Janger Pegok Dihidupkan Kembali di PKB 2026, Pertunjukan “Kejit Enyor”
Janger Pegok saat melakukan pembinaan dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar/Foto: darma
SEKAA Janger Pegok dipercaya menjadi duta Kota Denpasar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48. Kesenian janger yang dipercaya sudah ada sejak tahun 1937 itu, menampilkan pementasan janger bertajuk “Kejit Enyor” yang akan pentas pada 4 Juli 2026.
Pementasan kesenian janger khas Pegok ini disajikan para pemuda pemudi yang tengah bersemangat melestarikan warisan leluhur mereka. Kesenian ini didukung sebanyak 12 penari perempuan dan 12 penari laki-laki tampil dalam formasi persegi panjang khas Janger Pegok.
“Pertunjukan tahun ini menghadirkan perpaduan antara rekonstruksi gending klasik, adaptasi kekinian, hingga inovasi artistik tanpa meninggalkan akar tradisi khas Pegok,” kata I Made Agus Wardana, penata artistik Janger Pegok sekaligus penulis konsep pertunjukan, disela-sela pembinaan oleh Dinas kebudayaan Kota Denpasar, Minggu 24 Mei 2026.
Dalam pertunjukannya, akan menampilkan sebanyak 10 gending, mulai dari karya klasik hingga hasil rekonstruksi baru. Iringan gamelan Smarandana dipadukan dengan Gong Suling tetap mempertahankan logat khas “nak Pegok” sebagai identitas musikal diwariskan turun-temurun.
“Temuan video di Jerman itu kini menjadi pengingat bahwa seni tradisi Bali pernah direkam dunia dan tetap hidup hingga hari ini melalui tangan generasi penerus yang menjaga warisan leluhur dengan penuh dedikasi,” ucapnya.
Video Janger Pegok ditemukan di Jerman
Bukti kejayaan seni tradisi Bali dari masa lampau seringkali ditemukan di luar negeri. Video langka pertunjukan Janger Pegok produksi tahun 1937 ditemukan di Jerman dan menjadi bukti penting perjalanan kesenian rakyat Bali yang telah dikenal dunia sejak era kolonial.
Arsip video tersebut ditemukan pada tahun 2009 oleh seniman dan budayawan Pegok, I Made Wardana, melalui koleksi milik lembaga media sains IWF Göttingen, Jerman.
Rekaman berdurasi sekitar 10 menit itu mendokumentasikan pertunjukan Janger dan Calonarang yang digelar di Pura Sari Pegok, Sesetan, sekitar tahun 1936 saat Bali tengah dilanda wabah malaria.
Temuan video tersebut menjadi penanda bahwa Janger Pegok memiliki nilai sejarah dan identitas budaya yang sangat kuat.
“Video ini menjadi bukti bahwa leluhur Pegok telah memiliki kreativitas seni yang luar biasa sejak dulu. Ini bukan hanya dokumentasi pertunjukan, tetapi jejak spiritual, gotong royong, dan identitas masyarakat Pegok,” ujarnya.
Agus Wardana mengatakan, Janger Pegok lahir dari semangat kebersamaan para pemuda Banjar Pegok pada awal abad ke-20. Berawal dari tradisi berkumpul sambil melantunkan gending pujaan dan romantisme rakyat, kesenian itu berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang digemari masyarakat Bali Selatan.
Berbeda dengan seni pertunjukan kerajaan seperti Gambuh yang identik dengan lingkungan puri, Janger hadir sebagai seni rakyat yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat biasa. Kehadiran penari perempuan dalam pertunjukan Janger kala itu juga menjadi pembaruan besar dalam dunia seni pertunjukan Bali.
Dalam arsip video tersebut dijelaskan, pertunjukan Calonarang dilaksanakan sebagai bagian ritual penolak bala akibat wabah penyakit. Karena keterbatasan penari sisya yang memenuhi syarat, para penari Janger yang saat itu tengah berlatih akhirnya turut dilibatkan dalam pementasan sakral tersebut.
Warga Pegok kala itu bahkan bergotong royong mengumpulkan dana untuk membuat kostum pertunjukan. Semangat kolektif itulah yang membuat Janger Pegok mampu bertahan dan berkembang hingga kini. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali