November 28, 2021
Ulasan

Ida Nyoman Sugata Dalang dan Penulis Sastra dari Abang

Dalang wayang kulit satu ini memang beda. Jika sedang memainkan wayang, ia akan lebih banyak menyajikan soal kenikmatan rasa. Bukan soal bisnis. Materi merupakan kesekian, tetapi kalau olah rasa itu tak bisa dibendung. Maka tak heran, kalau sudah berhadapan dengan benda seni dua dimensi itu, ia tampil secara total mengabdikan diri kepada masyarakat. Seni wayang yang disajikan tak hanya menarik ditonton, tetapi menyajikan tuntunan dengan nilai-nilai pendidikan, utamanya terkait budi pekerti. Karena itu, ia akan merasa puas dan bangga kalau bisa membantu umat yang membutuhkan ayah-ayahnya.

Seniman dalang itu adalah Ida Nyoman Sugata. Pria kelahiran, 31 Desember 1961 di Banjar Abang Jeroan, Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem tumbuh dan besar dari lingkungan seni. Ayahnya, Ida Wayan Padang (alm.) merupakan seorang dalang, penari dan pelatih gambuh, topeng serta dramatari arja. Ayahnya adalah seniman handal, sehingga pernah menerima penghargaan Dharma Kusuma. Ibunya, Jero Nyoman Anyaran sebagai seniman Dramatari Arja yang aktif dalam Sekaa Dramatari Arja Budakeling yang dipercaya memerankan Desak Rai di era tahun 1945-an. Lahir di keluarga berdarah seni membuat Sugata juga mengabdikan hidupnya untuk kelestarian seni budaya Bali menjadi seorang dalang.

Ida Nyoman Sugata

Keinginannya menjadi seorang dipupuknya sejak kecil. Namun, masa kecilnya tak semulus anak-anak lainnya. Ketika Gunung Agung meletus pada 1963, ia terpaksa ikut mengungsi bersama orang tuanya ke daerah Buleleng. Di tempat pengungsian ia banyak mendapat pendidikan tentang kehidupan, baik dalam kehidupan keseharian ataupun melalui satwa (cerita) yang diberikan oleh orang tuanya. Cerita yang diberikan lebih sering cerita pewayangan sebagai dongeng pengantar tidur. Pengalaman itu membuatnya makin tertarik dengan dunia wayang. Ia pun minta dibuatkan wayang dengan bahan daun.

Ayahnya kemudian membuatkan wayang dari bahan karton dan plastik tebal. Bahan itu dipilih oleh ayahnya, agar wayang itu tidak cepat rusak dan nyaman dipakai untuk berlatih. Saat itu, Sugata sudah menjadi siswa SDN 618 Liligundi Singaraja (1969-1972), sehingga wayang yang dibuatkan ayahnya dimainkan setelah datang dari sekolah. Ia dan teman-temannya selalu riang kalau sudah dapat memegang wayang itu. Ia memainkan wayang, sementara dua orang temannya megambel, meminkan iringannya dari kaleng bekas cat. Iramanya tak beraturan, namun mereka tampak senang dan tampil penuh aksi.

Saking seringnya melakukan aktivitas itu, warga lingkungan sekitarnya kemudian mengenalnya sebagai dalang cilik. Setiap malam Minggu, ia kemudian diminta untuk memainkan wayang bersama kelompok anak-anak lainnya. Warga bergiliran nanggap grup wayang anak-anakk ini. “Masa anak-anak adalah pengelaman yang sangat menyenangkan. Kami memainklan wayang sambil bermain. Kami mengumpulkan uang bersama teman-teman sesama penonton, sehingga mendapatkan uang 1 ringgit (2,5 rupiah),” cerita penerima penghargaan Adi Sewaka Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 tahun 2021 itu.

Ida Nyoman Sugata

Cerita kemudian menjadi lain, ketika keluarganya memutuskan kembali pulang ke Abang pada tahun 1972. Setelah kembali ke tanah kelahirannya, ia tak lagi bermain wayang. Ia justru dilatih kakaknya dibidang pramuka. Kegiatan pramuka itu dilakukannya hingga duduk dibangku SMP. Untungnya, ia masih bisa berkesenian melalui kegiatan acting. Ia dalam memerankan putra kecil dalam sekaa drama itu. Acting, vokal dan gerak tubuh serta penjiwaan mampu ia lakukan dengan baik, sehingga reaksi penonton muncul. Warga yang menyaksikan pagelaran itu hingga menangis terbawa emosi saat ia memerankan putra kecil. “Saat itu, hampir tak pernah mendalang lagi. Walau begitu, saya masih mencintai seni pertunjukan wayang,” ucapnya.

Hobi dengan seni pewayangan sudah melekat dalam dirinya, sehingga setiap ada pertunjukan wayang, ia selalu datang untuk menonton. Jarak tak menjadi alasan baginya untuk dapat menyaksikan seni bayangan ini. Setelah tamat SMP, ia sempat berencana mengikuti seleksi polisi, karena merupakan cita-citanya sejak kecil. Ayahnya yang mengetahui rencana itu, kemudian meminta untuk tidak melanjutkan keinginannya itu. “Saat itu, aji berpesan agar anak ketiga dari lima bersaudara harus ada yang ikut ngayah untuk mengisi kesenian wewalen (tarian sakral) yang sangat dibutuhkan oleh umat saat menggelar upacara. Saya akhirnya melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Hindu (PGAH) Amlapura,” kenangnya.

Sugata mulai menjadi siswa sejak 1977. Selama itu, ia mendapatkan pendidikan utamanya tentang filsafat agama Hindu. Ia sebagai murid yang rajin, disiplin dan kreatif. Setelah tamat tahun 1980, ia langsung mendapat pekerjaan yang diangkat menjadi guru Agama Hindu. Ptofesi sebagai seorang pendidik dilakoni dengan baik. Namun, ketika ketika seluruh umat Hindu melaksanakan upacara pangabenan dan pangrorasan menjelang Karya Panca Wali Krama di Pura Besakih sekitar 1983, masyarakat kesulitan untuk menanggap kesenian Wayang Sudhamala. Itu karena minimnya dalang di Kabupaten Karangasem.

Sugata kemudian dipaksa oleh salah seorang warga untuk memainkan wayang. Warga ini mungkin tahu kemampuannya, sewaktu menjadi guru SDN 1 Abang pernah melatih anak-anak pementasan Wayang Parwa saat kenaikan kelas. Saat itu, ia mendalang, sehingga banyak warga yang mengetahuinya. Bersamaan dengan itu, ada seorang tokoh dari Desa Tista, Kecamatan Abang yang merupakan mantan dalang juga memaksanya untuk menjadi dalang. “Orang itu adalah seorang mantan dalang yang bersedia memberikan hak guna pakai wayangnya sebanyak satu keropak. Namun, mantan dalang itu memberikan syarat, agar ketika ada masyarakat Desa Tista yang memintanya untuk ngwayang (mendalang), saya wajib bersedia, kecuali sedang sakit,” bebernya.

Bersama dengan dorongan nurani, ia memberanikan diri untuk mengabdi (ngayah) dengan mendalang seni wewalen Wayang Sudhamala. Ia mulai belajar memainkan wayang yang sesungguhnya. Namun, sebelum itu, ia mengawali dengan ritual penyucian diri mawinten. Ia belajar mendalang tanpa seorang guru. Ia memainkan wayang berdasarkan pengalaman menonton pertunjukan wayang. Selain itu, ia juga meminta ilmu mantra membuat tirtha Wayang Sudhamala kepada pamannya yang kini menjadi pedanda di Budakeling. Ia kemudian pentas perdana di Banjar Juwuk, Desa Datah, Kecamatan Abang.

Pada penampilan perdana itu, kemampuan Ida Nyoman Sugata mendalang mulai dikenal orang. Jadwal untuk ngwayang pun semakin padat. Semula mendalang untuk muput karya dengan nyudhamala saja, kemudian ditanggap untuk membayar kaul (sesangi). Ia juga menerima tawaran masyarakat untuk mendalang malam hari, baik pementasan wayang untuk membayar kaul, hiburan, termasuk nyapuh leger, di seantero Karangasem. Bahkan hingga pentas ke Goris, Gumbrih, Kampung Tinggi Singaraja, Sangsit, Tembok, Glogor, Denpasar, Sawan Klungkung, Batumadeg Nusa Penida, Selumbung Mataram, Cakra, Semeru dan lainnya.

Ketua Widya Sabha Karangasem ini juga dipercaya tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 1985. Ia dipercaya tampil sebagai duta Kabupaten Karangasem dalam Lomba Wayang Parwa. Ia juga didapuk menjadi penulis naskah drama dong anak-anak, remaja dewasa dalam ajang PKB XXI tahun 1999 serta ikut dalam drama gong gabungan anak-anak, remaja dan dewasa. Sugata juga berhasil membina putra pertamanya untuk dikirim dalam pagelaran dalang cilik pada PKB XXVI tahun 2004, dan Istrinya, Ida Ayu Wayan Ngurah Alit sebagai dalang wanita. “Istri saya sering memainkan Wayang Sudhamala, baik di masyarakat maupun ngayah nganyarin di Pura Besakih,” imbuhnya.

Pada PKB XXVII, Sugata kembali diberikan kepercayaan untuk pentas pagelaran wayang kreasi di Art Centre. Sementara pada tahun 2008, ia dipercaya menjadi juri lomba macecimpedan tingkat kabupaten pada PKB Bali XXX. Ia aktif membina sekaa drama gong, pernah bermain drama klasik, penasar, topeng, arja hingga ngawi geguritan tentang tutur susila, agama dan yadnya. Selain keterlibatan dalam PKB, ia juga sering ditugasi oleh Pemerintah Daerah untuk berpartisipasi ngayah wawalen Wayang Sudhamala pada acara nganyarin di pura-pura kahyangan jagat, termasuk hingga ke Pura Semeru Agung.

Ayah dari Ida Wayan Wahyu Pramana Sogatha dan Ida Ayu Pastika Utami ini pernah sebagai peserta Kongres Pewayangan yang diselenggarakan di Yogyakarta. Sedangkan dibidang seni sastra, ia selalu terlibat dalam kegiatan Utsawa Dharma Gita sebagai pembina dan juri dalam bidang masatua, cacimpedan, pidarta, dharma wacana, dan membina taman penasar, tembang girang, drama gong, dan dalang cilik.

Pria dengan tutur kata halus ini juga biasa menulis beberapa karya sastra, seperti “Geguritan Pitutur Jati” (113 pada) sebagai buku penunjang Pendidikan Agama SD di Kecamatan Abang, “Geguritan Manusa Yadnya” (74 pada), pakem Wayang Parwa berjudul “Marisudha Bumining Indra Prasta”, “Geguritan Dang Hyang Astapaka” (27 pada), sekelumit tentang “Kaskara dan Alus/Singgihing Kruna”, skenario sendratari berjudul “Gugurnya Anak Agung Candra Bhuwana”, naskah dan skenario taman penasar bertema “Tri Hita Karana”, naskah tembang girang dengan tema “Pelestarian Air sebagai Sumber Kehidupan”, sinopsis Topeng Panca dengan tema “Tejaning Jnana Kasogathan”.

Sugata mengomentari seni pewayangan makin berkembang, hingga muncul wayang kreasi. Ia mengingatkan, sehebat apa pun kreasi para dalang memainkan wayang, jangan sampai melupakan bahkan menghilangkan filsafat atau tattwa sebagai dasar dalam ngwayang. Begitu juga olah vokal, rasa, dan perwatakan. “Seorang dalang juga harus ingat sesana dalam menjaga pikiran, tutur, dan perbuatan (Trikaya Parisudha), karena seorang dalang merupakan sosok panutan di masyarakat,” ucap Sugata mengingatkan. [B/*]

Related Posts