November 28, 2021
Ulasan

I Nyoman Sujena, Sang Bima Favorit Pengunjung PKB Ditahun 80-an

Masih ingat dengan pementasan Sendratari Mahaberata dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 1980-an dan 1990-an? Pasti tahu atau pernah mendengar Tokoh Bima dan Sekuni yang menjadi favorit pengunjung PKB saat itu. Setiap kali sendratari produksi Pemerintah Provinsi Bali itu dipentaskan, panggung terbuka Ardha Chandra yang berkapasitas lebih dari 6.000 penonton itu selalu penuh sesak. Penonton, bahkan menunggu-nunggu aksi apik tokoh Bima dan Sekuni. I Nyoman Sujena, nama penari yang memerankan tokoh Bima itu, sedangkan tokoh Sekuni diperankan I Made Mundra.

I Nyoman Sujena

Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau I Nyoman Sujena itu merupakan seniman tari asal Banjar Gulingan, Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan. Pada PKB ke-43 tahun 2021, I Nyoman Sujena memberikan tanda penghargaan “Adi Sewaka Nugraha” oleh Pemerintah Provinsi Bali atas pengabdian, kegigihan, dan semangatnya dalam membina, melestarikan dan mengembangkan seni tari.

Semasa kecilnya, pria kelahiran 31 Desember 1949 itu tidak pernah membayangkan menjadi seorang seniman. Hanya saja, ketika masih anak-anak dulu, terutama saat duduk di kelas V SD 1 Antosari, ia kerap bermain barong-barongan bersama teman-temannya. Barong itu dibuatkan oleh I Regug yang bentuk dan rupanya sangat sederhan, namun dapat membuat mereka senang. Regug merupakan seniman otodidak yang piawai menggambar, membuat tapel, dan membuat grantang (gamelan rindik). Karena multi talenta itu, Sujena sangat mengagumi Regug sebagai seniman otodidak. “Tokoh I Regog itulah yang memberikan saya “lawat” (inspirasi) dalam berkesenian,” kata Sujena mengawali ceritanya.

Padahal, barong yang dibuat I Regug itu begitu sederhana dengan bahan dari ambu, namun barong itu banyak masyarakat yang menanggapnya. Masyarakat menyebutnya dengan Barong Jengki, karena bentuknya kecil namun menarik. Sujena dan teman-temannya sering pentas dengan barong yang tidak terlalu mewah itu. Bahkan, sampai keluar areal desanya. Walau banyak yang menanggap, namun ia tetap memilih pentas pada saat libur sekolah. Sekaa ini memanfatkan gamelan tingklik (gamelan bahan bambu) sebagai iringan. Kami Cerita yang diangkat, yakni “Tuwung Kuning” yang diakhiri dengan pertempuran barong dan rangda jelmaan Pan Tuwung Kuning dan Dadong Tuwung Kuning. Sebagai penari barong cilik, saat itu Sujena banyak mendapatkan pujian.

Setelah melanjutkan pendidikan ke SMP 1 Antosari, anak ketiga dari lima saudara dari pasangan I Wayan Sadra dan Wayan Sitiarsi ini justru menyukai seni menggambar. Ia rajin menggambar tokoh-tokoh pejuang, seperti Bung Karno, Sudirman, maupun tempat suci, seperti Pura Tanah Lot. Walau menggunakan media kertas dan pensil, hasil goresannya biasa dipajang di kelas. “Hasil karya lukis saya itu sempat dilihat oleh Kepala SMP 1 Antosari, lalu mengarahkan agar saya melanjutkan sekolah ke Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) Bali –kini bernama SMKN 3 Sukawati—untuk memupuk bakat seni menggambar itu. Saya menanggapi dingin ide kepala sekolah itu karena tidak pernah terpikirkan untuk memilih sekolah seni itu,” akunya polos.

