January 23, 2022
Kreasi

“Rejang Shanti”, Tarian Pengiring Upacara di Banjar Desaanyar

Wajahnya sumringah, tulus dan penuh syukur dalam melakukan persembahan melalui gerak tari. Dengan memakai baju kebaya putih, kain kuning dan selendang kuning mereka memamerkan getar jeriji yang lentik, seledet mata yang tatit hingga senyum yang sangat menarik. Gerak yang dilakukan tidak terlalu rumit, namun penuh jiwa. Penampilan tidak memikat, karena dilakukan dengan sungguh-sungguh dari dalam jiwa yang tulus. Apalagi, didukung dengan iringan tabuh yang sangat khas, membuat para penikmatnya khusuk dan fokus untuk bersujud.

Itulah penampilan Tari Rejang Shanti yang dibawakan oleh 10 (sepulah) wanita Banjar Desaanyar, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan beberapa waktu lalu. Tari itu merupakan hasil dari Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh para Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Tari yang diciptakan oleh Ni Wayan Suartini, S.Sn., M.Sn pada tahun 2020 yang kini dielaborasi kembali untuk tarian di pura di desa setempat. “Setelah Prejuru Banjar Desaanyar ingin memiliki tari dan tabuh ritual untuk pengiringi piodalan di pura, maka kami turun memberikan pelatihan,” kata Suartini, Jumat 24 September 2021.

Dalam PKM itu, Suartini melibatkan dua anggota, yakni I Ketut Sariada dan I Gede Mawan sebagai penata iringannya. Saat mementaskan tari itu, Tim PKM ini dibantu dua mahasiswa Jurusan Tari, sehingga mampu mewujudkan sebuah tarian upacara piodalan di desa tersebut. Tari yang memasukan kearifan lokal yang ada di Banjar Desaanyar itu, tak hanya untuk mengiringi upacara tetapi sudah menjadi identitas desa setempat. “Kami mengelaborasi tari itu dengan menyesuaikan kembali dengan potensi seni yang ada, sehingga menjadi Tari Rejang Shanti sebagai pengiring upacara di pura banjar tersebut,” tegasnya.

Ketika ditampilkan pada Rahihna Tumpek Landep, Sabtu 11 September 2021 bertempat di pura di banjar setempat, Tari Rejang Shanti memiliki gerak yang sangat khas. Meski bentuknya sangat sederhana, tetapi mampu memberikan spirit dari masyarakat Banjar Desaanyar sebagai pendukungnya. Sebagai penarinya, remaja atau pemudi dan PKK. Musik iringan yang menggunakan Gamelan Semarandana memberikan nuansa klasik yang kental. Keunikannya, terletak pada gerak tarinya yang terinspirasi dari gerak papendetan yang ada. “PKM ini untuk memberikan pelatihan Tari Rejang Shanti dalam mengiringi upacara piodalan di Banjar Desaanyar. Sebelumnya, belum ada tari ritual upacara piodalan, seperti Tari Rejang di pura banjar tersebut,” ungkap Suartini.

Rejang Shanti

Untuk mewujudkan tari itu, Tim PKM ini telah melakukan pertemuan dengan prajuru desa setempat, sehingga meutuskan untuk melakukan pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti di Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita Banjar Desaanyar. Metode pelaksanaannya dengan ceramah, demonstrasi, dan pendampingan dalam pelatihan. Pelatihan yang diberikan berupa wawasan, filosofi, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Tari Rejang Shanti, sehingga dapat mengetahui makna dari tarian tersebut. Dengan begitu hasil dari pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti ini akan lebih mudah mengekspresikan serta dapat dilestarikan. “Kami bersyukur, Tari Rejang Santhi itu telah terwujud, semoga dapat menjadi solusi dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Banjar Desaanyar,” ungkapnya..

Pengajar seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar itu mengatakan, disamping untuk memupuk rasa kebersamaan dan menumbuhkan jiwa peduli terhadap kesenian tradisi, Tari Rejang Saanti ini untuk menguatkan seni di masyarakat yang berkaitan dengan seni ritual sebagai pengiring upacara piodalan. Pemahaman dan penguasaan tentang bentuk, filosofi dan makna akan mampu membawa masyarakat menjadi penari yang metaksu (memiliki kekuatan dalam) sebagai salah satu kekuatan tari Bali. “Kegiatan ini juga untuk mendekatkan lembaga ISI Denpasar dengan masyarakat khususnya Banjar Desaanyar, dan mengimplementasikan hasil penciptaan dan kepakaran yang dimiliki dosen ISI Denpasar,” bebernya.

Tari Rejang Shanti ini merupakan tari persembahan, rasa puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas turunnya parawidyadari ke dunia untuk menyaksikan upacara piodalan, sehingga masyarakat menjadi damai di hati damai didunia. Manfaat dari pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti bisa dijadikan sebagai identitas bagi masyarakat Banjar Desaanyar, disamping dapat memperkaya kasanah berkesenian yang dimiliki di banjar ini. “Kegiatan pelatihan Tari Rejang Shanti diawali dengan pelatihan tari dengan memberikan teknik dasar tari,” akunya.

Selanjutnya proses pelatihan yang dilakukan bagian perbagian mulai dari pangawit, pangawak, pangecet dan pakaad. Kemudian menggabungkan seluruh bagian menjadi satu yang dilakukan secara berulang-ulang, sehingga para peserta dapat menguasai secara baik dan benar. Begitu juga dengan penabuhnya melakukan pelatihan dari bagian pangawit, pangawak, pangecet, dan pakaad. Lalu, digabungkan antara tari dengan iringannya, sehingga penguasaan Tari Rejang Shanti menjadi satu kesatuan dengan musik pengiringnya.

Rejang Shanti

Pelatihan ini memerlukan waktu enam bulan, mulai dari observasi, pelatihan dan diakhiri dengan pementasan disertai dengan perekaman. Pementasan dan perekaman merupakan evaluasiter akhir dari semua materi yang telah diberikan pada waktu pelatihan dengan menggunakan tata rias dan kostum Tari Rejang Shanti diiringi gambelan Semarandana. “Hasil dari pelatihan tari dan tabuh ini adalah pembuatan video. Hasil dari pementasan ini, kami berharap masyarakat Banjar Desaanyar dapat mempergunakan secara terus menerus sebagai pengiring upacara piodalan di pura,” tutup senman tari yang biasa pentas di tingkat lokal, nasional, dan internasional. [B/*]

Related Posts