November 27, 2021
Ulasan

I Wayan Suweca, Kecil Mematung Kini Pengabdi Karawitan

Masyarakat seni, khususnya penekun seni karawitan pasti kenal dengan I Wayan Suweca. Pria kelahiran, 31 Desember 1975 di Banjar Tegal Tamu, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar ini merupakan seorang pengabdi teguh karawitan Bali. Ia tak hanya melahirkan karya-karya yang mendumental, tetapi juga mampu menciptakan segudang generasi seni yang handal, khususnya dalam memainkan gamelan Bali. Kamampuan dalam olah seni gamelan, tak hanya bersinar di Pulau Bali, tetapi cemerlang juga di nusantara dan internasional. Maka tak salah, Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan penghargaan “Adi Sewaka Nugraha” tahun 2021 serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 tahun 2021.

Atas pengabdian, kegigihan dan keteguhannya dalam membina, melestarikan dan mengembangkan seni tari tanpa mengenal lelah dan putus asa, ia pernah menerima penghargaan Wijaya Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar pada 2001 dan menerima tanda kehormatan Satyalencana Karya Sastya XX Republik Indonesia tahun 2015. Wayan Suweca lahir dari keluarga pematung yang sangat terkenal di jamannya. Walau semasa kecilnya rajin dan aktif mematung (membuat patung), namun ia lebih condong menyukai seni pertunjukan, yakni tari dan tabuh. Maka, ia memiliki pilihan berbeda dari anggota keluarganya, yakni justru terkenal sebagai seniman karawitan.

Untuk menentukan pilihannya itu, pria kalem ini membutuhkan waktu cukup untuk mengetahui seni mana yang memang dicintainya. Ia akhirnya memilih seni tabuh. Alasannya cukup sederhana, karena setiap orang bisa mendengar, mengapresiasi, dan menghargai permainan tabuh. “Saya sudah sejak Sekolah Dasar (SD) sudah belajar memainkan gamelan. Saya belajar dengan ayah yang merupakan tokoh pematung dan pangrawit di Banjar Tegal Tamu. Ayah merupakan tukang kendang yang hebat. Saya belajar banyak tentang alat musik itu dari ayah,” aku Suami Ni Ketut Mariatni Sukadewi ini polos.

Ketika menjadi siswa SMP Negeri Gianyar di Singapadu pada tahun 1972-1975, prestasinya terbilang moncer. Ia terpilih menjadi tukang kendang terbaik di sekolah tersebut. Berdasarkan prestasi itu, ia diajak pentas ke berbagai wilayah di Desa Singapadu dan Batubulan. Lewat pengalaman itu, bakat seninya semakin terasah, sehingga melanjutkan pendidikan ke Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) Bali pada 1975 untuk mengasah kemampuan dalam olah nada. Selama menjadi siswa, ia terbilang sebagai anak didik yang rajin, kreatif dan ramah.

Berkat keahliannya itu, anak kelima dari sembilan bersaudara dari pasangan I Wayan Sana dan Ni Made Roji ini terpilih menjadi penabuh inti yang kerapkali pentas keluar daerah. Sebut saja pentas di Surabaya, Blitar, Malang, hingga beberapa kabupaten di Jawa Timur. Bahkan sampai ke Indonesia bagian tengah dan timur, seperti di Sulawesi, Kalimantan, hingga Timor-timur (Timor Leste). Setamat dari Kokar Bali pada 1979, ia mulai menimbang-nimbang untuk melanjutkan pendidikan kejenjuang lebih tinggi dengan memilih jurusan karawitan.

Sang ayah yang merupakan sosok pembimbing yang luar biasa, lalu mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan (kuliah) memilih jurusan karawitan di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar (Institut Seni Indonesia_sekarang) pada 1979. Saat itu ia membulatkan tekad untuk menempuh pendidikan Diploma III di kampus seni milik masyarakat Bali itu. “Saya masih ingat dengan pesan ayah, pekerjaan apa yang paling disenangi itulah yang dipilih. Jangan pernah terpengaruh dengan orang lain untuk menentukan kompetensi diri. Apa pun pekerjaan akan berhasil dan berbuah kebahagiaan, bila itu merupakan pekerjaan yang disukai. Dan sebaliknya, jika pekerjaan yang tidak disenangi jangankan bahagia, berhasil pun tidak akan didapatkan. Karena kata-kata itu, saya membulatkan tekad untuk melanjutkan pendidikan,” ceritanya.

Selama di ASTI Denpasar, rasa percaya dirinya menekuni seni karawitan semakin tinggi. Ia kemudian meraih gelar BA kala itu, mesti penuh perjuangan. Ia lulus dengan lancer pada 1983. Tamat DIII, ia kemudian diminta menjadi dosen karena kompetensinya dinilai mumpuni. Untuk lebih memantapkan diri dibidang ilmu pendidikan karawitan, ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1984-1987). Setelah itu, ia mendapat kesempatan lagi untuk kuliah di jurusan musik Universitas Demontreal Kanada (1989-1992). “Saya sebenarnya diberikan tugas mengajar di Kanada, karena Pemerintah Indonesia ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Kanada lewat seni budaya,” paparnya.

