Kreativitas Anak Muda Bali Bergelora di Panggung Tari Modern FSBJ VIII

 Kreativitas Anak Muda Bali Bergelora di Panggung Tari Modern FSBJ VIII

PANGGUNG Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, dipenuhi energi dan kreativitas para penari muda saat Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII digelar, Senin 13 Juli 2026. Dari pagi hingga siang menjelang sore, 18 kelompok tari bergantian menampilkan karya-karya yang memadukan teknik modern dengan gagasan artistik yang beragam.

Tidak ada dua pertunjukan yang benar-benar sama. Ada yang mengusung hip-hop, salsa, breaking, ballroom, hingga sentuhan K-Pop. Sebagian memilih pendekatan teatrikal dengan membangun alur cerita melalui gerak tubuh, komposisi panggung, serta permainan musik. Meski menggunakan genre yang serupa, setiap kelompok tetap menghadirkan identitas dan interpretasi yang berbeda.

Antusiasme penonton pun terasa sejak penampilan pertama hingga peserta terakhir. Irama musik yang enerjik beberapa kali mengundang tepuk tangan mengikuti ketukan lagu, sementara koreografi yang dinamis membuat suasana kompetisi semakin hidup.

Lomba yang menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani VIII bertema “Kembara Sukma Atma Kerthi: Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci” ini menjadi ruang bagi seniman, pelajar, dan komunitas tari untuk mengeksplorasi gagasan baru dalam bingkai tari modern yang tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.

Tim Kreatif Festival Seni Bali Jani, I Kadek Wahyudita, S.Sn., M.Sn., mengatakan seluruh peserta mengikuti lomba melalui mekanisme pendaftaran terbuka tanpa proses kurasi. “Tahun lalu pesertanya 12 kelompok, sekarang meningkat menjadi 18 kelompok. Peserta masih didominasi komunitas dari Denpasar, Badung, dan Gianyar,” ujarnya.

Peningkatan jumlah peserta menunjukkan minat komunitas tari modern di Bali terus berkembang. Sejumlah komunitas yang telah dikenal, seperti Naluri Manca, Pancar Langit, Seven Pro Entertainment, dan kelompok lainnya kembali meramaikan kompetisi.

Dalam perlombaan ini, peserta diberi kebebasan mengeksplorasi berbagai gaya tari modern, mulai dari hip-hop, salsa, cha-cha, ballroom, breaking, hingga K-Pop dan pendekatan teatrikal. Namun, seluruh karya tetap harus menempatkan tari modern sebagai identitas utama.

Tiga dewan juri, yakni Ni Made Suparmi, I Ketut Gede Agus Adi Saputra atau Adi Siput, serta Christ, menilai kreativitas peserta tahun ini mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.

Menurut Ni Made Suparmi, kreativitas dan eksplorasi tema menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian. Selain itu, koreografi, teknik gerak, keserasian, ekspresi, tata rias, kostum, hingga keutuhan penyajian turut menentukan kualitas sebuah karya.

“Peserta sejak awal sudah diberikan pedoman penilaian melalui technical meeting agar memahami aspek-aspek yang menjadi perhatian dewan juri,” katanya.

Meski demikian, pelaksanaan lomba tahun ini tidak lepas dari kendala. Jadwal yang bertepatan dengan dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) membuat beberapa kelompok yang telah mendaftar akhirnya mengundurkan diri.

Adi Siput juga melihat adanya peningkatan kualitas dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia menilai sebagian peserta masih belum maksimal memanfaatkan ruang panggung Gedung Ksirarnawa.

“Penguasaan panggung sangat penting karena akan memperkuat penyampaian konsep karya kepada penonton maupun dewan juri,” ujarnya.

Bagi para peserta, kompetisi ini bukan sekadar mengejar prestasi. Sanggar Seni Pancar Langit, misalnya, menurunkan dua kelompok, Nariswari 1 dan Pancar Kumara, sebagai bagian dari pembinaan penari muda.

“Tujuan utama kami memberikan pengalaman lomba kepada anak-anak. Mereka tidak hanya belajar tari tradisi, tetapi juga mendapat kesempatan mengikuti kompetisi tari modern,” kata Gung Mas.

Sementara itu, Seven Pro Entertainment menghadirkan karya berjudul ASCEND, yang mengangkat perjalanan manusia mencari jati diri. Koreografi memadukan hip-hop, tari modern, serta sentuhan visual bernuansa Bali. Permainan drum menjadi simbol detak kehidupan dan konflik batin, sedangkan permainan warna emas pada kostum menghadirkan identitas Bali tanpa harus menampilkan gerak tari tradisional secara langsung.

Manajer sekaligus pelatih Seven Pro Entertainment, Tutut Angga Pratama, mengatakan karya tersebut menjadi pengalaman baru bagi timnya.

“Selama ini kami lebih banyak bergerak di dunia hiburan. Di FSBJ kami ditantang menghadirkan karya yang memiliki landasan filosofi sesuai tema. Unsur Bali kami hadirkan melalui visual kostum dan permainan warna, bukan melalui gerak,” ujarnya.

Baca juga:

Melalui Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani VIII, kreativitas generasi muda Bali kembali menemukan panggungnya. Beragam karya yang lahir tidak hanya memperlihatkan kemampuan teknik para penari, tetapi juga menunjukkan bahwa seni modern dapat berkembang berdampingan dengan nilai-nilai budaya lokal. Ajang ini pun semakin mengukuhkan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang tumbuh bagi kreativitas seni kontemporer di Bali. [darma]

Related post