Tampil di PKB 2026, Komunitas Seni Baturenggong Angkat Kearipan Lokal Desa Mengwi
Komunitas Seni Baturenggong duta Kabupaten Badung siap tampil di PKB tahun 2026/Foto: ist
PARADE Gong Kebyar dalam perhelatan tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu menjadi primadona. Maka tak heran, setiap jadwal parade gong kebyar panggung terbuka Ardha Candra selalu penuh penonton. Namun, yang menjadi tantangnnya adalah para duta kabupaten dan kota di Bali yang harus menyiapkan sajian terbaiknmya. Sebut saja Kabupaten Badung yang kali ini mempercayakan Komunitas Seni Baturenggong, Desa Delod Peken, Desa dan Kecamatan Mengwi tengah mempersiapkan sajian terbaiknya.
“Kami sangat serius mempersiapkan diri untuk nanti tampil di ajang PKB 2026. Komunitas Baturenggong akan tampil bersama dengan duta Kabupaten Gianyar yang dijadwalkan pada 8 Juli,” kata Ketua Komunitas Seni Baturenggong, I Gede Wira Andika bersama Koordinator Kegiatan Komunitas, I Gede Purnama Eka Saputra, Sabtu 9 Mei 2026.
Sebagai duta seni yang dihandalkan daerahnya, Komunitas Baturenggong yang didukung penabuh muda dengan umur 17 tahun hingga 27 tahun itu bakal menampilkan sajian seni terbaru. Tiga sajian utama, seperti tabuh lelambatan, tari kreasi dan pragmentari semuanya mengangkat kearipan local, khususnya Mengwi. “Penampilan kali ini, kami melibatkan mengangkat 147 pendukung termasuk crew,” ungkapnya.
Karena keseriusan itu, persiapan latihan dilakukan bukan hitungan mingguan. Latihan dilakukan sejak Januari hingga semua materi sudah tembus. Apalagi, tampilnya nanti berdampingan dengan Duta Kabupaten Gianyar maka persiapkan dilakukan secara ketat dan sangat matang. “Sesungguhnya, semua materi sudah tembus semua tinggal menyamakan rasa saja,” ujarnya.
Gede Purnama Eka Saputra mengatakan, materi yang diangkat disesuaiakan dengan materi PKB, yaitu tabuh lelambatan lima kreasi yang mengangkat history Mengwi yang menjadi pusat Kerajaan Mengwi. Desa ini memiliki banyak sumber cerita yang menjadi pilihan untuk disesuaikan dengan tema PKB tahun 2026 ini. Tabuh lelambatan disajikan sebagai tabuh lawas kekunoan berpadu history keberadaan Mengwi.
Sementara tari kreasi mengangkat kearipan local “Masepuh”, sebuah pura lengkap dengan situsnya ada di Desa Seseh. Warga Bali, bahkan beberapa dari Jawa sering melakukan persembahyangan di sini. Si Masepuh ini merupakan putra Raja Mengwi. Kuburan Masepuh juga masih ada, dan itu berada di Desa Seseh, Munggu dan sampai kini masih saja ada yang melakukan ziarah.
Sedangkan untuk pragmentari mengangkat kisah Jero Luh, sebuah pertapaan rangda, ritus yang masih ada di Pura Dalem Mengwi. Jero Luh, seorang wanita dari seorang pelayan hingga menjadi sungsungan masyarakat Desa Mengwi. “Di Mengwi ini ada banyak cerita, yang nantinya diangkat disesuaikan dengan tema PKB Atma Kerthi, pemuliaan terhadap jiwa,” ucapnya.
Untuk menggarapnya, komunitas seni yang berdiri sejak 2010 itu mempercayakan kepada para seniman local yang masih memiliki kedekatan. Kebetulan para penggarap ini juga menjadi pilihan Lstibya Mengwi. Mereka, bukan saja orang local Badung, tetapi kebetulan juga sebagai pengampu di Komunitas Baturenggong.
Mereka adalah I Wayan Widia, I Ketut Rudita, Ngurah Sutanaya sebagai penata dan pembina tabuh lelmbatan; lalu sebagai penata dan pembina tari kreasi, yaitu I Nyoman Wira Dharma Yoga, I Putu Oka Rudiana, I Putu Leslyani dan I Putu Yuandika. Selanjutnya penata dan pembina pragmentari, yaitu Kadek Karunia Artha, Ni Putu Ari Sidiastini, I Made Aristanaya dan Suyoga.
Pemulihan Komunitas Baturenggong sebagai duta Kabupaten Badung bukan sekedar tunjuk, melainkan karena ada rod mat dari Pemerintah Kabupaten Badung, yang dikomandani Dinas Kebudayaan. Setiap kecamatan di Kabupaten Badung mendapat kesempatan untuk tampil, termasuk Kecamatan Mengwi. Lalu, Komunitas Baturenggong dulunya dipercaya tampil dalam ajang Gelar Budaya Kabupten Badung 2024 mewalili Mengwi. Namun karena adanya kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat, maka Gelar Budaya ditiadakan.
“Padahal kegiatan berlatih sudah kami lakukan sejak awal untuk dapat tampil baik pada Gelar Budaya itu, tetapi tidak mendapat kesempatan pentas. Ternasuk batal pada Gelar Budaya 2025. Karena Kecamatan Mengwi mendapat giliran mewakili Badung dalam parade going kebyar, maka Listibya memberikan kesempatan itu. Batal tampil di Gelar Budaya Badung, akhirnya tam,pil di ajang PKB,” paparnya senang.
Gede Purnama Eka Saputra mengaku, dalam penampilan di PKB 2026, Komunitas Baturenggong lebih banyak menampilkan anak-anak muda yang umurnya antara 17 tahun hingga 27 tahun. Menariknya, pendukungnya 99 persen sebunan. Dua penabuh itu hanya dari luar desa, bukan dari luar kecamatan atau kabupaten. Lagian, mereka merupakan loyalitas Komunitas Baturenggong. “Kalaupun 100 persen local, kami mampu menampilkan sekaa sebunan, tetapi kami ingin menghargai anggota lyal, makanya diajak,” tutupnya. [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali