kelidin, apang tusing idupe buka kene. Yen dadi idih, apang ngidang je tiang makenyem. Niki satuan laran tiange, pageh ngelarang dharma metu galang rikalaning kapetengan. Ada tuturan satua, Men Tiwas teken Men Sugih………………………….”

Itulah sesolahan (pagelaran) seni sastra virtual “Men Tiwas, Men Sugih” yang tampil memukau. Garapan yang dipersembahkan Sekdut Bali dan Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar tampil menawan di Chanel YouTube Disbud Provinsi Bali, pada Rabu (3/2) petang. Sesolahan yang disajikan dengan apik dan sarat makna itu, merupakan agenda sesolahan seni sastra virtual Bulan Bahasa Bali 2021. Pesan moral begitu kental dalam garapan yang diangkat dari cerita rakyat itu.

Men Tiwas Men Sugih

Sesolahan ini menceritakan, Men Sugih yang kikir berulang kali menipu Men Tiwas dengan berbagai cara. Men tiwas yang begitu polos dan baik hati selalu berusaha memaafkan dan memaklumi perlakuan Men Sugih yang menindas dirinya. Suatu ketika, anak dari Men Tiwas sakit keras hingga tidak terselamatkan nyawanya. Meskipun diliputi kesedihan yang luar biasa, Men Tiwas tetap tegar menjalani kehidupan. Seperti biasa dengan Langkah tertatih karena kenangan bersama anaknya masih kuat membekas, Men Tiwas menuju hutan untuk mencari kayu bakar.

Men Tiwas Men Sugih

Di hutan Men Tiwas bertemu dengan seekor menjangan. Menjangan itu lalu menyuruh Men Tiwas untuk memasukkan tangan ke pantat menjangan. Dari pantatnya itu, Men Tiwas mendapatkan harta yang berlimpah. Mengetahui Men Tiwas mendapatkan harta yang berlimpah, Men Sugih juga berpura-pura ke hutan untuk mendapatkan anugerah dari manjangan.Namun naas, kijang tidak memberikannya anugerah, tetapi justru menariknya sehingga terluka dan babak belur.

Men Tiwas Men Sugih

 

Garapan yang memadukan unsur teknologi dan aspek seni pertunjukan dalam sebuah “seni virtual” sangat menarik, karena menyajikan berbagai macam unsur seni pertunjukan, seperti: seni teater, tari, music ilustratif, tembang, dan lainnya. Sajian ini, membuktikan seni pertunjukan virtual merupakan sebuah alternatif baru dalam sajian seni pertunjukan terkait dengan situasi pandemic Covid-19, yang membatasi ruang gerak dan apresiasi seniman khususnya pertunjukan secara langsung karena menghindari terjadinya kerumunan masa.

Konsep seni pertunjukan ini bukan diaktualisasikan dalam panggung pementasan, tetapi di depan kamera dengan teknik sinematografi. Karya ini divisualisasikan dalam bentuk video, dengan konsep total teater, sehingga dapat memberikan nuansa berbeda dari karya-karya film pendek lainnya. Semua pemain menggunakan Bahasa Bali, serta mengangkat berbagai macam suguhan Paribasa Bali. Disana ada penciptaan Pupuh sesuai dengan rangkaian cerita yang dibawakan. Alur dari karya ini menggunakan alur maju dengan pusat penokohan pada “Men Tiwas dan Men Sugih”.

Sang Sutradara, I Gede Tilem Pastika, S.Sn., M.Sn sangat jeli mengolah isi dari cerita yang dituangkan pada pembagian plot adegan dengan tetap mengacu pada sumber sastra yang diberikan oleh Panitia Bulan Bahasa Bali. Walau demikian, sutradara tampak kreatif dengan memasukan beberapa aspek improvisasi cerita, sehingga garapan ini menjadi sajian yang sangat menarik. Karya ini didukung oleh 35 orang yang terdiri dari sutradara, aktor, penari, pemusik, kameramen, editor, hingga crew perlengkapan yang merupakan mahasiswa UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan Anggota Sekdut Bali Performing Arts Community.

Koreografer yakni I Made Wira Ryandika dan Komposer I Wayan Agus Widiastra, S.Sn. tampaknya memiliki imajinasi yang sama, sehingga antara tari dan music iriangan sangat serasi. Iringan music ataupun vocal dan tempang sangat mendukung setiap gerak pemain dan setiap adegan, sehingga menjadi pertunjukan menarik. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si selaku Pembina, juga sangat sensitive, sehingga garapan ini menjadi tak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan positif dalam menjalani kehidupan.

Walau sudah tayang dengan menarik, Gede Tilem Pastika mengatakan, ada tantangan dan kendala yang dihadapi selama proses penciptaan hingga rekaman. Pertama saat membaca arah dan bentuk “karya seni virtual”. Kerap kali akhir-akhir ini seniman-institusi-hingga orang awam, menggunakan kata “virtual” sebagai alternatif untuk membangun sebuah interaksi dan aktivitas. Terlebih lagi dalam seni pertunjukan, sejak Pandemi Covid-19 ini dinyatakan sebagai darurat Nasional, ruang apresiasi karya seni terbatas hingga berujung pada “karya virtual”.

Menurutnya, karya-karya virtual merupakan perpindahan media visualisasi dari langsung menjadi tak langsung dengan piranti media rekam. “Mungkin sebelumnya lebih dikenal dan awam diketahui seperti dokumentasi video, dance video, dan lain sebagainya. Akan tetapi kami masih belum menemukan sebuah karya virtual yang memang dapat membedakan dirinya dengan dokumentasi video atau film. Terlebih lagi dua bentuk seni digabungkan, antara pertunjukan x virtual. Itu yang membuat kami berusaha keras untuk melakukan pendalaman terhadap konsep karya virtual ini,” katanya.

Tantangan kedua, yaitu cerita Men Tiwas dan Men Sugih yang merupakan Satua Bali yang sudah kerap didengar oleh masyarakat, dalam beberapa sumber literasi jika dilirik dari alur dramatiknya sangatlah minim, karena cerita yang pendek, kemudian kami membuat beberapa tambahan cerita (karangan) yang kami pergunakan dalam karya ini untuk menambah dinamika dramatic dengan tidak lepas dari cerita asli pada beberapa sumber literasi.

Tantangan ketiga, terletak pada proses penggarapan karya, yang dimana kami memiliki waktu yang cukup singkat dengan kondisi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang sedang berjalan di Kota Denpasar (Pusat aktivitas Sekdut di Denpasar). Mulai dari proses pengumpulan personil/pemain melakukan via whatssap, rapat dan reading naskah dilakukan melalui zoom cloud meeting, hingga proses perekaman karya dimana kami melakukan rapid test serta mematuhi protokol Kesehatan sesuai kondisi di lapangan saat shooting.

Perihal kendala tekhnis, yakni perekaman gambar hanya melakukan satu hari penuh, mengingat aturan tentang kerumunan di lokasi dipeketat. Sebelumnya sudah meminta izin kepada Satgas Covid setempat untuk melakukan proses perekaman. Lokasi yang kami gunakan bertempat di Br. Bukit Batu, dan Br. Bukit Jati Samplangan Gianyar. Kendala tekhnis lainnya, pada alat rekam dengan sumber tenaga terbatas (Baterai charge) yang mengharuskan crew menunggu pengisian baterai kamera apabila daya baterai dan cadangannya habis. “Unuk proses editing kami serahkan kepada rekan kami yang memang ahli dalam proses edit video dengan tetap ditemani oleh sutradara. [B/*]

Related Posts