Festival Enlightened Bali 2026 Angkat Tema “PASAR Malam”: Satukan Seni, Sains dan Bisnis
Suasana media gathering Enlightened Bali 2026 di Masa Masa, Kamis 21 Mei 2026/Foto: ist.
Enlightened Bali 2026 kembali digelar pada 13–16 Agustus 2026 bertempat di Big Garden Corner Denpasar. Festival yang mengangkat tema ‘PASAR Malam’ akan menjadi ajang edukasi yang akan isu masa depan industri lighting, polusi cahaya, dan edukasi pencahayaan.
Selain meriah, festival ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi desainer, arsitek, seniman, mahasiswa hingga komunitas untuk mengeksplorasi masa depan pencahayaan melalui pendekatan seni, budaya dan edukasi.
Direktur Dua Lighting sekaligus Co-Founder of Enlightened Bali, Robby Permana Mannas mengatakan, ada alasan mengapa sebagian ruang terasa hidup, sementara sebagian lainnya hanya terlihat indah di foto.
Perbedaannya sering kali bukan terletak pada seberapa mahal materialnya, seberapa besar bangunannya, atau seberapa ikonik arsitekturnya. Perbedaannya ada pada bagaimana ruang itu membangun rasa. Dan sebagian besar rasa itu dibentuk oleh cahaya.
Namun hingga hari ini, pencahayaan masih terlalu sering hadir di tahap akhir pembangunan. Ketika struktur sudah selesai, ketika plafon sudah tertutup, dan ketika ruang sudah kehilangan banyak kemungkinan terbaiknya.
Fenomena ini diperkuat oleh realitas di lapangan; berdasarkan estimasi kolektif praktisi industri, sekitar 85 persen bangunan di Indonesia masih dibangun tanpa keterlibatan profesional pencahayaan, sebuah blind spot besar yang mereduksi fungsi cahaya sekadar sebagai penyesuaian teknis belaka, bukan sebuah visi desain yang utuh.
“Enlightened Bali 2026 hadir untuk mengubah cara pandang tersebut,” kata Robby Permana Mannas.
Dengan mengusung tema PASAR Malam, platform ini dibangun bukan hanya sebagai event industri, tetapi sebagai ruang pertemuan antara desain, teknologi, budaya, bisnis, dan pengalaman manusia.
Sebuah gerakan yang percaya bahwa lighting bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan bagian dari bagaimana sebuah ruang berbicara kepada manusia. Karena hospitality, pada akhirnya, bukan bisnis bangunan, melainkan bisnis perasaan.
Gerakan ini digagas langsung oleh para pemimpin industri yang memahami betul bahwa keputusan tata cahaya yang dibuat sejak titik nol akan menentukan produktivitas nilai investasi.
“Pencahayaan memiliki kekuatan untuk mengangkat atau justru menghancurkan sebuah proyek pengembangan. Ia berperan langsung terhadap kualitas pengalaman manusia di dalam sebuah bangunan, baik bagi pengguna ruang maupun pekerja di dalamnya. Solusinya adalah membangun pemahaman kolektif bahwa lighting adalah investasi fundamental yang nyata, bukan pelengkap di akhir proyek,” paparnya.
PASAR Malam dipilih sebagai tema karena ia merepresentasikan sesuatu yang sangat dekat dengan budaya Asia: ruang yang hidup, hangat, sosial, dan penuh emosi. Sebuah tempat di mana manusia berkumpul bukan hanya untuk melihat sesuatu, tetapi untuk merasakan sesuatu.
Bagi Enlightened Bali, pendekatan itu penting karena industri kreatif hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang estetika visual, tetapi tentang bagaimana ruang memengaruhi perilaku, suasana hati, hingga memori manusia.
Founder & Direktur Lumina Group serta Co-Founder of Enlightened Bali, Abdi Ahsan, menjelaskan, esensi utama dari argumen ini. Enlightened Bali bukan sekadar sebuah acara. Ini adalah sebuah argumen terstruktur bahwa cahaya layak mendapatkan posisi yang berbeda dan lebih terhormat dalam proses desain.
Melalui kesadaran komersial yang dibalut kehangatan kultural ini, gerakan ini dirancang untuk mempertemukan para lighting designer, arsitek, interior designer, developer, operator hospitality, hingga pelaku teknologi dalam satu percakapan yang lebih relevan.
“Kami sedang membangun sebuah platform tempat argumen itu disampaikan secara gamblang di depan semua pihak yang paling menentukan arah industri masa depan,” tegas Abdi Ahsan.
Founder & Direktur Studio Sensar sekaligus Creative Head of Enlightened Bali, Diva Anadria menjabarkan, mengapa pendekatan PASAR Malam ini menjadi kunci strategis. Manusia sering kali berpikir bahwa mereka membuat keputusan secara rasional, padahal industri hospitality itu sepenuhnya tentang emosi.
Sebelum tamu mengingat makanan atau perabotan yang ada, mereka akan mengingat bagaimana ruang tersebut membuat mereka merasa. Pencahayaan menguasai sebagian besar dari pengalaman tak kasat mata itu.
“Melalui atmosfer PASAR Malam, kami menciptakan sebuah ekosistem tempat ide, teknologi, bisnis, dan koneksi manusia bertabrakan secara alami agar percakapan yang mengubah praktik industri ini bisa lahir dari ruang yang intim dan penuh makna,” jelas Diva Anadria.
Edisi Enlightened Bali 2026 – PASAR Malam akan menghadirkan lighting professional, arsitek, operator hospitality, dan pelaku industri kreatif dari Inggris, Singapura, Jepang, Australia, juga berbagai negara Asia lainnya untuk membawa perspektif global serta studi kasus nyata ke dalam dialog bersama komunitas desain Indonesia.
Sejumlah brand internasional seperti anchor brand Light Illumination Engineering, bersama PROLICHT, ModuleX, CASAMBI, Helvar, WAC Lighting, DUA Lighting, dan berbagai partner lainnya telah berkomitmen penuh mendukung gerakan ini.
Kolaborasi masih terbuka lebar bagi hospitality group, developer, manufaktur, studio desain, maupun institusi kreatif yang percaya bahwa masa depan sebuah ruang tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang dibangun, tetapi oleh apa yang dirasakan manusia di dalamnya.
“Pada akhirnya, manusia tidak selalu mengingat detail sebuah ruang. Mereka mengingat suasananya. Mereka mengingat rasanya. Dan lebih sering daripada yang disadari banyak orang, rasa itu dimulai dari cahaya,” tutup Diva Anadria, . [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali