GM Sven Remo Pertahankan SenS Hotel sebagai 10% Hotel Peringkat Teratas di Seluruh Dunia

 GM Sven Remo Pertahankan SenS Hotel sebagai 10% Hotel Peringkat Teratas di Seluruh Dunia

General Manager SenS Hotel & Spa + Conference Ubud Town Centre, Sven Remo

SenS Hotel & Spa + Conference Ubud Town Centre menjadi pilihan wisatawan ketika berlibur di Bali, dan kawasan wisata Ubud khususnya. Hotel yang beralamat di Jalan Sukma Kesuma No.1, Banjar Tebesaya, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali memang tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. SenS Hotel bahkan menjadi salah satu dari 10% hotel dengan peringkat teratas di seluruh dunia menurut TripAdvisor’s Traveler’s Choice 2021. Menariknya, SenS Hotel tetap mempertahankan excellent service ditengah pandemic Covid-19. Berikut ini hasil wawancara dengan General Manager (GM) SenS Hotel & Spa + Conference Ubud Town Centre, Sven Remo pada Selasa 8 November 2022.

Bagaimana Anda men-define market dari SenS Hotel Ubud setelah pandemic Covid-19?

SenS Hotel, sejak awal menjalankan dan mengikuti semua kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Termasuk mendapatkan sertifikat tatanan kehidupan baru yang dikeluarkan oleh Pemerintah Bali, dan sertifikat Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sewaktu Bali Airport dibuka kembali untuk penerbangan international pada bulan Maret, 2022, hotel kami sudah siap, maka pada minggu itu juga kami sudah mulai menerima wisatawan international.

Occupancy hotel sudah mulai tumbuh?

Berjalannya waktu, occupancy hotel juga mulai membaik. Akan tetapi, jika dibanding dengan 2019, occupancy dan pendapatan hotel, masih sekitar -30%. Soal perjalanan menuju pemulihan industri pariwisata di pulau Bali, pemulihan bisa dibilang sangat-sangat cepat. Sejak dibukanya kembali penerbangan international ke Bali, sudah langsung diikuti kunjungan wisatawan. Pada saat ini, sudah ada 25 maskapai penerbangan dengan 22 tujuan internasional yang dioperasikan.

Itu kan belum semua maskapai yang terbang balik ke Bali?

Ya, betul. Masih ada sekitar 10 airlines yang belum terbang balik ke Bali. Note: China Market juga belum balik ke Bali. Jika melihat kedepan, dengan adanya perlambatan ekonomi global secara umum, meningkatnya inflasi, dan meningkatnya ketidakpastian di pasar, bisa sangat berpotensi mempengaruhi kedatangan wisatawan domestik dan asing di 2023. Saya melihat opportunity dimana orang akan tetap membutuhkan liburan, dan Bali masih bisa dibilang sebagai destinasi yang eksotis dan sangat terjangkau bagi wisatawan mancanegara dan lokal.

Baca Juga:  ”Drupadi” Menggugat Dunia Permainan Para Lelaki. Pentas Teater Monolog Arcana Foundation di Festival Bali Jani 

SenS Hotel terletak di jantung kota Ubud, bagaimana Anda men-define Area ini dan apa saja added value yang akan didapatkan oleh Travelers yang menginap di sini?

Location, Location, Location!! SenS Hotel berjarak hanya 1,5 jam dari bandara Bali, dan Ubud adalah tujuan ideal bagi mereka yang mencari liburan istimewa di Bali tanpa adanya pantai. Lokasi hotel kami strategis dan merupakan Value yang tidak terkalahkan dengan property lain di Ubud. Semua dalam “Walking Distance” dari SenS Hotel ke atraksi-atraksi utama di Ubud seperti Monkey Forrest Ubud, Puri Ubud, Pasar Ubud, Museum-Museum Seni, tarian dan musik dan pertunjukan unik lainnya. Semua bisa ditempuh sambil berjalan kaki.

Itu saja?

Ubud bisa dibilang sebagai Surga penyembuhan Iman dan Jasmani. Ada banyak tempat-tempat yoga dan meditasi bagi yang memerlukan dan berlokasi dekat hotel. Ubud adalah jantung budaya Bali dan lokasi SenS Hotel sangat central bagi setiap tamu yang menginap di senS.

Menjadi salah satu dari 10% hotel dengan peringkat teratas di seluruh dunia menurut TripAdvisor’s Traveler’s Choice 2021, bagaimana Anda tetap mempertahankan excellent service ditengah pandemic Covid-19 kala itu?

Selama pandemi, dengan posisi occupancy kami yang minim, kami tetap melakukan regular training untuk karyawan. Kami juga megikuti serta menerapkan regulasi menginap di hotel selama pandemi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Saya sangat mengapresiasi karyawan kami yang datang untuk mengikuti training, meskipun mereka sedang dalam posisi tidak bekerja, dan tetap hadir meskipun tanpa dibayar. Ini merupakan dedikasi mereka untuk tetap menjaga kualitas kerja yang baik, karena banyak sekali regulasi yang berubah dari cara kita menerima dan menghandle tamu disaat pandemi.

Baca Juga:  Mercure Kuta Beach Bali, Hotel Pilihan Wisatawan Tinggal di Bali

Bagaiamana dengan karyawan, apa mereka bisa menerimanya?

Semua karyawan sangat antusias dalam mengikuti segala macam training yang ada. Karena itu, SenS Hotel menjadi salah satu dari 10% hotel teratas dari seluruh dunia oleh TripAdvisor traveler’s choice 2021. Semua itu menjadi suatu kebanggaan dan merupakan hasil dari kerjasama team di SenS Hotel Ubud. Solid team, in term of dedication, TripAdvisor Traveler’s Choice merupakan hasil dari good collaboration within the whole team.

SenS Hotel
SenS Hotel & Spa + Conference Ubud Town Centre, Sven Remo

Lalu, apa rencana kedepan untuk tetap mampu bersaing dan terus memberikan yang terbaik kepada Travelers yang menginap di SenS Hotel Ubud?

SenS Hotel Ubud akan berusia 8 tahun pada February 2023. Sejauh ini, kami menerima good comments dan 5-star review baik di Google maupun di TripAdvisor. Kami selalu menampung dan mengacommodate setiap feedback yang ada sebagai bahan improvement kami. We follow what the guest wants, it’s part of our dedication to keep SenS Hotel always in people’s heart. Kedepan, kami mencanangkan untuk property improvement yang akan dilakukan secara perlahan dan berkelanjutan, month by month untuk peremajaan hotel. Still with the same high quality, but better.

Bisa diceritakan tentang latar belakang Anda?

Kehidupan, pendidikan, perjalanan karir dan lain-lain. Sampai sejauh ini, saya lahir di Hamburg Germany pada tahun 1972, kemudian tinggal di Jakarta hingga umur 10 tahun. Sehubungan adanya kerusuhan di Jakarta tahun itu, keluarga memutuskan untuk pidah ke Melbourne Australia pada tahun 1983. Disana, saya melanjutkan SD, SMP dan SMA dan setelahnya saya melanjutkan kuliah di dunia perhotelan – Lususan Casey Institute of Technology bidang perhotelan pada tahun 1996.

Apa sudah langsung bekerja di hotel?

Di 1993, sambil kuliah, saya bekerja di perhotelan sebagai Casual Steward (tukang cuci piring) di Victoria Hotel, Melbourne. Disana karir saya berkembang menjadi casual Banquet Waiter dan restaurant Waiter. Pada 1996, setelah lulus kuliah, melanjutkan work training di Le Meridien Changi Singapore, dan kembali ke Australia di periode 1997 – 1999, balik kerja di Victoria Hotel sebagai Full Time waiter. Selang waktu berjalan, saya di promosi ke restaurant supervisor, dan akhirnya restaurant Manager.

Baca Juga:  Dari Ujian Akhir Semester V Mahasiswa FSP ISI Denpasar: Perindah Visual Karya Tari Dengan Penataan Artistik Panggung Dan Tata Cahaya

Lalu?

Pada tahun 1999, saya memutuskan untuk mencari pengalaman baru dan pindah ke Jakarta. Saya di terima di Acacia Jakarta sebagai Asst. Food & Beverage Manager. Pada akhir 2000, saya mendapat tawaran untuk menjadi Food and Beverage manager di Boulevard Park Plaza Hotel – Slipi Jakarta. Setelah itu pindah dan bekerja di Dusit Balikpapan, sebagai F&B Manager. Pindah kerja ke JW Marriott Surabaya sebagai Director of Event Planning and Operations di 2004, pindah ke Pulau Bintan dan menjabat sebagai Asst Director of Food and Beverage.

Apa merasa senang bekerja di Pulau Bintan?

Saya kemudian balik ke Surabaya pada tahun 2005 dan bekerja di Garden Palace Hotel & Garden Hotel – Surabaya. Pada pertengahan 2006, saya mengambil tantangan baru dan pindah ke Bali untuk manage Bounty Hotel sebagai General Manager. Di 2015, Saya pindah ke SenS Hotel & Spa + Conference Ubud Town Centre – Bali, sebagai General Manager sampai sekarang.

Apa suka duka, dan hal-hal menarik selama bekerja sebagai hotelier di hospitality industry?

Perjalanan karier saya cukup lama di bidang perhotelan (+29 tahun), dan tentunya banyak suka dan dukanya. Dari harus tidur di mobil karena jumping back-to-Back work shift, mengurus tamu yang meninggal di hotel, hingga ikut membantu menjaga dan mengamankan hotel dengan melakukan pagar betis sewaktu adanya kerusuhan antara mahasiswa dan polisi di tahun 1999. Banyak sekali cerita dan pengalaman selama saya bekerja di hospitality industry yang bisa dijadikan sebuah novel. [B/Edhu]