Hanya saja, menjelang tamat SMP, suami Ni Ketut Ayu Sekariati ini sempat terkagum-kagum menyaksikan pentas Sendratari Kokar di desanya. Hal itu mendorongnya menimbang kembali saran kepala sekolahnya. Setamat SMP, ia kemudian nekat ke Denpasar. Ia ingin mendaftar ke sekolah seni milik masyarakat Bali itu. Ia bertanya kepada kusir dokar di mana lokasi sekolah seni itu, lalu meminta untuk diantarkan ke sekolah itu. Ia sempat bingung, karena diajak ke pura. “Sekolah Kokar itu mirip seperti pura karena lebih banyak menggunkan ukiran dan symbol-simbol dalam arsitektur Bali,” tutur Sujena.

Tak dinyana, Sujena langsung diterima tanpa melalui tes. Itu bukan karena ia pintar menari, melainkan karena memang sekolah itu sedang membutuhkan siswa. Saat itu ia betul-betul tercengang melihat guru-guru yang piawai menari Bali, termasuk teman-temannya yang sebagain besar sudah menguasai tari. Sujena yang hanya bermodal niat dan semangat saja, sehingga merasa minder dan sempat memutuskan untuk pindah. “Untung saja Alit Susandi, teman saya yang menahan langkah keluar sekolah, bahkan ia menyatakan bersedia mengajari menari Baris. Saya sangat senang dengan tawaran itu, langsung mengisi dirinya dengan belajar menari di luar sekolah. Dia lakukan itu terus-menerus hingga
menguasai dasar-dasar tari.

Putra pemilik Sekolah Penjahit Harmonis Bajera ini memang tak piawai menari, tetapi dalam urusan pelajaran ia tampak pintar, sehingga selalu terpilih sebagai Juara Umum I. Seriring dengan prestasi itu, ia kemudian didapuk sebagai Ketua OSIS yang sering memimpin teman-temannya dalam pageleran. Ia sendiri tidak ikut menari, namun ia sangat telaten mengkoordinasi teman-temannya. Pada 1969, ia memimpin teman-temannya saat Kokar melakukan pagelaran keliling Indonesia Timur bersama PT Pelayaran Nusa Tenggara, seperti ke Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Sumba, Alor, Aru, Timor, dan Makasar.

I Nyoman Sujena

Meskipun tak piawai menari, Sujena beberapa kali mengalami kejadian yang memaksanya untuk ikut menari. Pengalaman-pengalaman itu justru menjadi pelajaran berharga baginya. Sebut saja saat pementasan sendratari “Rajapala” di Makasar, Sujena dipaksa ikut menari dan memerankan tokoh pedagang ayam. Tanpa disadari, ayam itu lepas, sehingga ia harus berjuang dengan segala upaya untuk bisa menangkap ayam itu. Adegan menangkap ayam itu tanpa skenario, namun penonton senang dan tertawa saking lucunya.

Pertunjukan itu menjadi lebih hidup. Pengalaman buruk lain yang menjadi pelajaran lagi bagi Sujena, yakni ketika diminta tolong merias Alit Susandi yang diundang pentas pada salah satu sekolah. Sampai di lokasi, Sujena bukannya lantas meris, justru disuruh menari. Sementara Alit Susandi yang meriasnya. Walau tahu paileh Tari Jauk, tetapi ia belum menguasai tenaga. Maka wajar, rasa tegang, degdegan mewarnai pementasannya, sehingga di akhir pentas ia jatuh tersungkur.

Menariknya, pengalaman itu bukannya membuatnya kapok, justru menjadi lebih semangat berlatih. Sujena kemudian belajar tari dengan I Nyoman Kakul dari Desa Batuan Gianyar, juga belajar pada Ida Bagus Raka dari Bongkasa, Badung dan Ruwit, seniman Jauk di kampungnya. Ia rela naik sepeda gayung berpuluh kilometer untuk bisa mendapatkan ilmu seni itu. “Saya senang mempelajari style tari yang berbeda-beda,” kata Sujena.

Pria rendah hati ini sempat pula belajar pada seniman topeng, Repet, di Kediri, Tabanan. Kemampuan Sujena pun kian bertambah. Nah, ketika I Wayan Beratha membuat Sendratari Mahabrata dengan kisah “Arjuna Tapa”, Sujena dilatih sebagai penari Bima. Ia mampu memerankan tokoh Bima dengan baik. Demikian pula saat I Wayan Beratha membuat sendratari Ramayana, Sujena didapuk menjadi penari Rahwana. Semenjak itu, ia terkenal sebagai penari Rahwana, hingga sering diminta untuk ngayah di banjar-banjar, hotel serta di Kokar. Ia akhirnya tamat Kokar pada 1970.

Sujena lalu melanjutkan ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar–kini ISI Denpasar. Di kampus seni itu, ia lebih banyak mendapatkan teori tentang penciptaan seni tari, termasuk pengenalan seni kontemporer dan modern. Ia banyak mendapat ilmu dari Prof. I Made Bandem dan Prof. I Wayan Dibia. Ilmu menganalisis tari semakin dikuasainya, bahkan ia menemukan kunci ngunda bayu dalam menari Bali. Hal itu ia temukan setelah menari barong di desanya hingga karauhan. Ia merasakan seberapa tenaga yang dikeluarkan pada saat karauhan, lalu itu dipratikannya di atas panggung.

Saat masih menjadi mahasiswa, Sujena dipercaya sebagai penari yang sering melakukan pentas. Ia bahkan, dipercaya sebagai duta seni untuk mempromosikan Bali di India, Jerman, Italia, Roma, dan New Kali Dunia. Ia dipercaya mengisi acara Bina Tari TVRI sekitar 1972 bersama seniman senior lainnya. Perkenalannya dengan Sardono dan Zal Murgianto memberinya tambahan ilmu, khususnya dalam dunia seni kontemporer. Bahkan, Sujena sempat dipilih sebagai penari kontemprer bersama Sardono yang mendapatkan kesempatan pentas di Amtersdam, Roterdam, Perancis, dan Iran sekitar tahun 1973.

Setelah tamat ASTI pada 1975, ia lebih banyak melakukan pagelaran dan melatih tari di banjar. Pada 1977, ia kembali dipercaya Sardono menari kontemporer di Jepang. Selanjutnya, Sujena diangkat menjadi guru Kokar pada 1976, khusus mengajar teknik tari laki, seperti tari Baris, Topeng, Jauk dan lainnya. Pada tahun 1980-an, Kokar kemudian mempercayainya menampilkan sendratari dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Selain sebagai penggarap tari bersama, ia juga didapuk sebagai penari yang memerankan tokoh Bima. Tugas itu ia lakukan setiap tahun, sehingga telah mengumpulkan segudang penghargaan seni. Bersamaan dengan itu pula, ia
menyelesaikan pendidikan di ISI Yogyakarta pada 1987 dengan menyandang gelar Sarjana Seni Tari (SST).

Setelah Kokar pindah lokasi ke Batubulan, Sukawati, Gianyar, Suijen lalu dipercaya mengajar koreografi. Aktivitas menggarap sendratari secara berkelompok masih dilakukannya setiap tahun. Untuk ikut melestarikan kesenian Bali, ia juga mendirikan Sanggar Tari Bali yang dilanjutkan dengan membuka usaha penyewaan busana tari. Ruang kosong di rumahnya, yakni di Jalan Gadung Gangg 11 No 4 Denpasar sebagai studio latihan. Sanggar yang dikelolanya sempat memiliki jadwal pentas ke Jepang setiap empat kali dalam setahun.

Sebagai seniman berpengalaman, ia telah mengumpulkan segudang penghargaan, mulai dari Himpunan Seniman Remaja, Bupati Badung, Bupati Gianyar, penghargaan sebagai Pembina Pawai PKB, penghargaan dari hotel, sponsor Jepang, penari dan penghargaan sebagai pembina tari. Menjelang masa pensiun pada 2009, ia sempat melakukan lawatan ke Australia untuk menampilkan tari Bali. Masa pensin dimanfaatkan untuk melatih anak-anak menari Bali. Namun, setelah pandemi Covid-19, kegiatan itu terhenti. Kini, ia merawat kostum busana tari miliknya. [B/*]

Related Posts