Minikino Film Week 12, Merayakan Film Pendek sebagai Jembatan Kemanusiaan
Para narasumber saat konferensi pers di ARTOTEL Sanur, Selasa 1 September 2026/Foto: dar
MINIKIMNO Film Week (MFW12) – Bali International Short Film Festival kembali digelar pada 11–18 September 2026. Festival film pendek yang berlangsung di berbagai lokasi di Bali ini berpusat di Kota Denpasar.
Digagas oleh Yayasan Kino Media, MFW12 tidak sekadar menjadi ajang perayaan sinema, tetapi juga menjadi ikhtiar kolektif untuk membangun empati, mendobrak sekat antarmanusia, serta memperkuat ekosistem industri film pendek nasional dari akar rumput.
Edisi ke-12 tahun ini hadir dengan pendekatan yang lebih segar, baik dari sisi kuratorial maupun keterlibatan orang-orang di balik layar. Sebanyak 1.454 film pendek dari berbagai penjuru dunia diterima melalui platform pendaftaran internasional. Setelah melalui proses kurasi berlapis oleh tim praseleksi dan program, sebanyak 122 film terpilih sebagai Official Selection.
Film-film tersebut mewakili 60 negara, termasuk Indonesia. “Kami percaya film pendek berfungsi sebagai jendela yang esensial. Gambar bisa menembus isolasi yang kita bangun di dalam diri kita sendiri. Film-film ini tidak menjanjikan jawaban yang mudah, tetapi menawarkan kesadaran bahwa manusia adalah setara dengan kelebihan dan kekurangannya, dan kapasitas kita untuk berharap pada nilai kebaikan,” kata Edo Wulia, Direktur Festival MFW12, dalam konferensi pers di ARTOTEL Sanur, Selasa, 1 September 2026.
Selain kompetisi internasional, MFW12 menghadirkan beragam program, mulai dari pertukaran film nasional Indonesia Raja 2026, jaringan regional The Southeast Asia Networks, tiga program tamu, hingga film-film pilihan dari kompetisi Begadang 10 Tahun.
Secara keseluruhan, festival ini memproyeksikan 202 judul film pendek yang terbagi dalam 42 program penayangan. Program tersebut akan diputar secara berulang di sejumlah lokasi untuk memperluas akses penonton.
Dari keseluruhan film yang diputar, karya fiksi mendominasi dengan porsi 59,46 persen, disusul animasi 20,27 persen, dokumenter 9,91 persen, eksperimental 8,11 persen, dan dokufiksi 2,25 persen. “Festival edisi ke-12 ini ditopang oleh empat pilar strategis yang mengintegrasikan aspek eksibisi, industri, pendidikan, dan kompetisi secara dinamis,” jelas Edo.
Memperluas Akses melalui Pemutaran Komunitas
Pada pilar eksibisi dan penayangan, pusat kegiatan MFW12 berada di MASH Denpasar Art House Cinema, Rumah Tanjung Bungkak (RTB), dan Dharma Negara Alaya (DNA).
Festival juga kembali mengaktifkan program Community Screenings untuk memperluas akses masyarakat terhadap film pendek. Pemutaran digelar di sejumlah titik, antara lain Alliance Française Bali, SMAN Bali Mandara di Buleleng, Kedai Kopi DeKakiang – Singaraja Menonton di Singaraja, CushCush Gallery, Rumah Film Sang Karsa di Lovina, dan Noema Resort Pererenan.
Program Sinema Inklusif juga kembali hadir. Program ini menyediakan deskripsi audio (Audio Description) bagi penonton dengan gangguan penglihatan serta takarir khusus atau Subtitles for the Deaf and Hard of Hearing (SDH) bagi penonton dengan gangguan pendengaran. Seluruh fasilitas tersebut tersedia dalam Bahasa Indonesia.
Mempertemukan Kreator dan Industri
Memasuki tahun kedelapan, Short Film Market (SFM) menjadi salah satu ruang penting dalam MFW12 untuk mempertemukan pelaku industri film pendek nasional dan internasional.
Tahun ini, SFM menghadirkan 25 kegiatan pasar film yang mencakup market screenings, pitching forum, talks, serta sesi jejaring Speed Dates. Program tersebut menjadi ruang pertemuan antara kreator dengan produser, kurator, dan lembaga pendanaan internasional.
