Dari Bali hingga Dunia, NIFF 2026 Hidupkan Pertukaran Budaya di Ubud
Nusantara International Folklore Festival (NIFF) 2026 yang berlangsung di Ubud, Bali, 26–27 September/Foto: ist
SENJA perlahan turun di Ubud. Cahaya terakhir matahari masih menyentuh panggung Museum Puri Lukisan ketika sekelompok anak muda bersiap tampil. Mereka duduk melingkar, bercanda dan tertawa, seolah tak ada kegugupan menjelang pertunjukan. Di sisi lain, stan-stan kuliner mulai dipadati aroma makanan dan percakapan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Tak jauh dari sana, suasana berubah menjadi lebih riuh. Di panggung terbuka Pasar Rakyat Ubud, hentakan kaki dan suara khas Kapa Haka mengundang perhatian pengunjung. Para penampil dari suku Māori, Selandia Baru, membawa tradisi mereka ke hadapan wisatawan yang sore itu memenuhi kawasan pasar. Tak lama kemudian, bunyi musik dari Nadarzyn Orchestra Polandia menggema, membawa warna lain ke tengah suasana Ubud.
Di satu sisi, anak-anak Bumi Bajra menunggu giliran tampil. Di sisi lain, penari Māori membawa cerita leluhur mereka ke hadapan wisatawan. Tak lama kemudian, musik Polandia memenuhi udara Ubud. Beragam bahasa, kostum, gerak dan bunyi bertemu dalam satu tempat.
Itulah wajah Nusantara International Folklore Festival (NIFF) 2026 yang berlangsung di Ubud, Bali, 26–27 September. Festival ini bukan sekadar pertunjukan kesenian rakyat. Di balik panggungnya, ada upaya mempertemukan tradisi yang berbeda, memperkenalkan kesenian Indonesia kepada dunia, sekaligus membuka ruang bagi seniman untuk belajar dari kebudayaan lain.
Festival Director & Co-Founder NIFF, Sita Tyasutami mengatakan, NIFF 2026 kembali hadir di Ubud, Bali, dengan rangkaian pertunjukan utama pada 26–27 September 2026. Festival yang mengusung tema “Global Rhythms, Shared Stories” ini mempertemukan kelompok seni dan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dengan peserta internasional dari Jepang, Selandia Baru, Polandia, dan Thailand.
Di Ubud, NIFF 2026 menghadirkan pertunjukan, workshop, serta ruang pertemuan antarbudaya. Program festival mencakup berbagai bentuk seni tradisi, mulai dari tari Bali, Jawa, Sunda, Minangkabau, Dayak, dan tradisi Nusantara lainnya, hingga Nihon Buyo dari Jepang, musik orkestra Polandia, seni tari Thailand, serta Kapa Haka dari Selandia Baru.
NIFF merupakan kelanjutan dari perjalanan Jakarta International Folklore Festival (JIFF) yang pertama kali diselenggarakan pada 2019 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta. Setelah terhenti akibat pandemi COVID-19, festival kembali hadir secara independen melalui penyelenggaraan NIFF 2025 di Ubud. Tahun ini merupakan edisi kedua NIFF.
“NIFF pertama kali dimulai di tahun 2019 dengan nama Jakarta International Folk Festival saat itu di Lapangan Banteng. Awalnya mau terus berlanjut, tetapi dengan perubahan kepemimpinan dan kemudian pandemi COVID, akhirnya semua terhenti. Pada 2024 kami berpikir, yuk kita bikin lagi, tidak usah menunggu siapa pun, kita bikin sendiri,” ujar Sita Tyasutami.
Bali dipilih sebagai lokasi festival karena memiliki daya tarik yang kuat bagi peserta maupun penonton dari berbagai daerah dan negara. Pada awalnya, NIFF dirancang untuk berpindah dari satu kota ke kota lain setiap tahun. Namun, penyelenggara melihat bahwa festival masih membutuhkan waktu untuk membangun identitas dan jejaringnya.
“Awalnya kami memang merencanakan agar setiap tahun festival berpindah kota. Namun setelah melihat tahun lalu dan tahun ini, mungkin kami masih perlu minimal satu tahun lagi di Bali, yaitu 2027. NIFF masih baru, jadi kami perlu settle dulu secara nama dan brand agar gaungnya semakin besar sebelum kemudian pindah-pindah kota,” terang Sita Tyasutami.
Tema “Global Rhythms, Shared Stories” menjadi gambaran dari perjumpaan tersebut. Tari Bali, Jawa, Sunda, Minangkabau, Dayak dan tradisi Nusantara lainnya bertemu dengan Nihon Buyo dari Jepang, musik orkestra Polandia, seni tari Thailand, hingga Kapa Haka dari Selandia Baru.
Di Ubud, tradisi tidak datang sebagai benda masa lalu yang dipajang untuk dikenang. Ia datang dalam bentuk tubuh yang menari, musik yang dimainkan, suara yang dinyanyikan, serta pertemuan antarmanusia yang terus berlangsung.
Bagi NIFF, di situlah folklore menemukan maknanya. “Folklore itu tidak berhenti pada tradisi yang begini atau begitu. Folklore adalah bagian dari kebudayaan yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan manusianya,” ujar Curator NIFF 2026, Jasmine Okubo, Sabtu 26 September 2026.
Pandangan itu pula yang membuat festival ini tidak membatasi folklore hanya pada satu bentuk kesenian atau kelompok masyarakat tertentu. Komunitas keraton, komunitas rakyat, seniman muda, hingga kelompok seni dari berbagai daerah memiliki ruang yang sama untuk hadir.
Dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Indramayu, Dharmasraya, Palangka Raya hingga Dompu, mereka datang membawa cerita masing-masing. Dari luar Indonesia, Jepang, Selandia Baru, Polandia dan Thailand hadir membawa tradisi yang kemudian berjumpa dengan kebudayaan Nusantara.
Pertemuan itu berlangsung bukan hanya di atas panggung. Melalui berbagai workshop, para peserta saling belajar. Ada Kecak, tari Māori, Jaimasan Dance, hingga Fingernail Dance dari Thailand. Seni yang semula berasal dari ruang budaya yang berbeda kemudian bertemu di Ubud dan dipelajari bersama.
Artistic Director & Co-Founder NIFF, Maria Darmaningsih menjelaskan, perjumpaan semacam itu memperlihatkan bahwa seni memiliki bahasa yang melampaui batas negara. “Ketika kita menari, kita tidak menghidupkan perbedaan, tetapi justru melihat bahwa kita semua manusia sama,” ujarnya.
Selama dua hari itu, Ubud bukan sekadar lokasi penyelenggaraan festival yang menyajikan berbagai pementasa seni, tetapi menjadi ruang pertemuan.
Bagi penyelenggara, kehadiran di Bali juga membawa tanggung jawab untuk membangun hubungan dengan komunitas setempat. Mereka tidak ingin datang sebagai pihak luar yang hanya membawa acara, lalu pergi setelah panggung selesai. “Kami sebagai orang dari luar Bali harus menyadari bahwa kami adalah tamu. Jadi harus baik, harus seimbang. Semuanya harus selaras,” ujar Maria.
Dari panggung ke panggung, NIFF 2026 mencoba memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang telah selesai. Tradisi dapat terus bergerak, bertemu dengan tradisi lain, dipelajari oleh generasi baru, dan menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akar budayanya. Mungkin itulah yang membuat suasana festival seni budaya itu terasa berbeda. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali