June 30, 2022
Budaya

Membuat Loloh? Generasi Muda juga Bisa

Jangan kaget, kalau anak-anak muda sudah bisa membuat loloh. Gak percaya? Lihat saja aksi mereka pada Pacentok (Lomba) membuat loloh (jamu ala Bali) dalam rangkaian agenda Jantra Tradisi Bali. Anak-anak muda sudah mengenal loloh, bahkan sudah mengtahui cara dan proses pembuatannya. Mereka juga mengetahui khasiatnya, dan mengembangkan dengan cara menanamnya. “Loloh yang dihasilkan, juga menarik dan berfungsi sebagai obat,” kata Kabid Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana di sela-sela penilaian semifinal Pacentokan (Lomba) Pembuatan Loloh, Selasa (21/6).

Pada lomba itu, generasi muda tampak pasih dalam membuat loloh. Hal tersebut, sebagai salah satu upaya untuk menarik minat generasi muda agar kembali menekuni warisan pengobatan tradisional para leluhur Bali. Maka itu, boleh dikatakan lomba yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali itu diminati oleh para remaja. “Loloh selain bisa menambah stamina dan membuat sehat, sekaligus kami ingin menghidupkan sastra dan lontar-lontar pengobatan atau usada Bali yang mungkin selama ini terlupakan,” papar Alit Suryana.

Generasi muda tampak senang ketika, membuat loloh yang dilengkapi dengan video itu dilakukan dengan serius. Ada sebanyak tujuh video pembuatan loloh dengan durasi 20-30 menit yang dikirimkan oleh peserta lomba. “Kami gembira, awalnya kami kira peserta yang ikut lomba ini mereka-mereka yang sudah berumur dan berpengalaman. Ternyata malah pesertanya lebih banyak anak muda, ini berarti proses regenerasi berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan,” ucapnya.

Anak-anak muda sudah mulai mengenal loloh, kemudian cara atau proses pembuatan dan khasiatnya, tentu mereka ke depannya bisa tertarik untuk membuat sendiri. Bahkan tertarik untuk mulai menanam tanaman yang dapat berkhasiat untuk obat di pekarangan rumah. “Untuk mengetahui cara pembuatan loloh dan khasiat dari bahan-bahan yang diperlukan, pemuda-pemudi kita juga diajak untuk kembali membaca berbagai manuskrip atau lontar Bali,” ujarnya.

Membuat Loloh

Meskipun “loloh” merupakan salah satu ramuan tradisional, juga bisa diberikan sentuhan kekinian seperti dari sisi kemasan maupun cara pengolahannya, dengan tanpa mengubah khasiatnya. “Nah, yang tidak kalah penting agar loloh itu berkhasiat harus didasarkan pada keyakinan dan memohon anugerah Ida Sanghyang Widi Wasa (Tuhan) agar diberikan kesembuhan,” ucap Alit Suryana.

Salah satu juri, Drs I Wayan Sutedja M.Hum menyampaikan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi peserta lomba yakni loloh adalah ramuan tradisional yang dibuat tanpa pengawet dan dibuat secara tradisional dipergunakan untuk memelihara kesehatan. Kemudian karya kreasi loloh berbasis pada tradisi lisan maupun manuskrip Bali. Peserta merupakan kelompok atau komunitas yang berdomisili di Bali. “Proses pembuatan loloh direkam dalam bentuk video dan lengkap dengan narasinya,” jelas dosen Universitas Udayana itu.

Juri lainnya yaitu Dr Ida Bagus Wiryanatha MSi yang dosen Unhi Denpasar dan Dr Anak Agung Mediastari juga dosen Unhi Denpasar memaparkan, dari video yang dikirimkan peserta lomba, secara umum pemaparan yang disampaikan sudah bagus, bahkan berisi penjajakan literatur, dan sudah menggunakan bahan-bahan local. Oleh karena sudah berdasarkan literatur, bahan-bahan yang dicampurkan untuk pembuatan loloh juga sudah saling melengkapi dan tidak bertentangan satu dengan yang lainnya. “Kami senang bisa diadakan lomba seperti ini. Di samping untuk membangkitkan kreaktivitas generasi muda, mereka bisa mulai mengenal loloh untuk menjaga kesehatan,” ucap mereka kompak.

Terkait aspek penilaian meliputi bahan, proses pembuatan, aroma dan kekhasan rasa, tampilan dan warna produk, manfaatnya bagi tubuh, serta peserta mampu menampilkan sumber tradisi lisan maupun manuskrip Bali. Demikian pula bahan/material dalam pembuatan loloh termasuk proses pembuatannya harus higienis, alami dan sehat. Berdasarkan sejumlah video yang diputar, diantaranya ada peserta yang membuat loloh dari daun dapdap, daun temen, daun jempiring, daun pegagan dan sebagainya. Peserta lomba yang lolos seleksi tiga besar (finalis) nanti diwajibkan menyajikan produk dan mempresentasikan di hadapan dewan juri. [B/*]

Related Posts