Kedutaan Besar Indonesia di Ottawa memberikan sumbangan gamelan Bali berupa seperangkat gong kebyar, angklung, rindik, dan gambuh kepada Pemerintah Kanada. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu, sehingga selain mengajar di Kanada, ia juga meminta pihak kampus untuk membiayainya kuliah S2 di Universitas Demontreal Kanada. Di negara yang terletak di Amerika Utara itu, ia mengajar sekaligus belajar. Setelah selesai belajar, ia kembali ke Tanah Air melanjutkan kariernya menjadi Dosen di ISI Denpasar. Menariknya, selama proses belajar-mengajar ia kerap berpindah-pindah jurusan dalam mengajar.

Wayan Suweca pada mulanya membesarkan Jurusan Karawitan dan melahirkan seniman-seniman hebat. Setelah perjalanan panjang di jurusan itu dan seiring dengan dibukanya Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), ia kemudian dipindahkan ke jurusan baru tersebut untuk membantu mengembangkan jurusan sehingga kian diminati oleh calon mahasiswa. ISI Denpasar kembali membuka jurusan baru, yakni Jurusan Musik Barat, dan ia kembali dipindahkan ke Jurusan Musik Barat itu. Kepercayaan yang diberikan itu, menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan mengajar yang mumpuni selain bidang karawitan.

Selama perjalanan dilembaga pendidikan ISI Denpasar itu, Wayan Suweca yang memang rajin dan konsisten itu pernah menduduki beberapa jabatan, antara lain Ketua Jurusan Karawitan STSI Denpasar (1992-2002), Pembantu Ketua IV STSI Denpasar (2002- 2004), Pembantu Rektor IV ISI Denpasar (2004-2008), Pj. Pembantu Rektor IV ISI Denpasar (2008-2009), dan Pembantu Rektor IV ISI Denpasar (2009- 2013). Ia juga acapkali ditugasi mewakili kampus ke luar Bali dan luar Indonesia dalam rangka menjalankan misi kesenian, mengisi workshop, dan kepentingan lainnya.

Ayah dari I Gede Indra Suija Putra dan I Kadek Jayendra Dwi Putra ini memiliki jam terbang tinggi dalam urusa kesenian Bali. Ia sempat berkeliling ke beberapa negara, seperti Hongkong, Australia, Jepang, Spanyol, Jerman, Swiss, Singapura, India, Cina, Malaysia, Republik Ceko, dan berbagai negara lain. Tak terhitung pula kegiatan ilmiah diikutinya. Begitu juga dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, ia selalu terlibat. Bahkan hingga kini I Wayan Suweca tetap melatih karawitan ke desa-desa di seluruh Bali. Pembinaan itu tidak saja untuk kepentingan pentas PKB, namun juga untuk kepentingan pengembangan seni karawitan di desa-desa yang dibinanya.

Selama di lapangan, ia kerap menemukan latar belakang maupun karakter sekaa yang berbeda-beda. Karena itu, metode yang dipakai untuk mengajar pun berbeda-beda. Kunci utama mengajar di desa-desa adalah disiplin waktu dan mengontrol emosi. Selama mengajar tidak boleh marah seberapa pun jengkelnya. Sang pengajar juga tidak boleh putus asa dan bosan dalam mengajar. Kesabaran pun diuji saat mengajar. Antara mengajar secara akademik di kampus dengan mengajar di banjar-banjar sangatlah berbeda. Sebagai pengajar akademik, mesti tegas dan taat aturan yang penting dan harus ditunjukkan. Pendidik perlu mendorong mahasiswanya untuk maju. “Jika mengajar di desa tidak boleh marah, di kampus justru kebalikannya,” terangnya.

Wayan Suweca sering didapuk Dinas Kebudayaan Provinsi bali sebagai koordinator dalam kegiatan seleksi materi-materi unggulan PKB, seperti gong kebyar wanita, anak-anak dan dewasa.. Mengemban tugas sebagai koordinator bukanlah hal mudah. Pasalnya, dalam membuat keputusan menang atau kalah dalam suatu seleksi, kerap kali dihadapkan pada intervensi dari berbagai pihak. “Kalau urusan itu, saya tidak bisa ditekan oleh siapa pun. Saya menginginkan kemajuan semua sekaa yang ada di Bali. Perkembangan seni karawitan saat ini sudah sangat luar biasa, baik dari segi kuantitas, fasilitas dan minat anak-anak muda cukup merata di seluruh Bali,” ujarnya bangga.

Namun, secara kualitas masih perlu dibenahi agar tidak keluar, bahkan jauh melenceng dari pakem-pakem maupun ilmu estetika komposisi dan estetika seni. Semua gamelan dan tabuh di Bali memiliki nilai budaya masing-masing. Namun, sering kali para seniman muda yang berkreasi secara berlebihan dan mengabaikan ilmu estetika seni. “Sekarang ini permainan gamelan cenderung menunjukkan kemampuan teknis, kecepatan, dinamika, ritme dan kerumitan bermain, yang seolah-olah menunjukkan kepiawaian bermain karawitan. Saya rasa disitu ada kekeliruan besar. Karya musik merupakan karya hidup yang paling sensitif untuk memengaruhi karakter seseorang dan membawa perasaannya ke alam lain,” jelasnya.

Karya yang hidup adalah karya yang tidak terlepas dari dua hal yang paling mendasar, yakni sekala dan niskala. Dua kekuatan yang terpadu secara seimbang itu, yakni kekuatan ritme yang membangunkan energi, dan kekuatan melodi yang menyentuh jiwa. Sebagai akademisi, ia merasa memiliki tugas untuk menyadarkan kembali, membenahi kondisi di lapangan, sembari mendiskusikan bersama keberadaan seni karawitan di Bali. Semoga saja berhasil. [B/*]

Related Posts