Di sisi lain, MFW Education terus mendorong literasi media dan kemampuan berpikir kritis. Dengan dukungan fasilitas dari Dharma Negara Alaya, Denpasar Creative Agency (BKraf Denpasar), dan Pemerintah Kota Denpasar, program Short Films for Schools tahun ini dilengkapi Watch and Learn Guide atau Panduan Nonton dan Belajar.
Salah satu bentuk konkret program pendidikan tersebut adalah ko-produksi film pendek animasi stop-motion internasional KORINCO (Korea-Indonesia-Colombia). Memasuki tahun keempat, KORINCO berkolaborasi dengan SDN 5 Dauh Puri, Denpasar, untuk melatih anak-anak usia 10–12 tahun membuat karya animasi bersama rekan sebaya dari berbagai belahan dunia.
Kompetisi, Inkubasi, dan Regenerasi
Selain kompetisi film nasional dan internasional, MFW12 juga menjadi panggung bagi Begadang 10 Tahun, kompetisi produksi film pendek dengan batas waktu hanya 34 jam.
Tahun ini, kompetisi tersebut diikuti 50 kelompok produksi dari seluruh Indonesia. Sebanyak 31 kelompok berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Dari karya yang dihasilkan, sepuluh film pendek terpilih untuk ditayangkan perdana dalam MFW12.
Program SHORTS UP 2026 juga kembali digelar untuk ketiga kalinya dengan dukungan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya). Program ini diarahkan untuk mendukung pengembangan naskah film dan talenta pembuat film Indonesia.
Penentuan para pemenang MFW12 dikawal dewan juri yang berasal dari latar belakang disiplin, gender, dan kebangsaan yang beragam. Jury Board 2026 terdiri atas Gie Sanjaya, kurator independen, peneliti, pendidik, sekaligus pendiri Kids Biennale Indonesia; Mélissa Bouchard, Direktur Program REGARD – Saguenay International Short Film Festival, Kanada; serta Patrick Campos, akademisi film, programmer-kurator, dan profesor di University of the Philippines Film Institute, Filipina.
Para juri tersebut akan menentukan pemenang dalam sejumlah kategori utama, termasuk MFW Best Short Film of the Year Award 2026, serta penghargaan untuk film pendek fiksi, dokumenter, animasi, eksperimental, anak-anak, Kompetisi Nasional, hingga kompetisi Begadang.
Khusus untuk Begadang, MFW12 juga memperkenalkan Deru Ibnu Ghifari sebagai Juri Kehormatan Begadang 10 Tahun. Posisi tersebut menjadi tradisi khusus yang diberikan kepada pemenang utama kompetisi Begadang tahun sebelumnya.
Komitmen terhadap regenerasi juga diwujudkan melalui pengaktifan kembali Youth Jury Board 2026. Dewan juri muda ini terdiri atas alumni program magang penulisan Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers 2025, yaitu Audie Wang, Hilmi Reyhan, Rahmania Nerva, dan Hesty Nurul Kusumaningtyas.
Dengan kepekaan estetika dan perspektif generasi muda, mereka bertugas menyeleksi sekaligus menentukan pemenang penghargaan khusus Youth Jury Award 2026.
Energi Segar dari Balik Layar
Salah satu hal yang membuat MFW12 terasa berbeda adalah semakin kuatnya penonjolan perspektif kemanusiaan dari orang-orang yang bekerja di balik layar. Para kru, termasuk peserta magang dari berbagai daerah di Indonesia, menjadi bagian penting dalam menggerakkan festival sehari-hari.
Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW12, mengatakan kehangatan film pendek tidak dapat dipisahkan dari cara orang-orang di belakangnya bekerja.
“Sifat film pendek yang sangat personal dan intim itu hanya bisa dihadirkan jika orang-orang yang mengerjakannya juga bekerja dengan rasa saling percaya. Kerja tim inilah yang menjadikan MFW12 bukan sekadar ajang selebrasi film, tetapi sebuah ruang perjumpaan yang humanis,” tuturnya.
Hal senada disampaikan I Made Suarbawa, Travelling Cinema Director sekaligus Ketua Yayasan Kino Media. Menurutnya, dimensi lokal menjadi bagian penting dari perjalanan MFW.
“Dengan pop-up cinema yang bergerak ke desa-desa di seluruh Bali selama bertahun-tahun, kami percaya pada kekuatan film pendek untuk memperkuat rasa kebersamaan di dalam komunitas dan masyarakat luas,” ujarnya.
“Minikino sebagai cikal bakal MFW, sejak awal digerakkan oleh sukarelawan (Volunteer), bahkan hingga saat ini. Rasa antusias pada film pendek dan gairah berjejaring yang kemudian menjadi nafas dari pelaksanaan MFW. Sehingga MFW menjadi festival yang terasa akrab dan egaliter”, ungkap I Made Suarbawa, Travelling Cinema Director sekaligus ketua yayasan Kino Media.
Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan generasi muda di garis depan penyelenggaraan festival. Salah satunya Putu Mutya Dewi, mahasiswa DKV Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia yang menjalani kerja praktik di kantor kreatif Minikino sebagai bagian dari tim desain visual.
“Sebagai anak Bali yang biasanya hanya bergaul di lingkaran lokal, di sini saya dipertemukan dengan teman-teman dari latar belakang daerah yang sangat beragam. Ini membuka cara pandang saya tentang kerja kolaboratif yang profesional namun tetap sangat hangat dan suportif,” kata Mutya.
Bagi Amin Taufik Ramadhan, kru magang asal Bogor sekaligus mahasiswa Film & Televisi Universitas Widyatama Bandung, keterlibatannya dalam MFW12 menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan akademis secara langsung.
“Semua materi kuliah dan SKS teraplikasi penuh di sini, dari masalah teknis pemutaran hingga manajemen praproduksi. Lingkungan kerjanya sangat kompak, sehat, dan betul-betul memanusiakan kami sebagai pekerja kreatif,” ungkap Taufik.
Pengalaman serupa dirasakan Abigail Florence Pattiselanno. Lulusan Arsitektur Universitas Sam Ratulangi yang memiliki minat di bidang desain grafis ini mengaku sempat merasa cemas sebelum bergabung sebagai kru magang.
“Awalnya saya takut, membayangkan dunia festival ini akan sangat menyeramkan dan kaku seperti korporat umum, terutama karena saya sempat trauma dengan pengalaman melamar kerja sebelumnya. Namun di sini, saya justru menemukan keluarga baru (found family). Kami dibimbing, dituntun, diajarkan toleransi yang sangat tinggi, dan diberi ruang untuk berkembang. Hal ini mengembalikan kepercayaan diri saya untuk berkomunikasi,” tutur kru yang akrab dipanggil Abbie ini.
Menjadi Jembatan bagi Ekosistem Film Pendek
Energi generasi muda dari berbagai daerah tersebut semakin diperkuat oleh pandangan Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, Market Screening Coordinator MFW12. Dalam mengoordinasikan program Short Film Market, ia berharap ruang pertemuan tersebut dapat membuka lebih banyak peluang kolaborasi bagi para pelaku film.
“Harapan kami, para peserta Short Film Market di MFW tahun ini mendapatkan networking yang lebih luas. MFW dan market screening ini harus terus menjadi jembatan kokoh yang mempertemukan mereka dengan orang-orang baru,” tuturnya.
Keberlanjutan ekosistem film pendek membutuhkan sinergi lintas sektor. Dukungan Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menjadi salah satu penguat bagi partisipasi aktif filmmaker Indonesia dalam ekosistem perfilman internasional.
Nilai kemanusiaan yang menjadi semangat MFW12 juga diwujudkan melalui ruang tayang yang inklusif. Program Sinema Inklusif memberikan akses bagi penonton Tuli dan penyandang disabilitas netra melalui penyediaan takarir khusus (SDH) dan deskripsi audio (Audio Description) dalam Bahasa Indonesia.
Melalui berbagai program tersebut, MFW12 tidak hanya mempertemukan film dan penonton, tetapi juga mempertemukan kreator, industri, komunitas, generasi muda, serta berbagai latar belakang masyarakat.
Dengan jejaring nasional dan internasional, integrasi antara industri dan pendidikan, serta semangat kolaborasi dari orang-orang di balik layar, Minikino Film Week 12 kembali menegaskan posisi film pendek sebagai medium yang mampu melampaui batas geografis dan budaya—menjadi jembatan untuk mempertemukan manusia. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali