UPMI Bali Pentaskan ‘Bima Swarga’: Ada Tokoh Kupu-kupu Pertanda Datangnya Spirit Leluhur

 UPMI Bali Pentaskan ‘Bima Swarga’: Ada Tokoh Kupu-kupu Pertanda Datangnya Spirit Leluhur

Kisah “Bima Swarga” yang ada di dalam sastra diangkat ke dalam seni pertunjukan. Seniman-seniman muda dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali menggarap kisah tersebut ke dalam seni pertunjukan sendratari. Garapan ini tentu diolah menjadi tontonan sekaligus tuntunan.

Sasolahan (pergelaran) bertajuk “Bima Swarga” ini disajikan dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII tepatnya di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis 5 Pebruari 2026. Iringannya, gamelan Semarandana yang begitu lembut, sejuk dan terkesan damai.

Sore itu, Gedung Kesirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali tempat pergelaran itu berdenyut. Penonton bertepuk tangan. Meski tak terlalu banyak, namun suara itu cukup membangkitkan semangat para seniman muda yang tengah berekpresi melalui gerak tari di atas panggung.

Maksud dan pesan moral disampaikan oleh para penari, diperkuat oleh seorang dalang, tukang tandak memperkuat aspek dramatic, dan pengkisahan dikuatkan alunan gending atau tembang oleh tiga gerong wanita.

Baca Juga:  PKB XLV dan FSBJ V 2023 Dielar Secara Berlanjut

Gamelan Semarandana yang dipilih menjadi iringannya, mampu memformulasi permainan nada-nada yang membuat garapan menjadi lebih hidup. Musik itu ditata, bukan hanya sebagai pengiring gerak, tetapi mampu pembangun suasana pada setiap adegan, mengatur ritme tari.

Termasuk mempertegas karakter tokoh yang ada. Iringannya memang ditata apik, sehingga mampu menyampaikan pesan cerita tanpa dialog kepada penonton, dan memperindah gerakan tari yang sudah dikoreo secara indah.

“Sendratari ini mengangkat karya sastra dari kearipan lokal Bali, yaitu Bima Swarga yang kemudian digarap menjadi karya seni sendratari yang mengacu pada tema Bulan Bahasa Bali VIII, yakni Atma Kerthi,” kata Art Direktor, Dr. I Gusti Darma Putra.

Sendratari Bima Swarga ini secara konsep alur berjalan, seperti biasa. Namun, dalam pergelarannya dapat dibagi 4 bagian. Pertama flash back, dan opening yang menghadirkan kebimbangan Bima yang tiba-tiba ingat dengan orang tuanya, yaitu Pandu dan Dewi Madri.

Baca Juga:  15-16 Januari 2022, Duta Orchid Garden Gelar Weekend Artisan

Pada bagian itu, mengisahkan Bima juga kebingungan tentang kehadiran kupu-kupu di lingkungan istana. Bahkan, dua kupu-kupu sempat menjadi perhatian, tetapi tidak dijelaskan kenapa ada kupu-kupu.

Bagian kedua, menghadirkan suasana di istana, dimana Pandawa dengan prajurit dan dayang sedang melaksanakan pertemuan. Di situ, tidak menghadirkan Dewi Kunti, tetapi langsung menghadirkan kebingungan dari Pandawa untuk menyiapkan keinganan Ibu Kunti.

Kunti ingin mengutus salah satu anaknya menuju ke Yama Loka mencari sesuatu untuk “menyupat mala”. Bima sempat marah karena tidajk ada yang bersedia. Bima kemudian menyadarkan saudaranya untuk bersama-sana pergi ke Swarga loka.

Bagian ketiga menghadirkan suasana di Yama Loka dengan tokoh Raksasa dan satu atma. Dalam adegan ini sarat dengan pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan di dunia.

Baca Juga:  Parade Gong Kebyar Wanita dan Anak-anak di Kota Denpasar Digelar 23-24 November 2024

Kemudian bagian keempat, menghadirkan perang di Yama Loka, dan ending. Dalam adegan ini, ada unsur dramatic, dimana Bima tidak mau mencakupkan tangan ketiga melakukan sembah bakti.

Gung Ade Dalang mengatakan, dalam garapan Bima Swarga ini pesan yang ingin disampaikan itu menukik pada tema besar. Namun, yang menjadi fokus dalam garapan itu juga mengekplor dari mascot yang dihadirkan dalam bulan Bahasa Bali VIII ini, yaitu Kupu-kupu.

“Maka itu, perjalanan Bima Swarga ini kami fromulasikan dengan kepercayaan kearipan local Bali dengan keberagadaan kupu-kupu. Ada kebercayaan kalua ada kupu-kupu masuk ke pekarangan rumah itu artinya ada tanda bahwa leluhur datng,” ungkapnya.

Kupu-kupu dihadirkan di awal garapan, bagian tengah dan bagian akhir pada bagian keempat, saat adegan peperangan Cikrabali dengan kupu-kupu. Itu artinya spirit para leluhur bisa memberikan jalan kepada pretisentana atau keturanan untuk mencapai apa yang diinginkan melalui spirit tersebut.

Baca Juga:  Persahabatan Seni Kolaborasi Bali Malaysia Watercolor Art Exhibition 2024

“Atma Kerthi pemuliaan dan pemurnian jiwa, dan kontek cerita Bima Swarga itu pada intinya menyupat dari Maharaja Pandu dan Dewi Madri untuk di linggihkan di Pemerajan Agung untuk diupacai,” jelasnya.

Intinya, Tim Kesenian UPMI Bali ini mengkorelasikan apa yang diilhami bersama tentang keberadaan kupu-kupu itu. Hanya menjadi kode yang tidak lumbrah, namun kini dihadirkan di dalam ajang Bulan Bahasa Bali.

“Maka kita coba ramu dan munculkan kepercayaan yang kini mulai pudar, dimana ada kupu-kupu ke rumah itu petanda leluhur memantau dari alam sana untuk memberikan spiritnya. Leluhur itu hadir sebagai spirit, sehingga ada jiwa yang berjuang untuk melanjutkan kehidupan lebih baik,” paparnya.

Koordinator pergelaran I Gede Gusman Adi Gunawan mengatakan, sasolahan Bima Swarga ini didukung sebanyak 53 penari dan penabuh merupakan mahasiswa Jurusan Seni, Drama, Tari, dan Musik Jurusan Sendratasik) serta dosen.

Baca Juga:  Generasi Muda Penasaran Cara Penggunaan Aksara Bali di Baligrafi: Workshop Baligrafi di Bulan Bahasa Bali VIII

Kendala karena ini programa baru mahasiswa di semester ganjil masih kuliah pratek sehingga pereper perkuliahan. Menariknya karya ini secara koseptual dikreatori Gung Ade Dalang, koreografer Dek Gung, dan komposer Ketut Lanus.

Mahasiswa dilibatkan sebagai penata gerak. Mahasiswa masing-masing mengerjakan koreografinya, namun tetap dibimbing oleh dosennya. Selain perngalaman menggarap, mereka akan mendapat apresiasi para dosen. [B/puspa]

Related post