Selamat Jalan Pak Wid, Budayawan dan Fotografer Senior Bali
Budayawan dan Fotografer Senior Bali, Widnyana Sudibya berpulang/Foto: ist
BUDAYAWAN dan fotografer, Widnyana Sudibya telah berpulang. Ia meninggal pada Senin malam, 19 Mei 2026 di Rumah Sakit Sanglah. Jenazah mendiang masih disemayamkan di Rumah Duka RSAD Sudirman Denpasar hingga 24 Mei mendatang.
Sementara prosesi pengabenan dan memukur dijadwalkan berlangsung pada Senin 25 Mei di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung. Berpulangnya Widnyana Sudibya, maka Bali kehilangan salah satu sosok budayawan dan fotografer senior terbaiknya.
Sosok yang akrab disapa Pak Wid itu dikenal sebagai pribadi multitalenta. Selain fotografer, ia juga sebagai insinyur ini juga dikenal sebagai pelukis. Kepergiannya, Bali tentu kehilangan dan meninggalkan duka mendalam.
Tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga kalangan seniman, fotografer, akademisi, hingga pegiat budaya Bali. Sosok yang akrab disapa Pak Wid itu dikenal sebagai pribadi multitalenta. Selain fotografer, ia yang dikenal sebagai insinyur ini juga dikenal sebagai pelukis yang menggambarkan gerak langkah kesenian Bali.
Widnyana Sudibya, figur yang selama puluhan tahun dikenal konsisten mengabadikan denyut budaya dan tradisi Bali, meninggalkan jejak pengabdian panjang bagi dunia seni, adat, dan fotografi di Pulau Dewata.
Ketua Perhimpunan Fotografer Bali (PFB), Made Dana, menuturkan almarhum merupakan figur yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya Bali di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
“Beliau bukan hanya fotografer, tetapi budayawan yang sangat peduli menjaga identitas Bali. Cara berpikirnya sistematis, namun memiliki jiwa seni dan kepedulian budaya yang sangat kuat,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Semasa hidupnya, Widnyana Sudibya juga tercatat sebagai salah satu pendiri Perhimpunan Fotografer Bali (PFB). Bagi almarhum, fotografi bukan sekadar aktivitas visual, melainkan bagian dari pengabdian untuk merekam perjalanan budaya Bali agar tetap hidup lintas generasi.
Lewat kameranya, ia aktif mendokumentasikan berbagai pertunjukan seni, ritual adat, upacara keagamaan, hingga dinamika kehidupan masyarakat Bali. Hampir setiap kegiatan budaya besar di Bali tidak pernah luput dari perhatian almarhum.
Anak almarhum, Gde Jiesta Sudibya dan Nadia Sudibya, menuturkan sang ayah memiliki kecintaan luar biasa terhadap budaya Bali, terutama dalam mendokumentasikan berbagai momentum penting kebudayaan dan ritual keagamaan.
“Bapak hampir tidak pernah absen hadir langsung di kegiatan budaya seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), upacara besar di Pura Besakih, dan pura-pura lainnya di Bali. Beliau memang sangat cinta budaya,” ungkapnya.
Menurut pihak keluarga, sebelum meninggal dunia almarhum sempat mengalami gangguan kesehatan pada bagian pencernaan. “Beliau mengalami masalah di usus, susah buang air besar dan sempat divonis tumor,” ujarnya.
Bagi Widnyana Sudibya, fotografi memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar menangkap gambar. Melalui karya-karyanya, ia berusaha merekam nilai, filosofi, dan spiritualitas budaya Bali agar tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain aktif di dunia fotografi, almarhum juga dikenal kerap menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian tradisi. Pemikirannya banyak dituangkan melalui diskusi budaya, tulisan, serta keterlibatannya dalam berbagai forum seni dan adat di Bali.
Sosoknya dikenal sederhana, rendah hati, dan tidak pernah lelah mendorong generasi muda agar tetap mencintai budaya serta tradisi leluhur Bali. Dedikasi dan karya-karyanya diyakini akan terus hidup sebagai jejak penting dalam menjaga memori dan warisan budaya Pulau Dewata. [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali