Mengenal Budaya dan Kearipan Lokal Bali di Pameran Bulan Bahasa Bali 2026

 Mengenal Budaya dan Kearipan Lokal Bali di Pameran Bulan Bahasa Bali 2026

Ni Komang Ari Pebriani dari Widya Aksara sedang mengenalkan cara menulis aksara Bali di lontar/Foto: darma

PAMERAN Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 berlangsung di Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali. Pameran telah dimulai bersamaan dengan pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII oleh Gubernur Bali Wayan Koster, pada Minggu 1 Pebruari 2026.

Beberapa peserta pameran tak hanya menampilkan produk dan hasil seni budaya, tetapi diikuti dengan pratek. Sebut saja dengan pameran Widya Aksara menampilkan lontar, pengrupak (alat menulis aksara dalam lontar), dan hasil seni lainnyalainnya.

Pengusaha Widya Aksara bahkan memberikan pratek menulis aksara Bali dalam lontar. “Kami juga melatih pengunjung yang ingin bisa menulis akrasa Bali. Siswa SMP yang lebih banyak mencobanya,” kata penjaga stand Widya Aksara, Ni Komang Ari Pebriani, Selasa 3 Pebruari 2026.

Pebri – sapaan akrabnya, mengaku, pameran kali ini pengunjungnya begitu antusias. Anak-anak muda, lebih banyak tertarik dengan tulisan Bali. Karena itu, banyak dari mereka yang membeli lontar kosong, pengrupak, dan memesan gambaran prasi serta cendramata berupa tulisan aksara Bali.

Baca Juga:  Menbud Fadli Zon Apresiasi Balinale, Merayakan Keunggulan Sinematik Diikuti 72 Film dari 32 Negara

“Pihak hotel juga banyak memesan cenderamata berupa tulisan akrasa di dalam lontar. Ini tentu terkait dengan pesanan tamu hotel. Kami bersyukur, kami banyak dikenal gara-gara mengikuti pameran di Bulan Bahasa Bali ini,” sebut Pebri tersenyum.

Jero Rahayu Dewi, praktisi healing Gotra Pangusada Bali sedang memijat pengunjung pameran/Foto: darma

Nah, yang produk yang menjadi favorit pengunjung pameran adalah pijat yang disajikan Gotra Pangusada Bali. Lokasinya di pojok, arah Tenggara ruangan pameran itu selalu penuh, bahkan rela antre untuk mencobanya.

Pijat usada dan healing yang ditampilkan Gotra Pangusada Bali itu terbukti menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung di Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali. Sejak hari pertama pameran dibuka, stan Gotra Pangusada Bali tak pernah sepi.

Pengunjung dari berbagai usia silih berganti mencoba pijat tradisional Bali yang diyakini sebagai warisan leluhur. Bahkan, pelajar tingkat SMP dan SMA tampak rela mengantre untuk merasakan langsung terapi tersebut.

Baca Juga:  Lomba “Nyurat Aksara” Pacu Anak-anak Belajar Bahasa Bali

“Antusiasme sangat tinggi, terutama sejak hari kedua. Banyak anak muda yang ingin mencoba terapi pijat tradisional. Minat pengunjung terus meningkat dari hari ke hari,” ucap Praktisi healing Gotra Pangusada Bali, Jero Rahayu Dewi.

Keluhan yang disampaikan kalangan remaja umumnya berkaitan dengan sakit kepala, rasa cemas, hingga kurang percaya diri. Melalui metode shape healing, terapi dilakukan dengan sentuhan ringan disertai pendekatan komunikasi agar pasien lebih terbuka menyampaikan beban pikirannya.

“Usia remaja sering mengalami tekanan mental. Dengan terapi ini, kami membantu menenangkan pikiran sekaligus mendeteksi apakah keluhan bersumber dari masalah medis atau nonmedis,” jelasnya.

Tak hanya berdampak pada kondisi psikis, pijat therapy healing juga berfungsi melemaskan tubuh dan membantu memulihkan keseimbangan fisik. Terapi ini, kata Jero Rahayu Dewi, dapat berjalan seiring dengan penanganan medis tanpa menggantikan peran dokter.

Baca Juga:  Sanggar RareAngon Sejati Gelar “Nangun Sat Kerthi Loka Bali Festival”

Ia menambahkan, reaksi tubuh saat disentuh menjadi indikator awal kondisi kesehatan seseorang. Jika muncul rasa nyeri berlebihan, hal itu menandakan adanya gangguan tertentu. Sebaliknya, rasa nyaman dan rileks menunjukkan tubuh dalam kondisi baik.

Partisipasi Gotra Pangusada Bali dalam pameran ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan pengobatan alternatif tradisional Bali kepada masyarakat luas.

Di lokasi pameran, terapi yang diberikan bersifat pemeriksaan awal dan pijat ringan, sementara penanganan lanjutan dilakukan di tempat praktik.

Pameran Bulan Bahasa Bali VIII sendiri berlangsung selama satu bulan penuh, dari 1 hingga 28 Februari 2026.

Baca Juga:  Gubernur Koster Buka Bulan Bahasa Bali 2021 Komitmen Pelestarian Bahasa dan Budaya Tetap Terjaga di Tengah Pandemi

Setiap pekannya, Gotra Pangusada Bali menghadirkan jenis pengobatan alternatif yang berbeda. Pada pekan pertama, pengunjung dapat menikmati pijat tradisional dan terapi healing yang sarat nilai budaya serta kearifan lokal Bali. [B/darma]

Related post