January 23, 2022
Kreasi

Tiga Koreografer Muda Sajikan Garapan Tari Sarat Pesan

Indah dan menginspirasi. Sajian tari kontemporer oleh para mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu begitu fantastis. Masing-masing koreografer mengangkat ide yang berlian, kemudian dituangkan ke dalam garapan tari kreatif. Penonton terkesima dibuatnya, lalu memberikan apresasi. Itulah penampilan tiga karya seni tari kontemporer yang dipentaskan di depan Gedung Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Senin 27 Januari 2020. “Pentas seni ini sebagai wadah kreatifitas, agar tidak menunggu satu event saja. Ajang ini ingin memberikan tempat buat temen-temen agar terlepas dari belenggu batasan yang dirasakannya,” kata Arta Saputra penggagas acara pentas seni ini.

Karya seni Bidak Isolasi, karya I Gede Adi Mahendra mengawali acara pentas seni itu. Dalam pentas kali ini, merupakan penampilan yang kedua kalinya, sehingga tampil lebih sempurna. Sebelumnya, Bidak Isolasi merupakan tari kelompok, tetapi kali ini dipentaskan dalam bentuk Trio (tiga penari). Tari ini mengisahkan keresahan diri dalam mengkritisi sosial kehidupan sekelilingnya, seperti iklim politik, pengisolasian diri dari pergaulan (mengasingkan seseorang dalam kegidupannya). “Manusia di era sekarang itu bukan lagi seperti makhluk hidup yang utama, melainkan seperti catur, mengandalkan segala cara untuk mengalahkan lawan,” terang Adi Mahendra.

Penampilan karya seni kedua berjudul Juang, merupakan karya dari Kadek Karunia Artha. Karya tari ini terinspirasi dari kata-kata seorang ibu yang kerap mengatakan, kalau kamu ingin sesuatu, maka kamu harus berjuang. “Juang dalam bahasa Bali dapat diartikan sebagai ambil Kalau bahasa Indonesia artinya usaha. Nah, tidak ada yang instan, segala sesuatu harus ada ada pengorbanan,” ungkap Kade Karunia Artha.

Penampilan berikutnya adalah Tari Bandel, yang disajikan oleh I Nyoman Kharisma Aditya Hartana selaku koregrafer. Tari ini terinspirasi dari fenomena anak-anak yang masih bersekolah di tingkas dasar (SD). Anak itu memiliki sifat bandel, karena jarang dan kurang mendapat pendidikan dari orangtua. “Lewat karya ini, saya ingin mengajak penonton untuk berfikir dan hati-hati mendidik anak-anak. Jika salah, mendidiknya maka fatal akibatnya. Maka dari itu, orang tua harus mendidik anaknya dengan hati-hati,” ucap Kharisma Aditya Hartana. (B/AD)

Related Posts