Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer Dari Kampung untuk Dunia

 Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer Dari Kampung untuk Dunia

Dari kiri-kanan: I Gede Made Surya Darma, Made Lun Subrata dan Putu Sutawijaya/Foto: ist

DALAM tradisi para perantau Bali, megagapan merujuk pada kepulangan ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh yang melampaui benda. Ia adalah akumulasi pengalaman, pengetahuan, jejaring, serta nilai-nilai yang diperoleh di perantauan, lalu dipersembahkan kembali sebagai kekayaan bersama bagi komunitas asal.

Dalam kerangka inilah kepulangan Putu Sutawijaya menemukan maknanya yang paling dalam. Ia pulang bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai seniman yang membawa pulang sebuah visi kultural: menghadirkan ruang seni kontemporer sebagai megagapan intelektual bagi kampung, sekaligus sebagai kontribusi nyata bagi lanskap seni rupa Indonesia dan dunia.

Kampung yang dimaksud adalah Desa Angsri, sebuah desa yang terletak di jantung Pulau Bali. Secara historis, wilayah ini menyimpan jejak panjang peradaban dan hubungan lintas budaya yang telah berlangsung jauh sebelum wacana globalisasi modern dikenal. Desa Angsri bukanlah ruang kosong, melainkan lanskap budaya yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan berlapis.

Secara geografis, Desa Angsri berada di bawah naungan tiga gunung penting: Gunung Batukaru, Gunung Sanghyang, dan Gunung Adeng. Dalam kosmologi Bali, gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber energi spiritual, pusat orientasi kosmos, sekaligus ruang lahirnya kesadaran estetik dan kultural. Lanskap pegunungan ini membentuk iklim alam dan batin yang subur ruang kontemplasi, disiplin hidup, serta kepekaan artistik yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga:  Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [1] – Hari Pertama, Jalan-jalan di Taman

Tidak mengherankan jika kawasan di bawah tiga gunung ini telah lama melahirkan sejumlah seniman besar Indonesia. Di sebelah timur Desa Angsri, di Kampung Apuan, lahir Made Wianta salah satu perupa terpenting Indonesia yang dikenal atas praktik seni konseptual dan eksperimentalnya di panggung internasional.

Sementara di sebelah barat kampung Putu Sutawijaya, tumbuh Nyoman Nuarta, pematung monumental yang membawa nama Indonesia ke kancah seni rupa dunia melalui karya-karya berskala global. Dalam konteks ini, Desa Angsri dan sekitarnya dapat dibaca sebagai lanskap kultural yang secara konsisten melahirkan daya cipta besar, menjadikan seni bukan anomali, melainkan bagian dari ekosistem hidup sehari-hari.

Lapisan geografis dan genealogis ini memberi konteks penting bagi kepulangan Putu Sutawijaya. Ia tidak hadir sebagai figur yang terlepas dari tradisi, melainkan sebagai bagian dari mata rantai panjang kesenimanan yang tumbuh dari lanskap alam, spiritualitas, dan budaya setempat.

Berbagai peninggalan benda kuno dan prasasti semakin menegaskan kedalaman sejarah Desa Angsri. Sebuah prasasti tembaga ditemukan di sebelah timur Pura Taman Purwa.

Baca Juga:  Kutipan dari Script Monolog Ni Pollok Bercerita

Berdasarkan pengamatan almarhum Drs. Putu Budiastra dan Dr. R. Goris sarjana Belanda yang dikenal luas dalam kajian epigrafi Bali prasasti tersebut, meski dalam kondisi rusak, terdiri atas beberapa lempeng tembaga yang berhasil dibaca dan diterjemahkan oleh Drs. Putu Budiastra pada 28 Desember 1977 di Pura Pucak Tinggah.

Selain prasasti, ditemukan pula berbagai artefak kuno seperti bajra atau genta dari kuningan, piring tembaga, guci porselen, serta piring porselen dari Tiongkok yang berasal dari Dinasti Ming, sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Temuan-temuan ini menjadi bukti material bahwa kampung-kampung di Bali termasuk Angsri sejak lama telah terhubung dengan jaringan perdagangan maritim dan pertukaran budaya internasional, khususnya dengan Tiongkok. Relasi ini turut membentuk estetika, ritual, dan kosmologi lokal Bali.

Dengan demikian, hubungan antara Bali dan dunia internasional bukanlah fenomena baru. Ia telah berakar selama berabad-abad melalui jalur perdagangan, pertukaran artefak, serta dialog simbolik yang tercermin dalam benda-benda ritual maupun keseharian. Dalam kerangka ini, kehadiran seni kontemporer di Angsri dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi keterbukaan tersebut bukan sebagai sesuatu yang terputus dari masa lalu, melainkan sebagai kesinambungan sikap kosmopolit yang telah lama mengakar.

