4 Garapan Seni dari Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta di PKB

 4 Garapan Seni dari Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta di PKB

Perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tak hanya menampilkan kesenian tradisi Bali, tetapi juga dimeriahkan tim kesenian dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tim kesenian Yogyakarta yang didukung Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY), Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul itu menghadirkan nuansa kesenian Jawa dan Keraton. Melalui gerak tari yang khas, pengunjung PKB yang ada di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar tempat penyelenggaraan pementasan itu merasa senang dan terhibur.

Dalam penampilannya kali ini, Tim ini melibatkan tiga Program Studi (Prodi), yakni prodi karawitan, tari, dan kriya kulit dengan latihan dan persiapan yang cukup matang selama 2,5 bulan. “Kami memang sangat berharap bisa tampil di event tahunan PKB ini. Maka itu, persiapan kami lakukan dengan matang, sehingga bisa tampil maksimal, sekaligus memperkenalkan kesenian Yogyakarta,” kata Direktur Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Dr. Supadma M.Hum, Selasa 21 Juni 2022.

Ada lima pertunjukan yang ditampilkan dengan sangat manis. Pertama, Tari Golek Ayun-Ayun yang merupakan tarian gaya klasik Yogyakarta ciptaan Alm KRT Sasmitadipura (Romo Sas). Tarian ini menggambarkan seorang gadis remaja menginjak dewasa yang suka bersolek, berhias diri dengan motif-motif gerakan tari putri dan diiringi gendhing Ladrang Ayun-ayun. Kedua mempertunjukkan Wayang Topeng Sekartaji Kembar yang berkisah tentang penculikan Dewi Sekartaji oleh mahluk Raseksi duta Prabu Kelana Sewandono.

Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta

Penampilan ketiga yakni Beksan Bandabaya menggambarkan para prajurit sedang berlatih mengolah senjata berupa pedang dan tameng. Tarian ini diciptakan pada masa pemerintahan K.G.P.A.A. Paku Alam II. Sementara pertunjukan keempat yakni Gending Rujak Jeruk yang merupakan salah satu Gending dalam Karawitan Jawa berbentuk Ladrang dengan laras Slendro patet Manyura. Gending ini sangat familier di dalam sajian konser karawitan mandiri maupun sajian karawitan pakeliran/pewayangan.

Baca Juga:  “The Lost Of Equilibrium” Karya Kontemporer Adi Siput Kenang Sang Guru Nyoman Sura

Terakhir, ditampilkan Tari Jarengguk yang merupakan jenis tarian atau kesenian kerakyatan, dengan “revitalisasi” dari kombinasi 3 tarian yakni Jathilan, Reog, dan Angguk. “Keikutsertaan kami bisa dibilang sebagai unjuk kebolehan, di samping sebagai sebuah pameran dari kami sebagai hasil dari pembelajaran. Karena kami, Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta ini mengelola D1 pendidikan vokasi yang berorietasi mengarah pada keterampilan,” ujarnya.

Terkait pelestarian kebudayaan, Supadma menjelaskan, sesungguhnya Yogyakarta hampir mirip dengan Bali yang masih kuat melestarikan kebudayaan daerahnya. Karena itu, dengan diberikannya kesempatan tampil di PKB, pihaknya sangat bersyukur bisa mengenalkan kesenian Yogyakarta kepada masyarakat Bali. “Kami berterima kasih kepada Bapak Gubernur Bali dan Bapak Kepala Dinas Kebudayaan, di mana kami terus berkomunikasi secara intens sehingga bisa tampil malam ini,” ucapnya. [B/*]