January 23, 2022
Kreasi

Dari PKM ISI Denpasar; Siswa SMP di Buleleng Cekatan Menari “Magoak-goakan”

Bagi penari atau penggemar seni pertunjukan pasti pernah menyaksikan atau paling tidak mendengar Tari Magoak-goakan yang diangkat dari tradisi unik di daerah Bali Utara. Tari yang digarap pada 2017 oleh Tim peneliti Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kembali disosialisasikan pada guru-guru mata pelajaran Seni Budaya yang tergabung dalam Kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMP Kabupaten Buleleng. Sosialisasi dilakukan melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Manajemen Pelatihan Tari Magoak-Goakan Guna Meningkatkan Kompetensi Tari Tradisional Bagi Guru Seni Budaya SMP Kabupaten Buleleng”.

Tim PKM ISI Denpasar yang diketuai oleh Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd, dan anggotanya Dr. I Nyoman Cerita, SST.,MFA; Ni Ketut Suryatini, S.SKar.,M.Sn; Gede Aldi Widiananda, dan Ni Luh Sucintya Christie Sagita dari mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan itu, mula-mula memberikan pelatihan kepada guru seni budaya, para guru ini kemudian menurunkan kepada siswa. “Pelatihan itu kami lakukan melalui dua tahap, yaitu pemberian materi secara teori terkait pengetahuan tari tradisional, dan pedoman manajemen pelatihan tari secara daring (dalam jaringan). Kemudian menindaklanjuti dengan pelatihan tari Magoak-goakan secara tatap muka dengan memperhatikan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19. Materi tari magoak-goakan dilengkapi video dan modul pembelajaran,” kata Sustiawati.

Magoak-goakan

Agar guru itu cepat menguasai materi, Tim PKM ini menggunakan berbagai metode, diantaranya presentasi, demontrasi, dan praktik secara individu maupun kelompok. Metode ini dilengkapi dengan strategi pelatihan tari, yaitu Component Display Theory (CDT). CDT ini berisi tiga fase pembelajaran, yaitu presentasi, praktek, dan uji unjuk kerja. “Kami menggunakan model elaborasi dalam penuangan materi pelatihan, yaitu mempreskripsikan penggunaan urutan prasyarat belajar dan bagian-bagian urutan dari sederhana ke kompleks,” ungkapnya

Setelah masuk ke tahap evaluasi, apa yang dilatih Tim PKM ini mampu diserap oleh guru. “Hasil penilaian menunjukkan, seluruh peserta pelatihan (guru) mampu menarikan tari Magoak-goakan sangat terampil, dengan perolehan nilai berkisar 85-90 (Amat baik). Hasil jawaban angket guru menujukkan bahwa materi, dan metode pelatihan sangat sesuai dan sangat jelas. Ini berarti, Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Institut Seni Indonesia Denpasar telah mampu meningkatkan kompetensi guru pada tari tradisional,” papar dosen Pendidikan Seni Pertunjukan asal Buleleng ini serius.

Hal itu dibuktikannya, setelah Tim PKM ISI Denpasar melaksanakan pemantauan kemajuan program pelatihan tari Magoak-goakan di SMP Negeri 1 Singaraja pada 10 Oktober 2021. Guru seni tari yang dilatih sebelumnya, telah berhasil meneruskan dan mengembangkan tari Magoak-goakan kepada peserta didik SMP Negeri 1 Singaraja. “Peserta didik telah mampu menarikan tari Magoak-goakan secara terampil dan cekatan, itu artinya kompetensi dasar seni budaya kelas VIII semester 2 SMP/MTs yaitu memahami dan memeragakan tari tradisional telah dikuasai peserta didik,” sebutnya.

Magoak-goakan

Tari Magoak-goakan itu diangkat dari tradisi asal Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Tari itu diciptakan oleh Tim Penelitian ISI Denpasar yang terdiri dari Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd, AA Mayun Artati, SST, M.Sn, dan Ni Ketut Suryatini, SSKar, M.Sn. Dalam proses penggarapan dibantu seniman Buleleng Nyoman Arya Suriawan, SST dan I Ketut Pany Ryandhi, S.Sn. Untuk memberikan nuansa baru, gerak tari dan kostumnya kemudian diperkaya lagi oleh Dr. I Nyoman Cerita, SST., MFA. “Ide dan tema garapan tidak ada perubahan,” imbuhnya.

Tari Magoak-goakan ini memiliki gerak yang sangat dinamis. Komposisinya menggunakan pola-pola gerak tari tradisi yang sudah ada sebelumnya, sehingga anak-anak setingkat SMP pun mampu membawakan dengan baik. Apalagi, dibarengi dengan ekspresi yang kuat, membuat tari putra itu menjadi lebih hidup. Nafas dari setiap gerak para penari mengalir mengikuti irama gamelan yang terkadang halus, dan tiba-tiba menghentak. Busananya mampu memperkuat karakter, bukan hiasan semata. [B/*]

Related Posts