BaliSpirit Festival 2026: Rumah Bagi Ribuan Jiwa dari Seluruh Penjuru Dunia

 BaliSpirit Festival 2026: Rumah Bagi Ribuan Jiwa dari Seluruh Penjuru Dunia

BaliSpirit Festival 2026, program musik malam yang menyala/Foto: ist

INI menarik! Mendekati penghujung pelaksanaannya, energi BaliSpirit Festival 2026 semakin terasa, mendalam dan beragam. Orang-orang yang hadir boleh saja berbeda kulit, agama dan keyakinan, tetapi pada saat terlibat dalam ajang itu mereka merasakan suasana bathin yang sama.

Itulah yang terasa pada hari ketiga pelaksanaan BaliSpirit Festival, Sabtu 18 April 2026. Panggung pertemuan antara tradisi spiritual, gerak tubuh, seni, dan dialog lintas budaya semuanya bersatu dalam semangat festival yang menjadi rumah bagi ribuan jiwa dari seluruh penjuru dunia.

“BaliSpirit bukan soal siapa yang membuatnya, tapi bagaimana setiap komunitas bias menciptakan ruang untuk saling bertukar, tumbuh, dan berkarya bersama. Semangat menjadi fondasi festival,” kata founder, I Made Gunarta.

Ketika mulai dibuka pagi hari dengan sesi-sesi yang memadukan eksplorasi fisik dan spiritual, pengunjung memilih kegiatan yang disukainya. Walau itu berbeda, tetapi tujuannya sama yakni membangkitkan dan menyuburkan potensi setiap individu untuk perubahan positif di dalam diri (spirit).

Free Your Voice & Heal Your Body/Mind bersama Janet Stone melalui suara dan gerakan, sementara Primal Moves oleh Vaughan di River Dome mengajak peserta kembali ke kecerdasan tubuh yang paling mendasar.

Di Grove Main Stage, Superflow: Ocean-Inspired Yoga bersama Eion Finn mengalirkan energi laut ke dalam praktik yoga yang dinamis dan penuh kebebasan.

Lucid Flow: Lakṣmī Maṇḍala Masterclass + Live Music bersama Christian Dimarco, Daniela Mandala, dan Dion di Lotus, serta Art of Lightness Part II: Exploring Strength, Balance & Inversions oleh Ferry Sidabalok melanjutkan perjalanan dari sesi sehari sebelumnya menuju eksplorasi yang lebih mendalam tentang keseimbangan dan kekuatan batin.

Dimensi spiritual dan lintas tradisi turut hadir kuat di hari ini. Peace Begins with Me oleh Mutaz Al Qasim di Peace Garden membuka ruang bagi refleksi kedamaian yang dimulai dari dalam diri.

Baca Juga:  “Megandu” Sambut HUT Museum Subak Tahun 2020

Islamic Prayer for Peace dan Community Universal Prayer for Peace oleh Divine Indwelling Collective memperkuat karakter BaliSpirit sebagai festival yang merangkul seluruh tradisi dalam harmoni.

Pada siang hari, para peserta mengikuti workshop dan kelas yang menawarkan ragam pintu masuk yang kaya. Temanya sangat beraga, diantaranya : Soul Purpose Through the Birth Chart: A Vedic Astrology Workshop oleh Zia Kusumawardini, Intro to Classical Tantra oleh Ashton Szabo.

Lalu, ada The Art of Making Canang Sari Offerings oleh Putu Mahagiri (Love Quad), Biodynamic Breathwork oleh Giten Tonkov, Tending the Flame of Deep Feminine Power oleh Sarah-Jane PermanAlchemy of Grief: Transforming Pain into Purpose oleh Danielle Fisser.

Selanjutnya, ada Sacred Union Talks: Redefining Relationships oleh Dean Powell dan Turn Your Story Into a Stage Magnet oleh Jaymin Patel.

Talk: Rumi’s Spiritual Journey oleh Muhammad Nur Jabir di World Peace Garden menjadi salah satu program paling dinantikan pada hari itu.

Dalam diskusinya, Ustad Nur Jabir mengingatkan ajaran tasawuf Rumi menawarkan cara pandang yang melampaui perbedaan lahiriah: kebenaran bagaikan cermin yang jatuh ke bumi dan pecah—setiap orang memegang serpihan yang sama, dari sumber yang satu.

“Banyak perbedaan yang dilihat dari pakaian luarnya. Tapi kalau dari dalamnya, semua sama. Harapannya, dengan belajar ajaran ini, kita bertemu di batin,” ujar Muhammad Nur Jabir, Sufi Scholar & Presenter, BaliSpirit Festival 2026.

Sesi Repair: The Skill No One Taught Us oleh Jitesh Patel di World Peace Garden turut mengangkat tema yang relevan: bagaimana manusia belajar memperbaiki hubungan—dengan diri sendiri dan orang lain sebagai keterampilan hidup yang sering terlupakan.

BaliSpirit Festival 2026 pada sesi konferensi pers/Foto: dar

BaliSpirit dibawa ke Charlotta

Baca Juga:  “Ubud Folkfest” Musisi dan Seniman Dunia Tampil di Ubud

Pada sesi konferensi pers itu, Gunarta menyebutkan BaliSpirit Festival juga mencerminkan langkah baru yang tengah dirintis: pengalaman BaliSpirit akan mulai dibawa ke Charlotta, dengan tetap mengutamakan keterlibatan komunitas local sebagai jantungnya.

Lalu, tentang rencana BaliSpirit Festival dilaksanakan di berbagai daerah untuk mendukung destinasi di Indonesia, Gunarta menegaskan di bawa kemana-mana pun itu tidak masalah. Tetapi templitnya yang mesti disesuaikan.

Misalnya di laksanakan di Surabaya, maka tetapi mengedepankan spirit Surabaya. Demikian pula jika itu dilaksanakan di Bandung, maka kearipan local Sunda yang menjadi spiritnya. Intinya, bisa kemana-mana, tetapi harus ada local community, sehingga bisa keluarkan lokal genius dan lokal wisdomnya.

Melengkapi konferensi pers, Media Center juga menghadirkan sesi Where Love Becomes the Path: Sufism According to Rumi and Maulawiyah bersama Muhammad Nur Jabir, sebuah perbincangan intim tentang cinta sebagai jalan spiritual.

Sore harinya, Live Jammings bersama Yanda Novendra menghadirkan ekspresi musik organik yang mengalir bebas bersama komunitas.

Program musik malam yang menyala

Malam hari ketiga menjanjikan rangkaian musik yang memadukan semangat, spiritualitas, dan perayaan kolektif.

Berbagai panggung kembali menyala dengan penampilan dari musisi local dan internasional yang membawa warna beragam dari world music, sacred sound, hingga beat elektronik yang menggerakkan tubuh dan jiwa bersama.

Spirit Pool, Tea Temple, dan Grove Main Stage masing-masing menjadi semesta musical tersendiri, mengundang setiap peserta untuk larut dalam pengalaman malam yang tak terlupakan. [B/dar]

Related post