April 20, 2021
Kreasi

Sanggar Seni Maha Gita Dwijendra Garap Sesolahan “Abhisekaning Ratu”

Hutan memiliki peran yang penting bagi kehidupan manusia. Hutan dengan berbagai jenis tumbuhan itu mampu menyerap sinar matahari, sehingga bumi dengan seisinya tidak menjadi panas. Akarnya, mampu menjaga tanah agar tidak longsor, serta menyerap air hujan sehingga menjaga kelangsung sumber air. Sinar matahari membantu, tanaman untuk berfotosintesis, sehingga menghasilkan udara untuk bernafas. Masyarakat Hindu di Bali, percaya kalau hutan itu ada Dewa yang bersemayan, sehingga hutan dijaga secara sekala dan niskala.

Maha Gita Dwijendra

Itulah pesan yang ada dalam Sesolahan (pagelaran) Seni Sastra berjudul “Abhisekaning Ratu”. Sesolahan yang disajikan Sanggar Seni Maha Gita Dwijendra serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021, dan telah ditayangkan chanel Youtube Dinas Kebudayaan Bali pada Sabtu, 20 Pebruari 2021 pukul 16.00 Wita. Sesolahan sastra ini bersumber pada sastra, sehingga pesan yang disampaikan begitu kental, yaitu menjaga kelestarian hutan secara skala dan niskala. Secara sekala dijaga oeleh masyarakatnya, dan secara niskala hutan Bali dijaga oleh pasukan Bhatari Melanting.

Sesolahan berbentuk Fragmentari itu mengangkat Kisah Bhatari Melanting di hutan sisi Barat Pulau Bali yang ada dalam Babad Brahmana Catur dan Dwijendra Tattwa. Adapun kisahnya, yakni Dang Hyang Nirartha bersama keluarganya memutuskan untuk menuju Pulau Bali setelah kerajaan Majapahit runtuh. Hanya bersaranakan daun labu, ia menyeberang Segara Rupek, lalu tiba di hutan sisi barat Pulau Bali. Seekor kera menunjukkan jalan kepada Dang Hyang Nirartha untuk memasuki hutan. Di tengah hutan, lalu bertemu seekor naga yang tengah membuka lebar mulutnya. Dang Hyang Nirartha memasuki mulut naga itu, lalu mendapatkan teratai berwarna warni.

Maha Gita Dwijendra

Ketika keluar dari mulut naga, wajah Dang Hyang Nirartha berkilau, berwarna hitam dan emas. Melihat hal itu, putra dan putrinya terkejut, lalu lari tunggang langgang. Dang Hyang Nirartha mencari ke berbagai sudut hutan, yang akhirnya menemukan putrinya itu. Putri Dang Hyang Nirartha kemudian menyatakan diri tidak bisa melanjutkan perjalanan dan tinggal di hutan itu. Ia kemudian meminta anugerah kepada ayahnya agar bisa bertubuh halus dan abadi. Permintaan itu dikabulkan Dang Hyang Nirarta dan putrinya dipuja sebagai Batari Melanting hingga saat ini.

Maha Gita Dwijendra

Fragmentari ini melibatkan 38 orang seniman tari, tabuh dan seorang dalang serta 3 seniman wanita sebagai gerong. Semua kisah itu dibeberkan secara gamlang melalui gerak tari yang ritmis dan indah. Disamping mengutamakan ekpresi dari setiap penari, pola lantai juga diolah sangat manis, sehingga membuat garapan itu menjadi lebih indah. Penataan kostum begitu manis, sehingga memperkuat karakter dari setiap tokoh dalam fragmentari itu. Sesolahan itu menyajikan dinamika yang kuat, sehingga klimak dari cerita yang diangkat seakan memberi rasa tegang, namun kembali syahdu.

Permaianan property bukan sekadar tempelan belaka, namun dapat mendukung suasana. Sebut saja, dalam menyeberang laut, Dang Hyang Nirarta bersama putra dan putrinya naik perahu mengarungi Selat Bali. Laut digambarkan lewat gerak kain, yang kadang-kadang dikuatkan dengan tarian ikan yang riang karena hidup damai di laut. Termasuk pula tari kera di tengah Hutan Bali Barat yang lincah dan penuh persahatan. “Kami ingin menggambarkan perjalanan Dang Hyang Nirarta itu seperti apa yang ada dalam lontar. Untuk memberikan rasa indah dan dinamis, saya juga memanfaatkan gamelan Semarapagulingan sebagai iringannya,” kata Koreografer, Ida Ayu Novita Yogan Dewi,S.Pd.,M.Pd.

Ida Ayu Novita Yogan Dewi

Koreografer, Ida Ayu Novita Yogan Dewi,S.Pd.,M.Pd.

Ayu Novita yang juga sebagai Pembina Seni Tari di Universitas Dwijendra itu menambahkan, inti dari sesolahan ini, yakni penganugrahan yang diberikan oleh Dang Hyang Nirartha kepada putrinya sebagai Bhatari Melanting. Maka itu, sebagai iringan yang dapat memberikan nuansa relegi yaitu Gamelan Semarapagulingan. Dalam penyajiannya, tidak ada tambahan musik lainnya, namun dibantu seorang dalang untuk mempertegas maksud dan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat penikmat.

Untuk iringan tabuh, dipercayakan kepada Komposer I Gede Yusma Hanggara Putra, S.Sn. “Kami dari Sanggar Seni Maha Gita Dwijendra ini ingin menghibur masyarakat lewat sesolahan sastra ini, namun tetap menyelipkan pesan. Apalagi, saat ini dimasa pandemi, situasi ekonomi serba sulit masyaralat perlu diingatkan untuk tetap menjaga hutan tetap lestari, sehingga sumber-sumber air juga terjaga,” tutup wanita yang selalu enerjik ini senang. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *