November 26, 2021
Kreasi

Parade Gong Kebyar Dewasa PKB XLIII Duta Gianyar dan Kota Denpasar Sama-sama Keluarkan Senjata Pangkukas

Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII antara Duta Kabupaten Gianyar dan Kota Denpasar yang ditayangkan channel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan Bali TV, Sabtu 19 Juni 2021 sungguh memukau. Kedua sekaa memang unggul dengan karakter daerah masing-masing. Seniman muda sebagi pendukungnya, tampil dengan teknik permainan gamelan yang khas. Struktur gending, bentuk tari, stail dan gaya penampilan masing-masing menyajikan senjata handalan dalam pentas seni bergengsi ini.

Parade Gong Kebyar Dewasa Duta Gianyar

Duta Kabupaten Gianyar dipercayakan kepada Sekehe Gong Adhi Putra Kencana Banjar Kawan, Desa Mas, Kecamatan Ubud, dengan segudang pengalaman pentas. Kreatif dalam berkesenian, dan selalu inovatif dalam berkarya. Tidak kalah menariknya dengan Duta Kota Denpasar yang menampilkan Sekaa Gong Mimba Merdangga Desa Adat Intaran, Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan. Sekaa gong yang berasal dari kawasan wisata itu, menyajikan karya seni dengan nilai artistik tinggi. Berkali-kali pentas, baik dalam ngayah, menyambut tamu dan event besar lainya menjadikan sekaa ini semakin kuat.

Pada saat ditayangkan lewat media sosial, Sabtu 19 Juni 2021 Sekehe Gong Adhi Putra Kencana yang merupakan generasi ketujuh menampilkan Tabuh Kutus Lelambatan “Kala Cakra”. Tabuh ini, ditata oleh I Wayan Darya sebagai sebuah fenomena peradaban yang selalu dinamis, bergerak mengikuti hasrat yang bergejolak dalam alur logika alamiah naluri musikal kehidupan. Dalam tabuh itu, jati diri lelambatan masih dipertahankan dalam tata kreativitas musik yang berkembang menciptakan nuansa era baru yang elegan.

Tabuh Kala Cakra ini disuguhkan dengan enak, mengalir bagai nafas kehidupan bergerak seperti aliran sungai menuju samudera kehidupan yang penuh gejolak dan dinamika. Ibarat waktu yang tidak memiliki hulu atau muara, bergerak sepanjang masa, diyakini membawa petaka ataupun pahala, sangat kontradiktif dan berada di luar logika manusia, tidak ada kebenaran ataupun kesalahan. Gerak waktu amat misterius, kehadirannya dirasakan, namun hasilnya tidak bisa diramal. Waktu ada dimana-mana, tetapi manfaatnya tidak ada pada semuanya.

Berikutnya menampilkan Tari Kreasi Kekebyaran “Wong Kepeng” yang syarat makna dan menginspirasi. Idenya, dari karya patung “pis bolong” oleh sang maestro almarhum Ida Bagus Tilem, sebagai salah satu penggagas kemunculan seni patung pis bolong dari sejak 1936 bersama para seniman patung lainnya di Desa Mas Ubud. Wujud karya seni patung pis bolong dimuliakan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatara Rambut Sedana yang dipuja pada rahina Buda Cemeng Kelawu sebagai Dewa Kesejahteraan.

Kadek Oleh Sugiarta selaku penata tari serta Dewa Putu Rai sebagai penata iringannya, merepresentasi dari keunikan, kekuatan, keagungan, serta nilai magis yang terpancar dari keindahan karya seni patung pis bolong itu. Beberapa busana panari dikombinasikkan dengan patung uang kepeng. Karya seni tari ini, seakan menguatkan karya seni patung yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Desa Mas dan Bali pada umumnya. Karya tari yang dibawakan oleh 7 orang penari itu mampu memberikan vibrasi positif, serta membangkitkan spirit jiwa paripurna.

Parade Gong Kebyar

Penampilan ketiga, menyajikan Tari Kreasi Bebarisan Tridatu dengan mengangkat tiga kekuatan dari Hyang Widhi wasa, yaitu Trimurti : Brahma, Wisnu, dan Siwa atau Utpeti (Pencipta), Stiti (Pemelihara) dan Prelina (Pelebur). Ketiga kekuatan ini terjalin kuat dengan format saling mengikat satu sama lainya yang diungkapan dalam gerak tari dinamis. Sebanyak 10 penari sebagai pendukungnya, menari dengan busana agung seperti Dewa. Membawa property tombak dan pada bagian tertentu memainkan cakra. Pada bagian akhir, menampilkan latar berwarna tridatu dan Cakra berputar selanjutnya ending dengan tapel berwajah Tri Murti dalam ukuran besar.

I Made Sidia sebagai konsep dan artistik garapan memiliki ide serima dengan I Wayan Budiarsa Mayun sebagai penata rai, I Ketut Cater penata tabuh serta I Wayan Swastini sebagai panata kostum, sehingga sajian itu menjadi lebih indah sesuai dengan karakter tokoh yang diangkat. Lewat pesan yang disampaikan garapan tari ini, seakan mengajak orang ingat dan yakin, akan kesucian Tridatu ini. Tidak hanya sekedar hiasan, melainkan kekuatan secara lahir dan bathin yang melekat pada diri agar segera terhindar dari wabah virus corona yang sedang terjadi saat ini. Karena sejak dulu, Tridatu diyakini oleh umat hindu sebagai kekuatan niskala, yang bisa menolak wabah penyakit, Gering Agung.

Duta Kota Denpasar menyajikan Tabuh Kutus Lelambatan Kreasi Pedada yang sangat menawan. Pedada merupakan jenis buah-buahan dengan memiliki rasa asam manis yang tumbuh dipesisir pantai Sanur tepatnya di Hutan Mangrove. Sejak dulu, buah ini mendukung kehidupan adat di Desa Sanur yang dipergunakan dalam acara mendak siwi seusai acara melasti, yang disajikan lewat kudapan makanan ciri khas Bali (rujak), sehingga patut dipelihara dan dilestarikan. Sifat, manfaat dan keguaan dari buah ini digambarkan dalam olahan melodi pada barungan gong kebyar.

Walau dikemas menjadi bentuk Tabuh Kutus Lelambatan Kreasi yang baru, namun I Ketut Suandita (Kak Gong) selaku penata tabuh ini tetap mengedepankan substansi pokok dari jajar pageh tabuh klasik pegongan kreasi. Tabuh kutus klasik “lasem” menjadi dasar dari garapannya ini, lalu mendapat sentuhan pola-pola garap kekinian yang kreatif dan inovatif, sehingga muncullah Tabuh Kutus Lelambatan Kreasi yang dapat memberi warna seni budaya di Pulau Dewata.

Duta Kota Denpasar kemudian menampilkan Tari Kreasi Kekebyaran “Mimba” yang ditata oleh Ida Bagus Eka Haristha dan I Wayan Gde Arsana sebagai penata iringan. Tari ini menggambarkan manfaat dari pohon dalam suatu areal luas areal yang disebut hutan. Salah satu tumbuhan, yaitu intaran merupakan salah satu spesies tumbuhan yang mempunyai multifungsi baik sosial budaya dan agama. Hal itu menyebabkan intaran menjadi salah satu tumbuhan penting dalam kehidupan masyarakat di Bali, intaran dalam istilah jawa kuno disebut Mimba yang menjadi cikal bakal desa intaran.

Di awal penampilan, karya ini menampilkan property seperti Bali Kulkul. Gamelan mulai ditabuh, para penari diatas bale lalu turun menuju. Dalam bagisan pepeson, sebanyak 9 penari mengawali gerak dengan motif seperti Tari Trunajaya, lalu menari duduk seperti Tari Kebyar Duduk yang dominan mermainkan kancut. Gerak para penari tak hanya mengalun, tetapi juga menampilkan beberapa motif gerak yoga, seperti kayang. Di bagian pengecet, penari yang memaknai gerak dengan tempo, tanpa iringan musik, dfan membunyikan kentongan. Pada bagian tertentu, dua orang penari menari bersama penabuh, lalu menari dalam traf, dan diakhirnya dengan membunyikan kulkul.

Dipenghujung penampilannya, Duta Kota Denpasar menyajikan Tari Baris Slimpet yang sarat makna. Slimpet berarti persilangan. Idenya, menggabungkan tari baris sakral yang ada di Desa Sanur dengan mengangkat spiritnya, yaitu Tari Baris Telek dan Baris Cina yang ada di Desa Sanur. Tari Baris Telek berada di Sanur bagian Utara (Sanur Kaja) menganut paham Siwa dan Tari Baris Cina berada di Sanur Intaran bagian Selatan (Semawang) menganut paham Budha. Ketika Siwa dan Budha menyatu, akan menghasilkan sebuah ketenangan (keseimbangan) dalam jiwa.

Penata tari Ngurah Krisna Murti dan penata iringan I Wayan Adi Darmawan mentransformasikan ide itu ke dalam sebuah balutan karya tari bebarisan sebagai bukti telah terjadinya alkuturasi budaya antara Bali dan Cina. Bahkan, mampu berbaur pada kehidupan masyarakat Bali, serta memberi nafas harapan baru dalam wujud persembahan terhadap alam semesta, agar memberi sebuah ketenangan dalam jiwa di tengah gejolak musibah yang sedang kita alami. [B/*]

Related Posts