Cancel Preloader

“Krama Istri” Nyatwa di Gedung Ksirarnawa

 “Krama Istri” Nyatwa di Gedung Ksirarnawa

“Yeh, cucun dadonge, mai-mai dingehang dadong lakar nyatwa,” begitu katanya. Wanita ini bukan seorang renta, tetapi bicara dan gayanya mirip seorang nenek. Ia memakai busana adat madya dengan sanggul dihiasi bunga emas berpadu bunga segar yang rapi. Suaranya besar terkadang menggelegar, lalu mengecil hingga membisik memikat hati. Itulah Wimbakara (lomba) mesatua yang diikuti paiketan krama istri (ibu ibu PKK) dalam agenda Bulan Bahasa Bali IV di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 18 Pebruari 2022.

Ada 9 peserta yang tampil pada lomba mesatwa Bali ini. Masing-masing peserta tampil total dengan kisah yang dibawakan. Mereka tak hanya piawai mesatwa, tetapi juga kreatif dalam memaparkan kisah diatas panggung melalui gerak yang penuh ekpresi. Saat itu, para wanita ini mirip seorang dalang menyajikan berbagai jenis dan model suara, dan sesuai dengan peran atau tokoh yang sedang diceritakan. Seluruh tubuhnya bergerak menggambarkan tokoh itu. Bisa melompat, menarik lengan serta tertawa dan menangis.

Tema, penokohan, alur cerita hingga pesan yang disampaikan masing -masing peserta lomba ini begitu mengena. Satwa (Cerita) yang dibawakan sebagian besar mengambil cerita tantri, dengan penokohan antara yang baik dan jahat, dalam upaya menjaga dan melestarikan ekosistem lingkungan. Hal ini sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali IV ‘Danu Kerthi, Gitaning Toya Ening’ yakni memuliakan air sumber pengetahuan.

Krama Istri

Menyaksikan penampilan wanita dalam mesatwa, dewan juri yang terdiri dari Dr. IB Rai Putra, M.Hum, I Gede Tarmada dan Ni Komang Ari Pebriyani ini memberi apresiasi yang nyatanya ada peningkatan peserta lomba dari kalangan krama istri. Ibu-ibu ini rata-rata tampil bagus, tidak kaku, dan selalu ada pesan nilai-nilai yang disampaikan. “Secara umum penampilan mereka cukup baik, jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ada beberapa catatan, seperti ketidaksesuaian dengan tema, pengucapan kata-kata yang kurang pas dengan kaidah bahasa Bali yang benar,” kata pria yang akrab disapa Gus Rai. .

Baca Juga:  Kemuliaan Air dalam Sesolahan Sidha Sidhi Yoga Krama FIB Unud

Nyatua itu bukanlah seperti memberi dharma wacana. Nyatua ada tema di dalamnya, ada tokoh cerita yang disuguhkan, dan kemampuan komunikatif dengan penonton. “Mesti jelas interaksinya, apa isi cerita juga mampu disampaikan. Kemudian pengucapan kata-kata, karena ini lomba Bahasa Bali harus diperhatikan, tidak boleh sembarangan, pengucapanya harus benar, baik awalan akhiran tepat diucapkan,” ungkapnya.

Kedepan, upaya pembinaan di daerah agar ditingkatkan. Lomba-lomba nyatua di tingkat kabupaten digairahkan lagi, sehingga muncul pembawa cerita – cerita Bali yang handal semakin banyak. “Dalam cerita Bali sangat banyak topik yang bisa dikembangkan, terlebih ajang Bulan Bahasa Bali menjadi wadah melahirkan para pendongeng Bali yang handal, sehingga banyak orang yang berbicara tentang cerita-cerita Bali yang memiliki catatan literasi sehingga semakin banyak membicarakan pengetahuan dan nilai -nilai keluhuran Bali tentang pelestarian dan sebagainya,” tandasnya.

Walau semua peserta tampil bagus, namun Tim Juri akhirnya menyepakati pemenang lomba Nyatua Bali Bulan Bahasa Bali IV 2022, menempatkan Duta Krama Istri Kabupaten Badung menjadi juara I, disusul Krama Istri Kabupaten Gianyar juara II dan Krama Istri Duta Kota Denpasar meraih Juara III. (B/*)