May 17, 2022
Kreasi

“Laksmi Kirana” Tari Kebesaran Dapat HKI

Tari Laksmi Kirana merupakan garapan kreasi yang dibawakan secara kelompok sebagai Maskot SMK Bali Dewata dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan Bali Dewata. Karya seni yang betul-betul baru itu, diciptakan oleh Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati,SST., M.Sn pada 2019. Tari ini tak hanya biasa disajikan oleh para siswi SMK Kesehatan Bali Dewata, tetapi sudah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual bersifat individu dari pemerintah pusat. Bahkan, sertifikat HKI itu telah diterima oleh penciptanya Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati, dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di beberapa waktu lalu.

Laksmi Kirana

Tari Laksmi Kirana diciptakan melalui proses dan perenungan yang matang, sehingga betul-betul mencerminkan dari SMK Bali Dewata tersebut. Tari mengisahkan keagungan Dewi Laksmi ketika menurunkan ilmu dan mengajarkan pendidikan serta ketrampilan kepada generasi muda. Ilmu yang diturunkan memiliki ketrampilan khusus, seperti dibidang boga, kesehatan, kecantikan, dan lainnya. “Laksmi Kirana ini khusus diciptakan sebagai tari kebesaran SMK Bali Dewata dan SMK Kesehatan Bali Dewata. Prosesnya sedikit ppnajnga, sehingga tari sebagai Maskot SMK Bali Dewata dan SMK Kesehatan Bali Dewata itu betul-betul mencerminkan dari sekolah tersebut,” ucap, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Dapam penyajiannya, Tari Laksmi Kirana ini memiliki empat bagian atau struktur, yaitu pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad. Pada bagian pepeson menggambarkan prabawa Dewi Laksmi, dengan atribut kipas sebagai simbol keagungan dan kewanitaan. Pada bagian ini menonjolkan pesona bumi akan munculnya keagungan, sehingga suasana yang ada adalah prabawa Dewi Laksmi. Pada bagian pengawak, Dewi Laksmi dengan prabawa kipas untuk menurunkan ilmu pengetahuan kepada sisya (siswa), kemudian mengajarkan ilmu dan keterampilan.

Laksmi Kirana

Sementara pada bagian pengecet, menggambarkan Dewi Laksmi yang menguji keterampilan para sisya, setelah diberikan dan diajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dalam bagian ini, tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan secara terori, tetapi juga melakukan langsung (pratek), sehingga ilmu itu benar-benar dapat diterma pasa sisya. Dewi Laksmi mengajarkan keterampilan melalui simbol-simbol gerak yang abstrak, bukan dalam bentuk gerak dramatic. Selanjutnya dibagian pekaad (ending), kewajiban Dewi Laksmi untuk mengajar sudah selesai, maka kembali ke khayangan, yang digambarkan dengan posisi prawaba Dewi Laksmi dengan atribut kipas.

Masing-masing figure dalam tari ini memiliki gerak yang khas. Dewi Laksmi misalnya, memiliki gerak yang beda dengan penari figure yang ada berfungsi sebagai emban dan sisya-nya. Missal pada posisi agem, geraknya masih ada nafas dewa dewi, seperti gerak mudra. Sementara, gerak penari sebagai sebagai sisya memiliki gerak yang berbeda, sehingga levelnya lebih rendah dan berbeda. “Saya membuat gerak para sisya dengan level yang lebih rendah atau sempit, sehingga prabawa Dewi Laksmi tetap menonjol agung,” terang pemilik Sanggar Sasi Wimba Bali ini.

Seniman yang sering menjadi duta seni ke luar negeri itu, ada gerak-gerak baru sebagi ciri khas dari tari ini. Misalnya, dalam gerak tari yang menggambarkan sedang mengajar keterampilan, diantaranya; gerak nyabet yaitu sebuah gerakan melakukan aktivitas bekerja, gerak moncer menggambarkan keterampilan aktivitas orang yang sedang mengerjakan keterampilan tangan, serta gerak mogel sebuah gerakan membersihkan muka sebagai gambaran dalam bidang kesehatan. Dalam garapan ini, juga ada gerakan nyantra yaitu gerakan berputar sesuai arah mata angin dengan posisi tangan mudra untuk gerakan Dewi Laksmi dan gerak tangan jeriring untuk para sisya.

Ekspresi para semua penari, berekspresi senang yang menggambarkan lewat gerak encah cerengu yaitu, gerakan mata mendelik, tetapi dengan senyum yang manis. Semua rasa itu disimbolkan dengan gerak. Selain gerak tari, setiap tokoh yang ada dalam tari ini juga dibedakan dengan kostum. Tari yang berdurasi sekitar 8 menit itu menggunakan iringan Gong Kebyar yang digarap oleh I Ketut Budiana, S.Sn. [B/*]

Related Posts