“Ranu Murti” Drama Musical Sandyagita ISI Denpasar. Sesolahan Pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-4 Tahun 2022

 “Ranu Murti” Drama Musical Sandyagita ISI Denpasar. Sesolahan Pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-4 Tahun 2022

Indah, kreatif dan kaya pesan. Menyaksikan sesolahan (pergelaran) Drama Musical Sandyagita “Ranu Murti” pada saat pembukaan Bulan Bahasa Bali IV tahun 2022 di Gegung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Selasa, 1 Pebruari 2022 sungguh menarik. Garapan seni sastra yang disajikan Sanggar Seni Bungan Dedari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tak hanya menyajikan sastra melalui tembang-tembang klasik, tetapi juga memadukan dengan seni tari, musik gamelan dan drama, serta teknologi digital dalam mendukung suasana dalam setiap pembabakan. Garapan sandyagita ini memang beda, dari sandyagita yang pernah ada sebelumya.

Sekitar 50 pendukung garapan itu, diantaranya 20 orang (10 wanita dan 10 pria) sebagai pendukung sandyagita rata-rata memiliki suara merdu. Mereka, tak hanya lihai dalam matembang (menyanyikan ayat-ayat), tetapi juga piawai menari, bahkan beracting memvisualkan kehidupan masyarakat Bali dalam keseharian. Pembagian adegan dalam setiap pembabakan ditata dengan apik dan jelas, seperti tokoh yang ada dalam adegan itu, suasana, iringan vokal dan musik serta videotron berupa layar sebagai latar pertunjukan dengan tegas menyajikan gambar untuk mendukung suasana dan mempertegas pesan yang ingin disampaikan.

Konseptor garapan, yakni Desak Made Suarti Laksmi, mengkemas garapan ini sehingga tak membosankan. Penataan suara polos dan suara memero (suara 1 dan suara 2 dalam paduan suara), disajikan begitu manis. Gending yang mereka bawakan bagai ombak, terkadang suara tembang dominan, lalu gamelan selanjutnya didintih dengan vokal penabuh. Antara tembang pendukung, vokal penabuh dan iringan gamelan saling sahut yang mampu menciptakan suasana ngelangenin (mempesona). Apalagi, ditengah-tengah pergelaran diisi dengan rokoh raksasa dan tokoh dewa serta masyarakat yang memvisualkan munculnya air, manfaat serta cara menjaganya.

Baca Juga:  Bendesa Adat Kunci Awal Pengembangan Bahasa Bali di Masyarakat

Drama Musical Sandyagita yang dikoordinatori oleh I Gede Mawan ini menggunakan iringan Gamelan Semarandana, sehingga terkesan sangat lirih, manis dan mengetuk hati. Disamping para pendukung yang menari, juga menampilkan penokohan drama musikal untuk mempertegas kisah yang diangkat. Iringan ini juga untuk memberikan suasana, seperti religious, tegang, khusuk, mistis da laiunnya. “Yang membedakan dengan sandyagita sebeklumnya, yakni ada penokohan drama musikal. Selain menyajikan vokal, tari juga ada perpaduan dengan penayangan elidi yang mendukung suasana adegan,” papar Ketua Sanggar Bungan Dedari yang juga dosen karawitan ISI denpasar ini.

Drama Musical Sandyagita

Adapun kisahnya, Danau Batur sebagai stana Dewa Wisnu Pura Kahyangan Jagat merupakan sumber air kehidupan, mengalir dan merembes bermunculan dalam berbagai mata air baik dalam bentuk danu, klebutan, pancuran, bulakan, dalam berbagai pura Beji, tempat pasucian manifestasi personifikasi Dewata. Dari sumber-sumber mata air seperti ini masyarakat menjadikan tirta suci untuk ritual keagamaan. Penyatuan Sanghyang Tri Murti yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa distanakan dalam pemujaan Pura-pura Patirtan menjadikan masyarakat Hindu dikenal sebagai penganut Agama Tirta.

Dari semburan mata air dimaksud yang memiliki fungsi, kekuatan peruntukan air suci, baik sebagai tirta anugrah, tirta panglukatan palebur berbagai mala papa pataka kotoran alam buana agung dan juga buana alit. Disamping itu juga menjadi mata air tanah kehidupan masyarakat, sementara aliran air limbahnya manjadi irigasi pengairan persawahan, tegalan dengan pengelolaan subak system dan budayanya.

Kekuatan senjata bajra Dewa Indra menggelegar dalam bentuk pecutan kilat, tatit dan kakuwung sebagai dewa hujan, mampu membasmi keangkaraan Bhuta Durjana bersama pengikutnya yang berniat meracuni air amerta ciptaanNya. Kisah Bhuta Durjana yang tafakur haus akan kekuasaan, kehormatan dan tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan menyatakan dirinya adalah yang kuasa patut untuk disembah oleh umat manusia menjadi lenyap oleh kekuatan air suci yang menyembur “Tirta Muncar” tirta amerta anugrah ciptaan Hyang Indra.

Baca Juga:  “Ngripta Prasi” Wimbakara Meriahkan Bulan Bahasa Bali 2021

Sebagai seorang Yogiswaraning yadnya Sang Kulputih dengan pengikutnya mentaati ajaran keTuhanan memohon kehadapan Dewa Indra agar rakyat terbebas dari keangkaramurkaan manusia-manusia biadab seperti Bhuta Durjana yang diselimuti kegelapan. Dewa Indra sebagai gelegar kilat tatit dan kekuwungnya membuat para petani menjadi sangat senang, karena dari berkah hujanlah kesuksesan petani dapat mewujudkan srada baktinya dengan memuja dan memuliakan air sebagai sumber kehidupan.

Danu Kertih yakni memuliakan sumber mata air sebagai sumber kesejahteraan hidup manusia dan alam semesta, menjadi tuntutan kesadaran untuk tetap menjaga kesucian kualitas kemurnian air sebagai sumber kehidupan. [B/*]