Ruang seni kontemporer Putu Sutawijaya/Foto: ist

Di lanskap historis dan geografis inilah Putu Sutawijaya membangun Sangkring Art Space Bali ruang seni Sangkring yang ketiga, setelah dua ruang sebelumnya berdiri di Yogyakarta selama kurang lebih 18 tahun. Ruang ketiga ini kini tengah memasuki tahap pembangunan, berdiri di atas lahan milik kakeknya, Pekak Sangkring, yang namanya kemudian diabadikan sebagai identitas ruang. Pilihan lokasi ini menegaskan dimensi personal sekaligus kultural dari proyek tersebut: sebuah ruang seni kontemporer yang tumbuh dari tanah leluhur.

Baca Juga:  I Wayan Seregeg dan I Wayan Mudita Adnyana Menerima Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama

Kepulangan Putu Sutawijaya dengan membawa Sangkring Art Space menandai bab penting dalam peta seni kontemporer Indonesia. Ia tidak sekadar kembali ke akar, tetapi menghadirkan sebuah infrastruktur kultural: ruang seni yang dirancang sebagai medan dialog antara praktik seni kontemporer, tradisi lokal, dan dinamika global.

Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, dengan bangunan dua lantai. Kompleks ini memuat 17 ruang pamer berukuran besar yang secara sadar disiapkan untuk merespons kecenderungan seni kontemporer hari ini. Seni tidak lagi dibatasi oleh medium tunggal, melainkan bergerak lintas bentuk lukisan, patung, instalasi berskala ruang, performance art, hingga praktik interdisipliner. Skala ruang yang lapang memungkinkan karya tidak hanya dilihat, tetapi dialami, membangun relasi antara tubuh, ruang, dan waktu.

Di pusat kawasan, sebuah pendopo berukuran luas berfungsi sebagai ruang peralihan antara pameran dan kehidupan sosial. Pendopo ini dirancang sebagai arena diskursus: tempat diskusi seni, pemutaran film, pertunjukan, lokakarya, hingga residensi seniman. Secara simbolik, pendopo menghadirkan nilai keterbukaan dan musyawarah dari arsitektur tradisional Nusantara, yang diberi tafsir baru dalam kerangka seni kontemporer global.

Lebih jauh, ruang ini tidak hanya diposisikan sebagai tempat pamer, tetapi juga sebagai pusat riset dan produksi pengetahuan. Ke depan, kompleks ini akan dilengkapi dengan perpustakaan seni yang memuat arsip, buku, katalog, serta publikasi seni rupa kontemporer baik lokal maupun internasional.

Baca Juga:  Ngakan Made Kasub Sidan: Guru, Sastrawan dan Penulis asal Klungkung Dianugrahi Bali Jani Nugraha

Perpustakaan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi seniman, kurator, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Melalui program riset, residensi, dan pertukaran pengetahuan, Sangkring Art Space Bali diarahkan menjadi medium pertukaran budaya yang aktif. Ia membuka jalur dialog antara praktik seni di kampung dengan jaringan seni internasional, mempertemukan perspektif lokal dan wacana global secara setara dan berkesadaran.

Yang signifikan, ruang seni ini tumbuh di luar pusat urban dan destinasi wisata utama. Pilihan ini merupakan pernyataan kritis terhadap pemusatan ekosistem seni dan pariwisata di kota-kota besar atau kawasan komersial.

Dalam konteks Bali, kehadiran ruang seni kontemporer di kampung membuka kemungkinan baru bagi pariwisata berbasis pengetahuan, pengalaman, dan refleksi bukan semata konsumsi visual.

Baca Juga:  ‘The Search for Sita’ Menebar Ekpresi di International Ramayana Festival India

Alih-alih menjadi objek wisata instan, ruang ini mengundang pengunjung untuk melambat: memahami proses artistik, menyelami konteks sejarah dan lokalitas, serta berinteraksi langsung dengan komunitas.

Pariwisata, dalam pengertian ini, bergerak dari ekonomi tontonan menuju ekonomi perjumpaan di mana seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari warga saling bersilangan secara setara.

Pulang kampung yang dilakukan Putu Sutawijaya, dengan demikian, dapat dibaca sebagai sebuah strategi kultural. Ia menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat berakar kuat di lokalitas tanpa kehilangan daya jelajah global.

Dari kampung, di bawah tiga gunung yang sejak lama melahirkan para perupa besar, ruang ini berbicara kepada dunia menawarkan model alternatif tentang bagaimana seni, riset, sejarah, dan hubungan internasional dapat tumbuh berdampingan secara berkelanjutan, bermartabat, dan berkesadaran.

Baca Juga:  Berpulangnya I Made Subandi, Ada Banyak Kenangan Dihati Pecinta Seni

Inilah sebuah megagapan seni kontemporer: pulang kampung bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk merumuskan masa depan dengan kesadaran bahwa masa depan hanya mungkin dibangun melalui dialog yang hidup antara sejarah, lokalitas, dan dunia. [B]

Senganan, 6 januari 2026

Penulis : I Gede Made Surya Darma

Related post