June 30, 2022
Kreasi

Rekasadana PKB XLIII Sanggar Seni Tasik Kula Githa Banjar Suwung Kangin Sajikan Tari Klasik Palegongan

Jika rindu dengan tari-tarian klasik palegongan buka saja Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Sanggar Seni Tasik Kula Githa Banjar Suwung Kangin, Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan menampilkan kesenian palegongan dalam acara Rekasadana (Pergelaran) Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, Senin 28 Juni 2021. Sanggar seni yang didukung para seniman muda ini tak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengingatkan masyarakat bahwa Bali memiliki kesenian adiluhung yang patut dilestarikan. Bahkan, pergelaran kesenian klasik ini dapat menjadi obat rindu bagi pecinta kesenian Bali, khususnya tari klasik palegongan.

Pada pergelaran saat itu, penonton memang dibatasi sebagai penerapan Protokol Kesehatan (Porkes) dalam upaya mencegah penularan Covid-19. Walau demikian, masyarakat bisa menyaksikan dalam Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Dalam PKB tahun 2021 ini, Sanggar Seni Tasik Kula Githa menyajikan tari legong klasik yang sudah ada dan tari legong kreasi yang diciptakan baru, namun tetap dengan nuansa klasik. Tari yang disajikan, yaitu Tari Legong Kuntul, Tari Legong Kreasi Ksatria Wadu, Tari Legong Manuka, Tari Jauk Manis

Tari Legong Kuntul dibawakan oleh 6 orang penari wanita yang sangat lincah da enerjik. Walau tarian ini terfgolong klasik, namun mereka mampu memberikan jiwa, sehingga maksud dalam tari itu bisa sampai kepada masyarakat. Legong Kuntul merupakan tarian balih-balihan yang menceritakan sepasang burung kuntul yang asik bercengkrama. Tari ini menggambarkan karakteristik keanggunan burung bangau atau kokokan di tengah sawah, sebagaimana mereka melakukan kebiasaannya sehari-hari dalam mencari makan, terbang, dan bermain bersama. Tari ini memiliki melodi serta gerakan yang khas, sehingga memperindah keseluruhan tarian yang sangat klasik ini.

Tari Klasik Palegongan

Tari Legong Kreasi “Ksatria Wadu” menceritakan kelahiran Srikandi sebagai reinkarnasi dari sosok Dewi Amba dalam kisah Mahabratha. Kelahirannya kembali untuk membalaskan dendamnya kepada Bhisma, karena telah menolak menjadikannya istri. Srikandi hidup dan mendedikasikan hidupnya sebagai sosok wanita yang pemberani, bangkit dari keterpurukannya, agar bisa maju ke medan perang sebagai seorang Ksatria Wadu. Tari legong yang dibawaka oleh dua penari wanita ini lebih memperlihatkan karakteristik Srikandi sebagai wanita tangguh dan menampilkan saat ia mempersiapkan diri dengan belajar memanah.

Tari Klasik Palegongan

Penampilan berikutnya, Tari Legong Manuka yang menggambarkan karakteristik Burung Puyuh. Tari ini bermula dari Epos Mahabharata pada bagian Sabha Parwa, yang menceritakan tentang seorang bidadari yang dikutuk oleh Dewa Brahma menjadi Burung Puyuh. Legong Manuka benar-benar menyajikan karakteristik dari burung puyuh yang lincah dan energik, namun tampil sangat manis. Untuk penampilannya kali ini, Tari Legong Manuka didukung oleh 5 penari dan seoprang tukang tandak.

Diakhir penyajiannya, Sanggar Seni Tasik Kula Githa Suwung Kangin menmapilkan Tari Jauk Manis yang dibawakan oleh I Komang Zico Ananta Mulya S. Tari Jauk Manis merupakan salah satu tari tunggal yang menggambarkan seorang raja yang sedang berkelana, sehingga tarian ini memiliki gerakan yang beringas, berwibawa, lemah-lembut dan memiliki gerakan yang lebih fleksibel dari jauk keras. Tarian ini memiliki makna, seorang pemimpin harus mampu melindungi rakyatnya, dimana seorang raja bisa berlaku beringas (tegas) sehingga ditakuti oleh musuh-musuhnya dan berlaku lemah lembut, sehingga dihormati dan dikagumi oleh rakyatnya. [B/*]

Related Posts